Health & Diet
Donor Darah Bikin Gemuk dan Menyebabkan Adiksi? Cek 8 Mitos Donor Darah Berikut Ini

15 Jan 2018



Mitos 5. Membuat awet muda

Setelah donor darah, akan tumbuh sel-sel darah baru, yang membuat tubuh lebih segar, sehat, dan membuat awet muda. Seperti oli mobil yang harus rutin diganti baru, darah dalam tubuh pun harus di-recyle. Jangan kaget, ini pun anggapan keliru! Dokter Nyoto menjelaskan, tubuh memiliki mekanisme alami dalam meregenerasi darah di dalam tubuh. Sel-sel darah yang sudah tua, setelah bertahan selama 120 hari, akhirnya mati, dihancurkan oleh limpa dan terbuang ke saluran cerna melalui saluran empedu.
 

Mitos 6. Bikin badan jadi gemuk

Setelah mendonorkan darah, badan jadi lapar berat dan Anda jadi terdorong untuk makan dalam porsi besar? Akibatnya, bobot badan meningkat drastis, dan jins Anda tak muat lagi dipakai. Dokter Nyoto meluruskan. Makan justru sebaiknya tidak dilakukan langsung begitu selesai mendonorkan darah. Idealnya, Anda makan setidaknya 4 jam setelah mendonorkan darah. Karena, tubuh perlu waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan volume darah.

Setelah donor darah, lebih baik Anda banyak minum air, untuk mengganti cairan tubuh yang dikeluarkan saat donor darah. Bila langsung makan nasi porsi banyak, setelah menghabiskan segelas susu, atau semangkuk bubur kacang hijau, atau setangkup roti, atau sebutir telur rebus (ini biasanya disediakan penyelenggara aksi donor darah), bisa-bisa Anda justru jadi tidak enak badan karena kekenyangan.
Advertisement
 

Mitos 7. Mencegah sakit jantung dan kanker

Gaya hidup modern mengakibatkan kita lebih sering mengonsumsi daging merah dan kurang asupan serat. Akibatnya, jumlah zat besi di tubuh kita jadi terlalu banyak. Hasilnya, terbentuk radikal bebas yang dapat mengganggu kerja sel normal. Jika fungsi sel normal terganggu, kita akan berisiko terkena serangan jantung dan kanker. Dengan rutin mendonorkan darah, radikal bebas yang terkandung dalam darah akan berkurang. Risiko terkena kanker dan serangan jantung pun akan berkurang.

Eit, tunggu dulu, ini anggapan yang salah juga. Menurut dr. Nyoto, pada orang sehat, meningkatnya zat besi di dalam tubuh tidak mungkin akan melebihi ambang batas maksimal, karena tubuh memiliki sistem homeostasis atau pengontrol zat besi. Bila jumlahnya terlalu banyak, maka ia tidak bisa digolongkan sehat. 'Ketidaksehatan' Anda akan terbaca pada saat Anda menjalani screening oleh petugas PMI. Hanya orang yang berbadan sehat sajalah yang boleh menyumbangkan darahnya.        

            
Mitos 8. Pria lebih cocok jadi pendonor

Dokter Nyoto menengarai, kasus anemia di Indonesia masih terbilang tinggi. Hal ini dipicu masih rendahnya kesadaran membangun pola hidup yang sehat. Termasuk, menjaga nutrisi seimbang dan mengandung zat besi, sehingga terhindar dari anemia. “Khusus pada wanita, ditambah dengan siklus menstruasi setiap bulan, diperkirakan menjadi sebab mengapa kadar haemoglobin wanita di bawah normal. Sehingga, ia tak lolos screening petugas PMI,” jelas dr. Nyoto. Namun, bila seorang wanita mengikuti pola hidup sehat, dan terbukti dari screening badannya pun sehat, tak ada alasan untuk tidak mendonorkan darah. Anggapan bahwa wanita hanya boleh mendonorkan darahnya minimal 4 hari setelah selesai haid, itu juga mitos. “Sejauh lolos tes, kapan pun boleh,” sambung dr. Nyoto.(f)       



Topic

#donordarah

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?