“Rian, selamat Natal.” Suara laki-laki di telingaku membuatku terperanjat. Jelas-jelas itu bukan suara ibuku.
Tapi, sungguh kukenal suara itu. Badanku langsung merasa gemetar. Mulutku berat untuk berucap.
“Haloo, halo… Rian.”
“Untuk apa kau meneleponku?” tiba-tiba aku bisa berbicara lagi. Ketus sekali.
“Aku mau mengucapkan selamat Natal.”
“Kau sudah mengucapkannya tadi. Itu sudah cukup.”
“Kau tidak membalasnya.”
“Tak ada yang perlu dibalas.”
“Rian, jangan sekejam itu. Kau tidak tahu bahwa selama ini aku merindukanmu.”
Aku hampir menangis mendengar ucapannya itu. Apa arti rindunya itu untukku saat ini?
“Kau… kau sudah menikah. Kau sendiri yang memilih meninggalkan aku. Kau tidak berhak lagi mengatakan itu.”
“Aku hanya ingin jujur, Rian. Aku memang masih mencintaimu,” dia terus bersikeras untuk mencurahkan isi hatinya. Aku marah dan sedih.
“Cukup! Aku tidak butuh pengakuan tololmu itu!” bentakku, sambil menutup telepon.
Di sebelahku, Tigor memandang dengan wajah gundah. Dia pasti sudah bisa menebak, siapa yang meneleponku. Aku tak tahan untuk tak menangis.
Tigor hanya duduk diam di kursinya. Ketika akhirnya tangisku reda, wajah sedih Tigor membuatku makin merasa bersalah.
“Aku sangat cemburu,” katanya. Suaranya terdengar putus asa.
Aku ingin meraih tangannya dan mengatakan bahwa aku menangis bukan karena aku masih mencintai Parulian. Tapi tak kulakukan. Sesuatu di dalam diriku membuatku tak mampu mengatakan itu, tanpa merasa berbohong padanya.
“Aku tidak sengaja. Mungkin aku memang belum sepenuhnya melupakan dia,” aku memilih mengakui perasaanku sebenarnya.
Kudengar napasnya berat. Tapi dia tetap diam saja, membuatku tersiksa. Sungguh lebih baik kalau dia marah dan mengatakan apa saja. Tapi dia diam saja, membuatku tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Lebih baik kita pulang saja. Sudah malam.” Akhirnya dia berbicara, tapi bukan sesuatu yang kuharapkan.
“Kau marah?” tanyaku pelan. Sekarang aku bisa menyentuh jemarinya. Dia tak membalas sentuhanku. Dia memandangku dengan tatapan yang tak dapat kupahami maknanya.
“Ya. Aku marah dan cemburu,” katanya datar.
“Lalu mengapa kau diam saja?” tanyaku sedih.
Dia memandangku kesal.
“Apa kau mau aku mencacimu, supaya kau tahu kalau aku marah?! Apa kau senang kalau aku mengasarimu?” tanyanya dengan suara rendah.
Tak ada lagi suara ke luar dari mulutku.
Kurasakan mobil mulai berjalan. Dia tak lagi berkata apa-apa. Sepanjang perjalanan kami diam saja. Kemesraan tadi bagai lenyap terbawa angin.
Tiba di depan rumahku, dia mengantar sampai ke teras. Tatapannya sendu.
.****.
Topic
#fiksifemina