Ternyata, kota itu sama sekali tidak hijau. Ia sesak dengan gedung apartemen dan toko-toko tua. Di rumah, aku berdiri di balkon, menatap ke bawah, ke jalan yang sama abu-abunya dengan atap-atap, dinding-dinding, dan seluruh dunia. Sesekali kulihat seorang laki-laki, jauh di bawah sana, melambai dengan genit agar aku terjun kepadanya. Aku tidak bisa benar-benar melihat wajahnya, tetapi aku merasa dia pasti tampan, karena dia terbungkus aura misteri. Dia terus-menerus memanggilku.
Matanya menangkap mataku dari seberang ruangan. Dengan sikunya ia membuka jalan ke hadapanku. Mata hijaunya adalah warna pertama yang kulihat dalam dunia kelabu ini. Bercinta dengan Etienne bagai membunuh naga di tengah lidah-lidah api yang menari, sekaligus berlari di padang rumput yang bermandi embun pagi. Tiap kali kubuka mata, ia menuangkan dirinya kepadaku bagai bijih besi merah panas.
Pagi harinya, kuelus punggungnya sehalus lereng ski, ia mengucapkan selamat pagi penuh sayang, dan aku tahu aku harus pergi ke Paris.
Topic
#fiksi, #cerpen