Selama lebih dari tujuh dekade, perupa Jepang ini mengubah titik, jaring, cermin, labu, dan pola repetitif menjadi bahasa visual yang dikenal hampir di seluruh dunia.
Namun, menyebut Kusama hanya sebagai “perupa polkadot” jelas terlalu sederhana.
Jauh sebelum karya Infinity Mirror Rooms menjadi magnet museum dan fenomena media sosial, Kusama sudah menantang dunia seni yang didominasi laki-laki kulit putih.
Pada tahun 1957, ia meninggalkan Jepang menuju Amerika Serikat dan masuk ke dunia seni avant-garde New York.
Di sana, ia mengembangkan lukisan Infinity Nets, instalasi, patung, happening arts, hingga karya pertunjukan yang berani mempertanyakan seksualitas, perang, tubuh, dan batas antara seni dengan kehidupan.
Kusama juga datang dengan sesuatu yang sangat personal: Pengalaman halusinasi visual yang ia alami sejak kecil.
Ia menjadikan pengalaman tersebut bahan bakar artistiknya. Titik-titik yang seolah memenuhi ruang, pengulangan tanpa akhir, dan permukaan yang memantulkan tubuh penonton menjadi cara Kusama menerjemahkan pikirannya sendiri menjadi sebuah pengalaman universal.
Di sinilah pengaruhnya terhadap seni dunia menjadi begitu besar. Kusama membantu memperluas gagasan tentang apa yang bisa dilakukan sebuah karya seni. Lukisan tidak harus berhenti di kanvas; patung tidak harus menjadi objek yang hanya dilihat dari luar.
Sebagai perempuan Asia di tengah dunia seni Barat yang sangat maskulin pada era 1950-an dan 1960-an, perjalanan Kusama juga memiliki arti historis.
Ia tidak menunggu institusi seni memberinya tempat. Ia menciptakan dunianya sendiri, mempertahankan bahasa visual yang sangat khas, dan pada akhirnya membuat institusi seni dunia datang kepadanya. Museum seperti The Museum of Modern Art mengakui posisinya dalam perkembangan Pop Art, Minimalisme, seni feminis, dan praktik seni konseptual.
Setelah kembali ke Jepang pada 1973, ia memilih tinggal secara sukarela di fasilitas psikiatri sejak akhir 1970-an, sambil tetap bekerja di studio dan konsisten menghasilkan karya. Bahkan ketika ia mencapai popularitas, ia tidak mengubah fondasi praktiknya.
Karya Kusama masuk ke ruang publik, desain, fashion, hingga budaya populer. Kolaborasinya yang begitu populer dengan rumah mode mewah Louis Vuitton memperlihatkan bagaimana seorang perupa kontemporer dapat membawa bahasa seni ke dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitas visualnya.
“Ide saya adalah mengirim pesan tentang cinta abadi kepada semua orang di dunia melalui polkadot,” kata Kusama saat diwawancarai W, yang menambahkan bahwa gender dan popularitas tidak ada hubungannya dengan pesan itu.
Hari ini, satu titik Kusama mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika titik atau polkadot itu dikalikan ribuan, memenuhi ruangan, memantul di cermin, dan membuat manusia merasa kecil sekaligus tak terbatas, Kusama mengubah pengalaman paling personal menjadi keindahan tanpa batas.
Yayoi Kusama telah pergi. Namun dunia yang ia ciptakan—penuh titik, cermin, warna, repetisi, dan ketakterhinggaan—masih terus memantulkan dirinya kepada generasi berikutnya. Selamat beristirahat dalam kedamaian tak terhingga, sang perupa.... (f)
Baca juga:
Legasi Dolly Parton Tak Hanya untuk Musik Dunia
Anya Madiadipoera, Pewaris Napas Seni Keluarga Nuarta
Passion di Balik Lensa Raja Siregar
Zornia Harisantoso