Dan ada seorang wanita muda dengan senyum malu-malu berdiri di sebelah kiri kursi roda mama mertuanya. Dress putih selutut dengan dua kantong besar menggambarkan jelas siapa dirinya. Ibu Anike benar, penampilannya sangat biasa dan wajahnya kalah cantik dengan Ibu Anike. Tapi, bentuk alisnya melengkung indah. Membingkai wajahnya yang berahang kotak menjadi lembut dan teduh dipandang.
“Itu kenapa saya mau sulam alis, Mbak. Saya mau ketika suami saya bangun di pagi hari, saya sudah cantik. Jadi, dia sadar kalau saya jauh lebih baik dari suster itu,” katanya sambil menunduk. Air mukanya seketika berubah. Tak ada lagi intonasi yang menggebu dan memaksa. Ia justru terdengar seperti orang yang lelah.
Aku pulang menuju daerah Daan Mogot dengan mobil pribadiku. Jalanan menjelang magrib di Jalan Panjang memang tidak pernah menyenangkan. Macet, terutama di depan gedung salah satu perusahaan televisi berbayar. Tapi justru kali ini aku menikmatinya karena aku jadi punya waktu untuk memikirkan Ibu Anike dan alisnya yang akan kusulam esok. Alisnya yang hanya setengah dari bentuk alis pada umumnya menjadi keuntungan dan kerugian bagiku.
Alis yang biasa ia buat memang bagus, tapi tetap saja aku merasa bentuknya tidak cocok dengan wajahnya. Tapi, jika bentuknya diubah, Ibu Anike belum tentu suka dan percaya diri dengan hasilnya karena ia terbiasa dengan alis buatannya. Sebenarnya itu bukan masalah besar. Lambat laun ia pasti akan menyukainya. Yang terpenting orang lain tidak merasa aneh melihat wajahnya dan dapat membaca karakter Ibu Anike hanya dengan melihat mukanya.
Tapi, bentuk seperti apa yang cocok? Hhh... akhirnya aku merasakan ketakutan dalam melakukan pekerjaan ini. Aku menepikan mobilku di sebuah toko roti di perempatan jalan. Secangkir kopi. Ya, aku butuh secangkir kopi sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Topic
#fiksifemina