Bagi Kei Imazu, artis perupa asal Jepang, peristiwa ini melahirkan inspirasi yang tak semata soal tenggelamnya Batavia, tapi juga ambisi kolonial di balik pelayaran kapal dan segala isinya, termasuk dahagi atau mutiny yang terjadi di atas kapal itu.
The Sea Is Barely Wrinkled atau Laut Nyaris Tak Beriak adalah pameran tunggal museum pertama Imazu di Indonesia, yang berlangsung di Museum MACAN.
The Sea (kanan bawah). Foto: Dok. Femina, Liandro Siringoringo
Kini berbasis di Bandung, Imazu mengonfigurasi ulang lapisan-lapisan sejarah, alam, dan memori, menggabungkannya ke dalam karya-karya yang sarat akan makna serta mengeksplorasi bagaimana gema masa lalu beriak ke masa kini untuk membentuk masa depan.
Judul pameran ini diambil dari Mr. Palomar (1983), novel karya penulis Italia, Italo Calvino. Di dalam novel tersebut, laut menjadi metafora bagi kesinambungan dan kedalaman, tenang di permukaan, namun penuh arus tak terlihat di bawahnya.
Hal ini tak ubahnya eksplorasi artistik Imazu terhadap sejarah: Berlapis dan terus berubah di bawah permukaan yang terlihat.
Saat memasuki instalasi pameran ini, kita seperti berada di bawah laut, melihat sosok bangkai kapal Batavia, serta isi kapal itu yang hanyut di lautan luas melalui lukisan-lukisan Imazu, termasuk gerbang megah dari Belanda yang harusnya menghiasi Pelabuhan Sunda Kelapa.
The Sea Is Barely Wrinkled berakar pada riset intensif Imazu terhadap kawasan Sunda Kelapa di Jakarta Utara, yang dulunya pelabuhan penting dari masa ke masa; mulai dari pusat perdagangan maritim pada masa pra-kolonial hingga masa kekuasaan VOC.
Tenggelamnya kapal Batavia dieksplorasi Imazu sebagai gema dari ambisi kekuasaan kolonial dengan kerentanan kondisi ekologis kawasan pesisir Jakarta masa kini, di antaranya banjir musiman, turunnya permukaan tanah, dan tantangan lingkungan lainnya yang terus membentuk masa depan kota ini.
"Latar belakang sejarah Jakarta bikin perasaan saya campur aduk," kata Kei Imazu, di acara peluncuran The Sea Is Barely Wrinkled bulan lalu.
The Sea. Foto: Liandro Siringoringo
Merespons pada konteks yang berlapis ini, Imazu menciptakan apa yang ia sebut sebagai 'peta waktu'—sebuah kerangka visual yang lepas dari garis waktu linear, untuk menunjukkan bagaimana masa lalu, masa kini, dan masa depan saling terhubung secara mendalam.
"Melalui praktik artistiknya, ia merangkai mitologi, ekologi, dan ingatan dalam jalinan yang tak lekang oleh waktu dan sangat relevan dalam kehidupan kita hari ini. Pameran ini menghadirkan ruang bagi publik untuk merenungkan hubungan kita dengan alam yang kerap kali terabaikan, serta sejarah berlapis yang membentuknya," ujar Venus Lau, Direktur Museum MACAN, mengutip rilis pers.
Imazu memadukan teknik melukis tradisional dengan manipulasi digital dan pemodelan tiga dimensi, dengan merujuk pada peristiwa, arsip, dan artefak bersejarah, serta mitologi lokal untuk mengeksplorasi hubungan antara kolonialisme, perubahan lingkungan, dan perkembangan urban.
Sejak menetap di Indonesia pada tahun 2018, Imazu terinspirasi oleh cara masyarakat lokal memandang sejarah, bukan sebagai sesuatu yang statis dan terpisah di masa lalu, melainkan sebagai sesuatu yang hidup dan diwariskan melalui tradisi lisan, ritual, dan alam.
Di instalasi pameran ini, kain voal yang lembut dalam gradasi warna dari biru ke putih jadi representasi permukaan laut, dan menyelipkan elemen lokal Jakarta. Jika kita perhatikan lebih seksama, ada tulisan seperti "Pitung" serta bentuk seperti masjid, di antara tulisan dan bentuk lainnya.
Karya-karyanya di pameran ini mewujudkan gagasan tersebut melalui kehadiran tokoh-tokoh mitologis seperti Dewi Sri dan Nyai Roro Kidul—simbol dari ikatan spiritual yang kuat antara manusia, tanah, dan laut.
"Sering kali kekuatan yang tak terlihat dan terlupakan membentuk realitas kita saat ini. Mitos hadir sebagai suara yang menyampaikan narasi-narasi tersembunyi itu, dan melalui pameran ini, saya berupaya memberi wujud pada suara yang nyaris tak terdengar tersebut," kata Imazu.
Pameran tunggal Kei Imazu ini bisa jadi wajib dikunjungi pencinta sejarah Nusantara, khususnya sejarah Jakarta, yang sebentar lagi merayakan hari jadi ke-498, tinggal dua tahun menuju setengah milenium.
The Sea Is Barely Wrinkled di Museum MACAN Jakarta terbuka untuk umum dari 24 Mei hingga 5 Oktober 2025.
Baca juga:
L'Art Botanique du Paradis di Museum Nasional Indonesia, Selebrasi 75 Tahun Persahabatan Indonesia-Prancis
Museum MACAN Punya 3 Pameran Baru, Tampilkan Narasi Berbeda Seni tentang Sejarah dan Kehidupan Sosial
Ekshibisi Expression of the Journey, Ketika Emosi Jiwa Jadi Karya Seni Penuh Warna
Zornia Harisantoso