Bukan hanya tentang mencari modal dan mengurus biaya operasional sehari-hari, tapi juga bagaimana mengembangkan usaha, baik lewat pinjaman ke bank dan mencari investor maupun maupun dengan kemampuan membesarkan aset dan menekan biaya.
Financial literacy pun jadi hal penting sebagai materi edukasi dalam program UMKM Naik Level Bareng POLYTRON.
Di Seri 4 Jakarta pada 21 Agustus lalu di Aroem Resto & Cafe, Polytron menggelar kelas Cerdas Finansial: Mengelola Arus Kas dan Strategi Menekan Biaya untuk Bisnis Kuliner, yang dihadiri Polypreneurs dari berbagai usaha kuliner, serta diikuti Polypreneurs luar Jabodetabek melalui webinar.
Mematahkan mitos
Vina Julita Wijaya, Head of Public Communications Polytron, membuka kelas dengan menjelaskan data riset lapangan yang ada dalam UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level, hasil kolaborasi Polytron dengan platform riset Populix.Data Handbook tersebut menyoroti realitas ekosistem UMKM kuliner di Indonesia, salah satunya dari sisi finansial. Ternyata, 80% UMKM adalah start-up atau perintis, dan 63% dari mereka mengandalkan dana pribadi saat memulai usaha, dan sering mendapat asumsi keliru.
“Handbook ini secara tajam mematahkan 5 mitos utama, disandingkan langsung dengan fakta lapangan,” ungkap Vina Julita Wijaya, tentang survei yang diluncurkan di Surabaya beberapa waktu lalu.
Deretan mitos itu adalah “Harus Punya Banyak Cabang” (justru bisa membahayakan bisnis jika belum punya sistem dan SOP), “Pinjaman Modal Sulit Didapat” (padahal akar masalahnya literasi finansial), “Harga Produk Makin Mahal” (karena produksi belum efisien), serta Omzet Besar = Pasti Aman (ternyata ada jebakan The Hidden Cost).
Satu lagi mitos yang ada di benak UMKM kuliner adalah “Harus Pakai Peralatan Mahal.” Sebenarnya, kuncinya bukan soal harga mahal, melainkan investasi alat yang tepat.
Data di Handbook menunjukkan, 60% UMKM belum memiliki produk elektronik pendukung. Padahal 40% UMKM yang sudah menggunakannya merasakan peningkatan kecepatan pelayanan (68%) dan efisiensi bahan baku (50%).
Andalan baru dari Polytron KitchenMate
Mencegah risiko hidden cost dan aset prematur, Polytron menyediakan produk tahan lama (durable) seperti Chest Freezer (kapasitas 100-300 liter) untuk ketahanan bahan baku, serta Showcase (190-1000 liter) untuk display maksimal.Di kelas Seri 4 ini, Felita Septian Giovani, Product Specialist Polytron, menjelaskan dua produk baru Polytron yang bisa jadi andalan bisnis kuliner rumahan. Ada KitchenMate Oven Listrik kapasitas 22 liter yang praktis, serta KitchenMate Low Carbo Rice Cooker.
Low Carbo Rice Cooker dengan ukuran 1,8 liter ini memasak nasi dengan teknologi Low Carbo, sehingga nasi yang dihasilkan lebih rendah gula. Nasi pun hangat dan bebas basi hingga 48 jam. Rice cooker ini juga bisa jadi alat masak dengan fitur 21 menu otomatis.
Polypreneurs bisa mengakses semua produk ini, termasuk Dispenser, dengan harga khusus melalui program POLYPRENEUR Exclusive Deal dengan diskon hingga 40% untuk produk katalog khusus UMKM POLYPRENEUR Exclusive Deal - Polytron Official (cek di sini).
Seimbang antara ego dan kebutuhan bisnis
Di sesi berikutnya, UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 4 menghadirkan sharing inspiratif bersama Tissa Aunilla, Co-Founder Pipiltin Cocoa, dan kelas edukasi finansial mendalam bersama Kreshna Manggala, Learning & Development Lead MWX Indonesia.Tissa Aunilla membagikan perjalanan sukses jenama cokelat lokal yang mengangkat biji kakao cita rasa tinggi asal Nusantara langsung dari petani lokal.
Tisaa bercerita bahwa egonya sebagai mantan eksekutif kantoran sukses yang membuka bisnis itu begitu tinggi, sehingga cash flow sempat jadi tantangan utamanya di awal menjalankan Pipiltin.
“Lama-lama, saya sudah bisa mem-balance antara ego dan kebutuhan bisnis,” ungkap Tissa, yang pernyataannya beresonansi banget dengan pelaku UMKM bermodal dana pribadi.
“Jujur, Waktu itu financial literacy saya belum baik. Namun sekarang, sambil terus menjaga integritas, kualitas dan terus melakukan R&D, Pipiltin bisa terus bermimpi [mengembangkan usaha], dan mimpi itu diturunkan menjadi target per tahun, per bulan, dan seterusnya,” kata Tissa.
Ilmu praktis bebas boncos
Setelah itu, workshop finansial bersama Kreshna Manggala jadi sesi yang ditunggu-tunggu Polypreneurs, agar mereka bisa mengelola arus kas secara presisi dan bebas boncos.Kreshna merinci langkah-langkah praktis dan strategis yang perlu diterapkan UMKM, mulai dari membedakan secara tegas antara omzet, profit, dan uang tunai di tangan, hingga menerapkan sistem penggajian diri yang profesional agar keuangan pribadi dan bisnis tidak tercampur.
“Bagi pengusaha kuliner, kebocoran [biaya] yang tidak terlihat itu kadang tidak disadari. Entah porsi tidak seragam dari gramasinya, sampai alat menyala sepanjang hari,” jelas Kreshna, yang mengundang banyak anggukan dari Polypreneurs.
Kreshna menegaskan, “Literasi keuangan jadi hal penting dalam usaha—putuskan [biaya] apa yng dipertahankan, diperbaiki atau ditekan, tanpa menghilangkan trust kepada pelanggan. Kedudukan tertinggi adalah trust, dan sebagai pengusaha, paling mahal adalah kehilangan pelanggan.”
Polypreneurs juga dibekali panduan untuk menjaga rasio belanja bahan baku di kisaran ideal 30%-35%, dan tentunya kesempatan untuk berkonsultasi praktis.
UMKM Naik Level Bareng Polytron bukan hanya menjawab seluruh tantangan operasional dan kebutuhan transformasi bisnis seperti yang dibahas di Seri 4, tapi juga bagian dari ekosistem pendukung yang komprehensif bagi Polyprenerus (kelas edukasi gratis, kesempatan review oleh top food vlogger, special tenant package).
Bagi para pelaku UMKM yang sudah mendaftar program dan tertarik untuk menikmati seluruh ekosistem solusi ini, jangan lupa aktif secara digital, berpartisipasi di komunitas, serta merapikan branding dan legalitas. Satu lagi, jangan lupa pakai produk Polytron untuk memastikan operasional yang efisien dan profesional. (f)
Baca juga:
UMKM Naik Level Bareng Polytron Seri 3 Bandung: Dapat Banyak Ilmu Baru tentang Operasional dan Omnichannel
UMKM Naik Level Seri 2 Surabaya: Brand Makin Kuat dengan Storytelling dan Tidak Gengsi Belajar
Ini Dia Rahasia Bisnis Kuliner Anti-Gagal, Dibahas Tuntas di Kelas Edukasi UMKM Naik Level Bareng Polytron
Zornia Harisantoso