Foto: Accenture
“Banyak wanita yang membuat kue dan memasarkan lewat media sosial. Di angkatan anak-anak saya yang usia remaja, sudah mulai banyak remaja perempuan yang berminat untuk mengambil jurusan computer science. Kabarnya, banyak universitas yang memiliki jurusan teknik mulai menerima lebih banyak mahasiswa baru yang wanita. Dengan peluang yang terbuka seperti ini, semoga kedepannya makin banyak lagi wanita yang berkecimpung di dunia teknologi,” kata lulusan Teknik Industri ini.
Retno sendiri bekerja di Accenture karena saran dari kepala jurusannya saat kuliah. Dulu Accenture bernama Andersen Consulting. Nyatanya, ia sangat menyukai apa yang ia kerjakan. Ia dapat membantu banyak klien. Berdasarkan leading practice, ia menganalisis proses apa yang dapat ditingkatkan agar lebih efisien atau proses apa yang memerlukan lebih banyak pengawasan. Kemudian, ia akan membangun sistem yang tepat untuk dapat mendukung proses bisnis di perusahaan tersebut.
“Pada saat-saat sekarang, teknologi lebih diperlukan lagi, misalnya Analytics untuk menganalisis data secara cepat dan tepat, memberikan insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan bisnis. Contohnya, dari data tentang tren perbaikan suatu mesin di pabrik, kita dapat menganalisis parameter yang mempengaruhi daya tahan mesin, dan memprediksi kapan mesin tersebut sebaiknya perlu diperbaiki dengan melakukan simulasi What-If dari parameter-parameter tersebut,” kata Retno.
Ia melanjutkan, yang lebih canggih, dulu data-data semacam itu disimpan di suatu perangkat keras yang harus dibeli perusahaan dengan investasi awal yang sangat besar dan jangka waktu pemakaian sekitar 5 tahun. Sekarang, data-data disimpan di Cloud. ‘Perangkat keras’ tersebut tidak lagi berupa investasi besar di awal, melainkan akan menyesuaikan dengan pertumbuhan perusahaan.
Retno memandang, teknologi akan selalu menjadi bagian penting dalam bisnis. Strategi bisnis dan teknologi tidak lagi dapat dibedakan. Salah satu hal yang ingin ia fokuskan pada karirnya adalah menerapkan tren teknologi terbaru, terutama di bidang Cloud. Menurutnya, Cloud adalah salah satu teknologi yang paling disruptive dan mampu memberikan nilai tambah. Ini adalah fondasi dari transformasi digital.
Industri teknologi yang sangat dinamis memungkinkan Retno mendapatkan banyak pengalaman berharga. Suatu proyek rata-rata memerlukan waktu sekitar empat hingga delapan bulan. Dalam jangka waktu dua tahun, bisa jadi ia sudah mengerjakan proyek untuk dua atau tiga perusahaan yang bergerak di industri berbeda dan proses bisnis yang bervariasi pula. Atau, bisa jadi ia mengerjakan beberapa proyek berbeda tapi di satu perusahaan yang sama. Secara total ia sudah mengerjakan proyek di lebih dari sepuluh perusahaan di berbagai industri, baik di dalam maupun di luar negeri.
“Yang menarik, industri ini mendorong kita untuk terus mengasah pemikiran. Kita ditantang untuk memberikan yang terbaik dan terus belajar karena selalu ada hal yang baru, karena teknologi terus berkembang. Jika wanita mau bergelut di industri yang berkaitan dengan teknologi, tantangan terbesarnya justru datang dari diri sendiri. Apakah kita mau belajar untuk yakin bahwa kita mampu?” kata Retno, yang sudah 20 tahun berkarya di Accenture.
Retno merasa, keberhasilan yang telah diraihnya selama ini tidak akan bisa dicapai jika tidak ada dukungan yang luar biasa besar dari keluarga, rekan kerja, dan timnya. Ibunya, yang seorang ibu rumah tangga, merupakan penyemangat terbesarnya untuk terus berkarya.
“Bagi saya, keluarga sangat penting dan utama, tetapi alangkah baik kalau kita dapat memanfaatkan bekal yang sudah diberikan kepada kita saat sekolah untuk tetap berkarya. Sekarang keadaan sudah lebih mudah, karena anak-anak saya sudah remaja dan mereka sudah lebih mandiri. Saya berharap nantinya bisa tetap berkarya dan dapat memberikan inspirasi bagi lebih banyak wanita Indonesia untuk terus maju dan berkarya,” kata Retno, yang sangat bersyukur karena memiliki keluarga sangat suportif. (f)
Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih (Kontributor - Jakarta)
Baca Juga:
Febriany Eddy: Melihat Kesempatan di Setiap Tantangan
Kado Hari Ibu, 2 Srikandi Ilmuwan Indonesia Ini Raih Penghargaan Internasional
Dewi Nur Aisyah, Pakar Epidemologi Moderen Wanita Satu-Satunya yang Dimiliki Indonesia
Topic
#wanitafemina, #accenture, #profil, #wanitaaktif