“Ayo, buka jendelanya,” kata lelaki itu. Ia agak ragu mulanya. Namun, ia pun mengangguk. Dan, tiap ia berhasil membuka jendela itu, dunianya seketika kembali dapat ia raih, meski sesungguhnya ia tidak tahu mana dunianya yang sesungguhnya mana yang bukan.
“Matahari pagi selalu baik untukmu, Vonil.” Ia tersenyum mendengar namanya bergetar di bibir lelaki itu. Vonil, bisiknya sambil memandang jauh ke luar, menarik napas dalam-dalam. Itulah ia. Perempuan yang kembali hidup.
“Aku akan siap-siap pergi ke Jalan Angsa,” katanya tiba-tiba, dengan suara riang kepada lelaki yang telah berdiri di sampingnya. Ia mengatakan tentang rencana pergi ke toko buku bersama Lalit. Pasti sudah banyak buku baru di sana. Lalit suka membaca.
“Tidak, tidak,” katanya, “Lalit senang diajak keluar sarangnya.” Lalit jelas bukan burung, tapi begitulah ia telah menyebut rumah mungil Lalit di kompleks pinggiran kota itu. Di rumah itu, Lalit sendirian. Tidak punya keluarga dan teman. Ia kesepian di sarangnya itu. “Sebentar lagi semua akan selesai,” katanya kepada Lalit, “dan kau bisa mengepakkan sayap dengan bebas.”
Lalit tidak terlalu antusias menanggapinya dan malah mengeluh tentang perutnya yang makin sesak. Bayi di perut itu tentu makin besar dari hari ke hari.
“Sabarlah,” katanya, membujuk Lalit. Pada saatnya semua akan berlalu dan bayi itu akan keluar dari sana. Bayi yang mungkin saja memiliki rambut gelap dan pipi yang putih. Lalit tidak bicara. Lalit memang jarang berbicara dengannya selain soal buku fiksi yang dibacanya.
Topic
#fiksifemina