“Kau kujemput jam lima sore.”
Adikku habis-habisan menggodaku. Cinta lama bersemi kembali, katanya. Aku tersipu-sipu, tak bisa menjawab kalau sudah dia yang mengganggu. Maka, aku pura-pura tak peduli dan buru-buru berjalan ke teras. Lebih baik aku menunggu ke sana, daripada harus mendengar godaan si usil itu.
Jam lima kurang lima menit.
Sebuah pesan masuk. 0811556….… Aku terpana. Aku sungguh ingat nomor siapa itu.
“Selamat merayakan Natal, Rian. Semoga sekarang kau sudah memaafkanku.”
Semangatku langsung melorot ke titik nol. Aku duduk lemas di kursi. Hampir dua tahun berlalu, tanpa mendengar kabar apa pun darinya. Sore ini, hanya sebaris pesan darinya, tiba-tiba membuatku merindukan dirinya.
Apakah di bawah sadarku, aku masih mencintainya?
Belum sempat berpikir lama, Tigor sudah tiba di depan pagar. Aku menegakkan tubuh yang tadi sempat lunglai, berharap dia tak melihat kegundahanku. Kupasang senyum terbaik yang bisa kubuat di saat seperti ini.
“Langsung berangkat, ya?” pintanya. Aku mengangguk. Kurasakan genggamannya di jemariku. Hatiku berdebar, malu-malu kupandang dia dan dengan gemetar balas menggenggam tangannya. Dia memandangku sambil tersenyum senang.
Untuk mengajakku ke acara Natal ini, dia sudah meminjam mobil kakaknya. “Supaya rambutmu tidak rusak karena helm,” katanya kemarin waktu mengajakku.
“Kau cantik sekali,” katanya, sambil tersenyum.
Aku memalingkan wajahku yang memerah. Tak tahan mendengar pujiannya.
Usai kebaktian, kami tak bisa segera pulang. Kulihat Tigor bersama beberapa orang, bergotong-royong merapikan kembali letak kursi, sementara beberapa orang lainnya terlihat sibuk membersihkan lantai. Aku sendiri cuma duduk saja di bangku paling belakang, sambil mengamati mereka.
Di mobil dalam perjalanan pulang.
“Mau jalan-jalan sebentar?” dia menawarkan.
“Bukan ke panti asuhan atau panti jompo, ‘kan?” tanyaku khawatir.
Dia tersenyum kecil, lalu menjawab, “Bukan. Mengapa kau bisa menduga begitu?”
“Ini malam Natal. Siapa yang tahu kau ini Sinterklas atau bukan,” ujarku menggoda, membuat dia tertawa.
Dekat sebuah taman, dia memarkirkan mobil. Kami tetap duduk di dalam mobil, membiarkan jendela terbuka, hingga angin malam masuk dengan bebas.
“Masih mau ikut denganku besok?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng. Menduga bahwa remang cahaya bisa membuatnya tak melihat gerakan kepalaku, aku akhirnya berkata, “Tidak. Aku mau ke gerejaku saja.”
Kulihat dia mengangguk, tak mencoba membujukku. Apakah dia kecewa?
Topic
#fiksifemina