“Huh….” Radit menengadah tinggi-tinggi. Memejamkan mata kuat-kuat. Mengembuskan napas berulang-ulang. Sedetik kemudian dibawa tubuhnya berbalik arah, melangkah setengah berlari, menuju jalanan beraspal di belakang mereka berdiri. Tempat mobilnya terparkir dengan tenang sejak setengah jam yang lalu. Menghidupkan mesin. Menginjak gas dengan cepat.
Pelang-pelang toko, lampu-lampu jalan yang mulai dihidupkan, jalanan yang dilewati, berubah menjadi potongan slide. Satu per satu terpampang jelas, bergerak mundur di ingatan Radit.
Pesta pernikahan sederhana tiga bulan yang lalu.
Dengan wajah bahagia ia berdiri di antara rangkaian lili dan mawar putih. Kamar rumah sakit dengan dinding putih bersih dan aroma alkohol yang menyengat disulap menjadi begitu indah dan hidup. Mengenakan brokat putih gading dengan ujung yang menjulur panjang menyapu lantai, serta rambut disanggul sederhana dengan rangkaian melati terselip di antara helaiannya, Btari berdiri dengan anggun di sampingnya, menyalami beberapa kerabat yang hadir. Tidak ada hari seindah hari itu. Hari ketika ia menikahi Btari dan menjadi sempurna sebagai seorang laki-laki.
Di kamar rumah sakit tiga hari sebelum pernikahan.
Bunda terbaring lemah di ranjang, dengan selang yang berseliweran tertancap di beberapa bagian tubuh. Setelah hampir satu pekan Bunda koma setelah menjalani operasi pengangkatan kanker otak stadium akhir, satu-satunya yang membuat Bunda kembali dalam kesadaran adalah sebuah keinginan. Permintaan terakhir yang benar-benar mengejutkan semua orang yang menunggui Bunda siang dan malam. Sambil memandang lemah, Bunda meminta ia dan Btari untuk mendekat. Dengan bibir yang bergetar dan suara pelan nyaris tertelan, Bunda memintanya untuk selalu menjaga Btari dengan menikahinya. Pagi itu, sambil menggenggam tangan dingin Bunda, ia mengangguk haru. Sementara Btari terpojok di tepi ranjang, tanpa suara maupun ekspresi yang bisa dibaca.
Getar pertama 12 tahun lalu
Sejak pertama kali melihat Btari, di depan pintu rumahnya, dua belas tahun yang lalu, hati lelaki kecilnya sudah dapat merasa, ada yang berbeda dalam caranya memandang gadis kecil yang terus tergugu pilu dalam dekapan Bunda, yang juga terlihat murung di balik balutan kerudung hitamnya, siang itu. Pelan… namun pasti, ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisik-bisik itu pun mulai terdengar. Harum tanah merah itu juga masih tercium samar. Pemakaman itu baru saja usai. Gempa dahsyat telah mengubur kedua orang tua Btari di dalam reruntuhan puing-puing rumah mereka sendiri. Beruntung Btari selamat dari kejadian itu, karena sedang dalam perawatan dii rumah sakit. Tidak ada saudaranya di Yogyakarta yang sanggup mengurusi gadis kecil dengan penyakit jantung bawaan sejak lahir, selain Bunda yang hanya seorang sahabat karib ibunya. Detik itu juga ia tersentuh. Berjanji dalam hati tanpa seorang pun yang tahu. Ia akan menjaga gadis kecil itu, dengan caranya. Membuat wajah melankolis yang sarat duka itu tersenyum bahagia, hingga lesung pipinya yang indah dapat menggaris tajam di wajah. Janji seorang lelaki kecil yang baru saja belajar dewasa.
Topic
#FiksiFemina