Fiction
Cerpen: Sulam Alis

11 Jun 2017



Lega. Satu pelanggan lagi yang puas dengan hasil kerjaku. Tinggal satu lagi. Wanita yang berhasil membuat Indy, sekretaris yang paling pendiam, naik pitam. Setelah wanita paruh baya itu keluar, tak lama Indy masuk.
“Mbak, ini pasien yang aku bilang tadi, ya,” katanya ketus. Wanita yang dimaksud Indy memutar manik matanya. Ia berjalan masuk ke ruangan sambil menabrak bahu Indy. Sengaja.
“Terima kasih, ya, In. Kamu boleh pulang duluan.”
Kata-kataku membuat Indy kembali mengatupkan mulutnya yang hampir mengatakan sesuatu. Indy kemudian mengangguk. Ia menyerahkan kartu registrasi wanita itu, lalu keluar ruanganku dengan langkah lebar.

Advertisement
“Lama banget, sih, Mbak,” kata wanita berwajah oriental itu, sambil menarik kursi.
“Maaf, ya, Bu, sudah menunggu lama. Proses sulam memang sekitar satu jam. Tapi, kalau jam sembilan pagi Ibu registrasi seperti pasien yang lain, Ibu enggak perlu nunggu lama, lho. Soalnya sekretaris jadi bisa kasih estimasi waktu berapa lama lagi Ibu harus menunggu. Jadi, Ibu bisa jalan-jalan dulu.”
Penjelasanku tak dihiraukan oleh wanita itu. Ia malah mengutak-atik telepon genggamnya.
 “Bu, hari ini kita konsultasi dulu saja, ya. Pengerjaannya besok pagi.”
Kok, gitu?”
“Soalnya jam kerjanya sudah habis, Bu. Kalau saya kerjakan sekarang, jadi tidak adil untuk orang lain yang datang terlambat seperti Ibu. Lagi pula, Ibu harus cek alergi dulu, sedangkan tim kesehatannya sudah pulang dari jam 11 tadi.”
Wanita itu mendengus kesal, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
 


Topic

#fiksifemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?