Sekarang dia memandangiku. Aku jadi jengah.
“Aku senang sekali,” katanya pelan. Aku menunduk malu.
“Aku sudah tak yakin bisa bertemu lagi denganmu. Tiba-tiba kau muncul begitu saja di depan mataku,” sambungnya. Aku tertawa mendengarnya.
“Waktu SMA aku memang sangat bodoh. Aku selalu berkhayal untuk mengobrol denganmu. Tapi begitu melihatmu, otakku seperti kosong, mulutku pun seperti beku, tak bisa dibuka,” dia mengenang sambil tersenyum. Aku terbahak.
“Aku sama bodohnya. Entah kau tahu atau tidak, bahwa aku pernah nyaris menabrak tiang, hanya karena gugup melewati kelasmu,” aku membuat pengakuan dengan suara pelan. Dia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku, membuat wajahku terasa panas karena malu.
Aku sebenarnya ingin sekali ke rumahmu. Tapi, sepupumu tak pernah lagi mengajakku. Mau pergi sendiri, aku malu. Rasanya tersiksa setengah mati,” akunya setelah puas tertawa.
Aku jadi merasa geli. Sudah begitu sering kami mengobrol, tapi baru sekarang dia mau bercerita tentang perasaannya dulu.
Aku terkenang kelas konseling itu. Parulian di sampingku, Tigor di depanku. Masa itu….
“Hidup ini memang misterius,” keluhku, sambil berusaha menepis kenangan itu.
Kami diam lagi beberapa saat. Lalu dia kembali berbicara.
“Apa kau sudah bisa memaafkan dia?” pelan sekali suaranya. Mungkin dia khawatir aku marah mendengar pertanyaan itu. Tapi aku tak marah. Sudah saatnya kami membicarakan itu.
“Tadi dia mengirimiku pesan. Cuma ucapan selamat Natal, tapi aku langsung merasa sedih,” ujarku berterus terang.
Aku menanti dia mengatakan sesuatu. Tapi dia diam saja.
Aku mengembuskan napas yang sejak tadi bagai tertahan. Kulirik jam tanganku, sambil meraih telepon genggam yang berdering dari dalam tas. Sepuluh dua puluh, pasti Mamak yang menelepon, mengucapkan selamat Natal. Tanpa melihat lagi ke layar, segera kuterima telepon itu.
Topic
#fiksifemina