Health & Diet
Donor Darah Bikin Gemuk dan Menyebabkan Adiksi? Cek 8 Mitos Donor Darah Berikut Ini

15 Jan 2018


Foto: Fotosearch
 

Donor darah? Mungkin, belum-belum nyali Anda sudah ciut mendengarnya. Lengan yang mulus dan rajin dilulur tiba-tiba harus ditusuk dengan jarum yang besarnya konon dua kali lipat ujung pensil, waduh! Belum lagi kalau membayangkan area donor darah yang penuh jarum suntik, kantong darah, bau alkohol, dan lain-lain. Wajar kalau tebersit rasa enggan di hati Anda.

Tapi, nyatanya menyumbangkan darah sekarang ini sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Banyak orang, mulai  dari selebritas, public figure, sampai orang biasa, tergerak hati untuk membantu sesama yang sedang di ujung maut karena kekurangan darah. Jauh di lubuk hati, Anda pun mungkin ingin menyumbangkan darah Anda. Masa hanya karena ketakutan yang belum tentu benar, Anda harus membatalkan niat mulia?

Yuk, lihat 8 mitos donor darah. Tak hanya yang negatif, mitos positif ternyata ada juga. Mari cari tahu faktanya dari dr. Nyoto Widyo Astoro, SpPD-KHOM, ahli penyakit dalam yang juga konsultan Hematologi-Onkologi Medik (kesehatan darah) RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, berikut ini.:     
  
          
Mitos 1. Jarum suntik superbesar


Untuk mengambil darah, memang dibutuhkan jarum berukuran cukup besar. Tujuannya, agar proses pengambilan darah berlangsung tidak terlalu lama. Makin lama proses,  makin besar peluang kemungkinan terjadinya infeksi. “Ambang batas rasa sakit setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang tahan sakit, ada yang sedikit saja sudah kesakitan. Tapi, sakit hanya terasa saat pertama kali lengan Anda dimasuki jarum, karena memang melukai tubuh dan memotong jaringan sel di bawah kulit. Setelah itu, seharusnya tidak lagi terasa sakit. Sakit bisa terus terasa, kalau Anda terus merasa takut dan tidak relaks. Kalau relaks dan lancar, proses pengambilan darah paling lama hanya 7-10 menit,” papar dr. Nyoto. Jadi, lebih baik berbaring relaks dan sakit sebentar, ‘kan?  
 

Advertisement
Mitos 2. Setelah pengambilan darah, badan jadi lemas

Menurut dr. Nyoto, lagi-lagi ini hanya bisa terjadi kalau Anda cemas selama proses pengambilan darah. Karena, energi Anda jadi terkuras untuk ‘berperang’ melawan cemas terus-menerus. Makin lama cemas Anda, makin kurang lancar darah keluar, dan akibatnya, proses pengambilan darah lebih lama dari biasa,  bahkan bisa melampaui setengah jam. Anggapan bahwa lemas karena tubuh kehilangan begitu banyak darah yang diambil, juga tidak benar. Karena, proses donor darah hanya mengambil 250–500 cc, sementara tubuh Anda memiliki ketersedian darah sebanyak 5.000 cc (5 liter).
 

Mitos 3. Bisa tertular penyakit

Dalam bekerja, Palang Merah Indonesia (PMI), badan resmi yang menangani donor darah di tanah air, selalu mengikuti standar internasional. “Mereka mengadopsi cara-cara American Red Cross Blood Services,” terang dr. Nyoto. Para petugas PMI pun terus menjalani training untuk meningkatkan keahlian. Sebelum aksi donor darah digelar, mereka akan meneliti apakah sarana dan lokasi yang ada layak dari segi kebersihan. “Bila tidak, mereka pasti akan mencari lokasi lain,” sambung dr. Nyoto. Jarum yang digunakan pun dipastikan steril dan sekali pakai. Dan, yang melegakan, tak ada satu pun kegiatan donor darah umum –di rumah sakit ternama sampai di tenda-tenda daerah terpencil-- yang tidak berada di bawah pengawasan PMI.
     
 
Mitos 4. Menyebabkan adiksi

Rutin donor darah setiap tiga bulan, lalu berhenti. Badan jadi ‘sakaw’, sakit-sakitan dan tak bugar, karena telanjur ketagihan mendonorkan darah. Pernah dengar komentar seperti itu? Padahal, mendonorkan darah tidak mungkin menyebabkan adiksi. Dokter Nyoto menegaskan, proses ini, sekalipun dilakukan rutin, tidak akan mengubah ‘jam’ tubuh, memengaruhi metabolisme atau rutinitas tubuh lainnya. “Belum ada penelitian klinis yang menyebutkan bahwa rutin mendonorkan darah terkait dengan perilaku adiksi,” katanya. Jadi, kalau Anda melakukannya secara rutin, lalu suatu saat memutuskan ngaso panjang, bisa dipastikan tidak akan timbul masalah.  

Cek 4 Mitos lainnya di laman selanjutnya. 
 


Topic

#donordarah

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?