Tanpa sadar, putaran roda mobil telah memasuki halaman rumah tropis dengan jendela-jendela besar yang terpasang hampir di tiap dindingnya. Rumah yang ditempatinya bersama Btari sejak tiga bulan yang lalu. Radit menginjak rem dengan cepat. Bergegas keluar dari dalam mobil. Melangkah setengah berlari, melintasi hamparan rumput di halaman, menjejak di lantai keramik teras depan yang dingin, memutar handle pintu dengan cepat, mendorong daun pintu itu ke dalam.
Dengan cepat Radit mendekat, mendorong pintu kayu yang tak tertutup rapat itu dengan jantung bergemuruh kencang. Berharap kali ini ia dapat menemukan Btari di dalam sana. Tapi… baru setengah pintu didorongnya ke dalam, mendadak napas Radit tercekat. Langkahnya tertahan. Apa yang ditemukannya di pojok ruangan benar-benar membuatnya tak percaya. Btari, dia ada di sana. Tubuh itu tertunduk lemas, membenamkan wajah di kedua lengan yang dipangku di atas meja. Sementara sebuah pigura yang membingkai wajah Bunda tergenggam di tangannya. Sangat pelan, nyaris tak terdengar, suara tangisan Btari terdengar bagai sayatan pisau yang mengiris gendang telinga Radit. Isak kesedihan yang sudah lama sekali tidak pernah didengarnya sejak 12 tahun yang lalu, di bulan-bulan awal Bunda membawa Btari dari Yogyakarta ke rumah mereka di Jakarta. Radit benar-benar trenyuh. Begitu tersiksakah Btari? Begitu jahatkah dirinya selama ini?
Topic
#FiksiFemina