Lifestyle
Pameran dan Koleksi 1830, Ketika Sejarah Dipakai dan Terus Dikenang

12 Aug 2026

Koleksi Tulisan seri 1830 dan repro lukisan dari era kolonial. Foto: Dok. Tulisan


Sebuah pengalaman spiritual bisa memantik kita untuk mengenal leluhur dan diingatkan bahwa sejarah bukan cuma untuk dipelajari, tapi perlu diceritakan kembali—bukan untuk mengubah masa lalu, melainkan untuk memastikan kita tidak terus melihatnya dari sudut pandang orang lain.

Pengalaman yang dialami Melissa Sunjaya, seniman visual di balik jenama Tulisan, itu melahirkan proyek 1830 dari Tulisan, sebuah karya kolaborasi bersama sejarawan Peter Carey, yang menangkap kisah di balik Perang Jawa (1825-1830), kehidupan Pangeran Diponegoro, serta penangkapannya pada tahun 1830.

Proyek ini hadir dalam tiga bentuk: Buku dwibahasa, koleksi Tulisan sebagai wearable artefacts, serta pameran 1830 Wearing Our Stories, yang berlangsung pada 5-9 Agustus lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 

Melissa Sunjaya di hari pembukaan pameran; memahami Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro dari POV berbeda. Foto: Dok. Tulisan

Tahun 1830 adalah penanda penting dalam sejarah Nusantara, yaitu tahun ketika Pangeran Diponegoro ditangkap melalui tipu daya, sekaligus titik yang menandai semakin kuatnya sistem kolonial di Jawa. 

Dalam proyek ini, tahun 1830 hadir pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan hari ini, bagaimana sebuah bangsa memandang dan menceritakan dirinya sendiri.

Di pameran 1830 Wearing Our Stories, Melissa Sunjaya membawa sejarah ke ruang pamer melalui koleksi Tulisan dan karya seni lainnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sejarah Jawa yang kompleks kemudian dibingkai melalui pendekatan pascakolonial, memadukan studi budaya material dan riset autoetnografi. 

Selain menampilkan kisah Pangeran Diponegoro, Tulisan menghadirkan kisah Nyi Ageng Serang, penasihat perang Diponegoro, yang juga nenek Ki Hajar Dewantara. Ia memimpin pasukan perempuan di usia 75 tahun, dan ditakuti Belanda.

Ilustrasi Nyi Ageng Serang, Pangeran Diponegoro, dan Johan Jacob Roeps (kapten Belanda yang diceritakan cukup akrab dengan Diponegoro) karya Rajata Hakim. Foto: Dok. Tulisan

“Salah aku sendiri karena nggak tahu sejarahku sendiri,” kata Melissa Sunjaya, tentang premis yang menggerakkannya membuat 1830.

Di acara pembukaan pameran, Melissa Sunjaya bercerita bagaimana era kolonial bukan hanya membelenggu kebebasan dan mencuri kekayaan alam (dari kopi, cokelat hingga cengkih), tapi juga mencuri identitas.

Advertisement
Contohnya adalah biru indigo, yang berasal dari tanaman Indigofera atau nila, yang sempat dijuluki “emas biru kolonial” dan jadi warna biru seragam militer di Eropa. Biru indigo (yang juga banyak ditemukan di Afrika antara lain di Maroko) jadi warna biru aristokrat di Eropa, tanpa banyak orang tahu jejak kolonial di baliknya.

Namun, ada sesuatu yang subtil dalam cara 1830 berhadapan dengan masa lalu, termasuk dengan proses memaafkan luka dalam kolonialisme.

Proses Melissa Sunjaya menciptakan koleksi 1830 untuk Tulisan. Foto: Dok. Tulisan

Proyek ini tidak menjadikan sejarah sebagai ruang untuk terus-menerus marah. Sebaliknya, ia membuka kemungkinan untuk memahami luka sejarah sambil bergerak ke depan. 

Memaafkan bukan berarti menghapus kesalahan atau berpura-pura bahwa semuanya tidak pernah terjadi, tapi lebih seperti kita mengingatnya, tetapi kita tidak membiarkan masa lalu menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri selamanya.

Bentuk perlawanan paling elegan terhadapnya bukan selalu dengan berteriak lebih keras, melainkan dengan mengambil kembali hak untuk bercerita.

Pameran 1830 Wearing Our Stories jadi bagian dari upaya memperluas cara kita berkenalan dengan sejarah. Bagi Melissa Sunjaya dan Peter Carey, membawa 1830 berarti membawa cerita Indonesia (terutama tentang era kolonial) dengan suara Indonesia sendiri.

Sebagian koleksi 1830 dari Tulisan. Foto: Dok. Tulisan

Selama berabad-abad, banyak cerita tentang Nusantara telah ditulis, dikategorikan, dan dipandang melalui kacamata pihak luar. Proyek 1830 mencoba menggeser posisi itu—bukan lagi sekadar menjadi objek yang diceritakan, tetapi menjadi subjek yang memiliki kuasa untuk menceritakan dirinya sendiri. 

Bagi Melissa Sunjaya, yang mungkin mewakili kita semua, warisan Indonesia dan kisah di baliknya tidak seharusnya hanya menjadi sesuatu yang kita kenang. Ia harus terus kita tulis ulang, kita pakai, dan kita bawa ke masa depan. (f)

Baca juga:
TUKU Merayakan Ulang Tahun ke-11 Bersama Para Tetangga
Clasutta dari Indonesia Hadirkan Karya Penuh Emosi di Whitestone Gallery, Singapura
Seni Sebagai Wujud Pertukaran Bermakna Jadi Tema ArtMoments Jakarta 2026



Zornia Harisantoso


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?