Setelah seharian berkendara menembus gurun, kami berjalan-jalan di bawah bulan purnama di dermaga, tempat banyak perahu putih diparkir di Port el Kantaoui. Pemanduku, Youssef, meremas dan mencium tanganku. Aku menatap ke laut, dan melihat Maut berselancar di antara ombak. Youssef bertanya apakah aku masih ingin mati.
Aku bisa saja berkata, “Tadi siang, ketika aku melihat belukar berguling di gurun, aku melihatnya seolah-olah dalam gerakan lambat, berguling dan berguling, menembus padang kuning yang menghampar luas, begitu riang, ringan, dan bebas, dan aku berpikir, hidup bisa jadi seperti itu, aku bisa saja terus hidup.”
Tetapi, aku hanya diam. Aku cuma berkata, “Yuk, kita menyelinap ke salah satu perahu dan bercinta.”
Di sinilah para peziarah kuno biasa berdoa sambil menunggu giliran memasuki Kuil Apollo. Aku duduk di blok marmer yang menguning, menatap tiga tiang penyintas gempuran zaman dan gunung di belakangnya. Setelah itu, aku mencuci tangan dan wajah di mata air Castalia. Konon, siapa pun yang meminum airnya akan menjadi bijak. Dan aku minum, sebanyak mungkin sebelum merasa kembung. Kulihat bahkan seorang anak kecil membotolkannya.
Di altar Apollo, pemohon mesti mengorbankan sesuatu yang berharga dan menuang anggur. Kutebas rambutku. Kutuang anggur yang kubawa dalam botol air. Aku hanya bisa berharap, Apollo menghargai pengorbananku.
“Apollo yang agung, dewa kesembuhan,” aku memohon, “apakah aku bisa pulang?”
Topic
#fiksi, #cerpen