Ketertarikannya pada beragam budaya mendorongnya menjelajahi berbagai belahan dunia, mulai dari Jerman, Prancis, Italia, India, Sri Lanka, Mesir, hingga Jawa dan Bali pada 1919.
Jawa dan Bali jadi tujuan Kleen karena ia penasaran pada budaya kedua tempat itu. Saat tinggal di Paris, ia pernah menonton pertunjukan tarian eksotis Mata Hari (mata-mata terkenal di era Perang Dunia I), yang mengaku terinspirasi tarian putri kerajaan dari Jawa dan India.
Tentu saja Kleen tidak menemukan ‘inspirasi’ dari tarian Mata Hari di Solo dan Bali. Ia justru terpikat pada tarian dan budaya di Jawa dan Bali, yang direkamnya dalam ilustrasinya, serta foto-foto.
Kini, sebagian kecil karya Tyra Kleen selama di Jawa dan Bali pada 1919-1921 dipamerkan di UPfinity Level 85 di UP at Thamrin Nine, Jakarta.
Diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, Tyra Kleen – A Swedish Artist Celebrating Indonesian Culture: A Journey Through Java and Bali 1919-1921, menghadirkan kembali karya-karya pilihan Tyra Kleen, sebagai perupa, penulis, fotografer, dan peneliti budaya, ke Indonesia.
Bekerja sama dengan Etnografiska Museet Stockholm atau Museum Etnografi Stockholm, pameran ini menampilkan reproduksi karya seni dan fotografi pilihan dari perjalanan Kleen di Jawa dan Bali pada tahun 1919 hingga 1921, salah satu periode penting dalam perjalanan seninya.
Pada masa tersebut, Kleen mendalami berbagai tradisi lokal, terutama tari keraton dan praktik spiritual, yang ia dokumentasikan melalui gambar, litografi, dan fotografi.
Ilustrasi para penari Serimpi karya Kleen sangat apik—menampikan detail ornamen kostum penari, hingga siluet gerakan tangan dan tubuh para penari. Begitu pula dengan seri ilustrasinya tentang penari Bali, lengkap dengan lirikan matanya.
Di pameran ini kita juga bisa menikmati foto-foto Kleen tentang Bali, yang memberikan gambaran lebih dekat mengenai para penari, pemuka agama, serta kehidupan sehari-hari di Bali di awal dekade 1920-an.
Sebenarnya foto-foto itu lebih kepada dokumentasi perjalanannya. Namun bidikan lensa Kleen bisa menangkap ungkapan hati Jawa dan Bali dalam era kolonial. Kita bisa ikut merasakan bagaimana Kleen menangkap objek seninya, yang kemudian dia hadirkan di antara seni dan dokumentasi.
“Karya-karyanya menunjukkan ketertarikannya yang mendalam terhadap budaya, seni, dan spiritualitas Indonesia, sekaligus memberikan sudut pandang yang luar biasa mengenai hubungan antara Swedia dan Indonesia,” ujar Daniel Blockert, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan ASEAN, saat pembukaan pameran pada 8 September 2026.
Sebagai bagian dari perayaan 76 tahun hubungan diplomatik antara Swedia dan Indonesia, pameran ini membawa kembali karya Kleen ke negeri yang menginspirasinya, dan jadi bukti bagaimana seorang perempuan berani mendahului zamannya.
Melihat goresan tangannya sebagai ilustrator (sementara aliran lukisannya bergaya Symbolism dan Art Nouveau), terbayang kalau Kleen hidup di era sekarang, ia bakal sering jadi kolaborator berbagai jenama fashion.
Bisa melihat karya Kleen yang dibuat di Jawa dan Bali seabad lalu bukan saja memperkaya inner artistry kita tapi juga mendapatkan POV berbeda dari insan seni tentang pra-Indonesia.
Pameran di UPfinity Level 85 di UP at Thamrin Nine, Jakarta, ini berlangsung sampai 30 September 2026. (f)
Zornia Harisantoso