Terbayang wajah ibunya yang berbaring pucat. Dokter sudah memberi tahu, Ibu tak lagi punya banyak waktu. Ia sesungguhnya tak terlalu percaya keajaiban, tapi ia teringat kata-kata Romo Pambudi, “Bila pun kamu tak percaya doa, tak ada salahnya bila kamu mendoakan ibumu.”
Di sela kesibukannya mengurus paroki, Romo yang santun dan penuh perhatian itu selalu menyempatkan mengunjungi ibunya yang sudah berbulan-bulan menjalani kemoterapi dan kondisinya makin lemah. Barangkali doa memang tidak menyembuhkan, tetapi membuat kita tidak kehilangan harapan.
Saat tahu ia akan ke Roma untuk urusan pekerjaan, Ibu berharap ia menyempatkan mengunjungi Katakombe Santa Fallecia yang diceritakan Romo Pambudi. “Lagi pula, Nak, doa tak pernah sia-sia,” suara ibunya lemah. Tapi, doa tak bisa menyelamatkan perkawinan Ibu.
Ibu, wanita Jawa yang sabar, menikah dengan lelaki yang lebih banyak menghabiskan kesibukan di luar rumah dan meninggalkannya untuk menikah dengan wanita yang lebih muda, tetapi tak lebih cantik. Ia saat itu berusia dua tahun lebih tua dari Westi, adiknya yang masih TK. Ibu menjadi begitu pendiam, dan kesehatannya dengan cepat menurun.
Ia menyangka ibunya terlalu mencintai lelaki itu, mengharapkannya kembali. Setelah ia masuk kuliah barulah menyadari, bukan lelaki itu yang membuat Ibu nyaris sepanjang hari berdiam diri, tetapi karena tak ingin anak-anaknya tahu
tentang penyakitnya.
Topic
#cerpen, #fiksifemina