BARA MULAI GELISAH. Berkali-kali mengusap wajah. Pandangannya tak pernah lepas menatap pertigaan jalan di hadapannya dengan sorot tajam dan tarikan napas tertahan. Malam sudah naik sepertiga waktu, namun seseorang yang dinantinya belum juga terlihat di ujung jalan sana. Bara mendekatkan wajahnya ke kaca. Menengadah ke langit malam. Bulan yang tadi bersinar cerah kini tinggal setengah tertutup awan. Perlahan rintik gerimis mulai turun. Memerciki wajah Bara yang menempel di kaca mobil yang tak tertutup rapat. Masih dengan keyakinan yang sama Bara menyandarkan kembali tubuhnya di jok mobil. Melipat kedua tangannya di dada erat-erat. Btari pasti akan menemuinya malam ini, entah jam berapa, ia akan terus menunggu.
SETELAH MENGIRIM SEBUAH PESAN MELALUI PONSELNYA, Btari beranjak meninggalkan ruang kerjanya, menuruni anak tangga demi anak tangga kayu yang berderit halus saat diinjak, kemudian melangkah pasti menuju sebuah kamar dengan bias halogen yang mulai meredup. Diputarnya handle pintu yang tidak pernah terkunci itu perlahan. Mendorong daun pintu itu ke dalam. Pelan… sangat pelan. Hati-hati sekali. Tak ingin menimbulkan bunyi.
Perlahan Btari berjalan mendekati tempat tidur yang berada di sudut ruangan. Tak ada keraguan yang tebersit di wajah dan langkahnya sama sekali. Dengan lembut Btari menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menyusup perlahan masuk ke dalam selimut. Tangannya bergerak pelan merangkul tubuh yang sedang tertidur pulas dengan posisi membelakanginya. Mencium rambut lelaki itu dengan rasa sayang. Rasa yang baru saja ditemukannya.
“Maafkan aku, Mas Radit! Telah menyia-nyiakan kamu selama ini,” bisik Btari lembut, tepat di telinga Radit.
Btari tak menyadari, lelaki yang sedang dirangkul dan diciumnya itu masih terjaga dalam kesadaran. Radit dapat mendengar dengan jelas bisikan lembut Btari di telinganya. Merasakan hangatnya pelukan dan ciuman Btari yang datang padanya. Hati Radit bergolak. Antara percaya dan tidak. Tapi, Radit tidak ingin membuat keadaan ini cepat berakhir. Dibiarkan saja Btari membelai rambutnya dengan sayang. Menikmati kebahagiaan yang menjalar cepat di hatinya seperti embusan angin yang lewat. Radit kini yakin, ke mana Btari akan melabuhkan hatinya.
“Ah… bidadari kecilku, terima kasih untuk keikhlasanmu yang kini datang padaku tanpa paksaan. Berbaringlah di sini terus bersamaku.”
Taman kota. 22.00 WIB
DI SAAT KEGELISAHAN mulai memuncaki batin Bara, sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke dalam telepon genggamnya, dari Btari. Dengan cepat Bara membuka pesan itu, dan mulai membaca.
“Bara… lama aku berpikir dan akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanmu, atau lebih tepatnya permintaanmu di rumah sakit seminggu yang lalu. Kamu masih ingat pembicaraan kita di kafe tentang aurora borealis? Sampai detik ini aku masih terkagum-kagum tiap mengingat keindahan cahaya utara yang kau ceritakan itu, yang hanya dapat disaksikan di bulan-bulan tertentu di Alaska.
Maafkan aku, Bara… aku telah memilih. Aku harap kali ini kita bisa benar-benar melepas dengan ikhlas.”
Kepala Bara langsung terjatuh lemas di kemudi. (Tamat)
Baca juga:
Cerber: Sebatas Aurora [1]
Cerber: Sebatas Aurora [2]
Topic
#FiksiFemina