Food Trend
3 Komunitas Kuliner Seru yang Sedang Hit

3 Mar 2016


Komunitas tumbuh didasari minat yang sama. Insan lintas latar belakang berbagi ide, saling mendukung, dan memudahkan pencapaian yang lebih besar berkat tangan yang saling bergandengan. Komunitas dari masa ke masa pun mengalami perubahan. Sharing melalui milis tengah beralih menuju tren platform Facebook dan Instagram.
Sifat engagement yang sangat interaktif di media sosial tak heran menumbuhkan beberapa perkumpulan kopi darat yang justru berangkat hanya dari sebuah akun. Komunitas lekas berkembang, berkat platform yang tak setertutup milis. Simak tiga komunitas yang menambah portofolio ngumpul-ngumpul mereka yang seperjuangan. Yang mana cocok untuk Anda?
 

UPLOAD
KOMPAKAN
Foto pernak-pernik dapur shabbby chic makanan dalam beragam styling mood dan angle menghiasi timeline akun Instagram Upload Kompakan (UK). Jumlah anggota per awal Februari 2016 ini saja sudah 45.000 followers.
Jangan kaget saat menemukan akun UK dalam setelan ‘Private’. Inilah cara moderator dalam menyeleksi peminat yang ingin tergabung di dalamnya. Jika kemudian Anda bisa melihat foto unggahan UK penuh warna di timeline Anda, selamat, Anda resmi menjadi anggota.

Inilah salah satu komunitas yang tengah menguat, diawali Echi Sofwan, ibu rumah tangga dari Medan yang rutin bertegur sapa melalui media sosial dengan teman beda kota, Aulia Sari (Balikpapan), Vera Venga (Palembang), dan Teti Muliati (Bandung). Hobi mereka kekinian, mengunduh foto jepretan sendiri berupa pernak-pernik dapur untuk mejeng di Instagram pribadi. Pada  9 September 2014, atas kesepakatan bersama, tercetus akun UK. Keempatnya bergilir menjadi moderator dengan Echi sebagai sang founder.

Ritualnya, tiap foto unggahan anggota wajib menyertakan tagar #uploadkompakan dan mengikuti tema harian. Setiap hari sesuai tema, foto terkeren pilihan moderator selalu ditunggu-tunggu penuh deg-degan. Dalam sekian menit saja, aksi moderator menaikkan foto-foto pemenang sesuai kategori ‘profesional’ (4 orang), ‘pemula’ (9 orang), dan ‘menarik’ (6 orang), langsung disambut girang, diikuti komentar selamat dan ramai-ramai melakukan tag pada teman lain untuk mengabari keberuntungan hari itu.

Pengakuan dari talenta yang sebelumnya tak disadari diri menumbuhkan pede bagi kaum hawa yang kebanyakannya adalah ibu rumah tangga. Akhirnya, mereka makin tertantang berkreasi, mencari angle atau penataan properti semenarik mungkin agar karya tertangkap mata jeli moderator. Bak bola salju, aktivitas online yang sangat interaktif membuat penggemar datang sendirinya. Dua bulan pertama, UK sudah diramaikan wanita Indonesia di belahan dunia lain, seperti Korea, Jepang, Australia, Jerman, Belanda, Qatar, Abu Dhabi, hingga Amerika Serikat.

Banyaknya anggota pelosok tanah air dan luar negeri, membuat empat sekawan ini kelabakan. Sejak itu dihadirkan Bu Lurik, alias Ibu Lurah Cantik untuk membina Follower di tiap daerah. Kopi darat berlangsung, membangun apa yang semula hanya sebuah akun Instagram menjadi sebuah komunitas solid!
 
“Sebagai wanita yang sehari-harinya sibuk dengan keluarga, UK telah berkembang menjadi komunitas yang sanggup mengulik kreativitas terpendam sekaligus tempat berbagi ilmu,” ujar Gea Bagyawati Rejeki, Bu Lurik wilayah Jakarta untuk periode 2015. Walau demikian, komunitas ini tidak menutup pintu untuk kaum adam yang ingin bergabung.

Tiap bulan, Bu Lurik membuat agenda tema harian yang dilaporkan ke moderator. “Pusat akan menentukan ide-ide dari tiap cabang agar tiap tema yang hadir bervariasi, tidak ada yang sama,” jelas Enji Ratnasari, Bu Lurik Kompakers Jakarta 2016.

Untuk menandai lokasi follower dan mengenali teman sesama daerah, muncul ide dari founder untuk menyertakan tagar kota atau negara untuk tiap foto yang diunggah. Ada misalnya #kompakersbandung dengan lebih dari 12.000-an foto.

Jika awalnya sebagian besar anggota hanya mengunduh foto dengan tampilan konvensional, lambat laun mereka saling bertanya dan berbagi trik untuk mendapatkan foto cantik. Bukan hanya tentang angle dan lighting, tapi juga cara menata makanan agar tampil cantik. “Kini banyak anggota memiliki hasil jepretan bak fotografer dan food stylist andal!” tukas Gea. Kekuatan komunitas ini telah mengundang banyak pengusaha dan perusahaan besar untuk mensponsori tema dan memberi hadiah. Ini misalnya produk rumah tangga, bahan makanan, hingga aksesori wanita.

Gairah pertemanan baru ini berkembang menjadi support group yang tak pernah sepi. Kompakers—sebutan untuk anggota—memiliki  jadwal meet up, seperti workshop decoupage, food photography, make up, yoga, hingga brunch. Mereka juga rajin bertukar komunikasi melalui chat group di smartphone kala harus bersatu menghimpun dana untuk panti asuhan atau bencana alam. “Beberapa Kompakers dengan hasil jepretan yang bagus kini juga banyak yang disponsori dan memiliki pendapatan. Menyenangkan, bukan?” tutup Enji.
 

KOMUNITAS ORGANIK INDONESIA

Kurangnya pengetahuan masyarakat pada keamanan bahan pangan di pasaran menggerakkan Christopher Emille Jayanata untuk berbagi informasi melalui Komunitas Organik Indonesia (KOI).

KOI yang didirikan pada tahun 2007 memang bukan perkumpulan baru, namun giatnya pelaku gaya hidup sehat yang berbagi di media sosial, baik yang tergabung di KOI maupun tidak, mempermudah penerimaan KOI di masyarakat. Sebelum terkenal melalui akun Instagram @komunitasorganikindonesia, Emil —sapaan akrabnya—menyosialisasikan suara melalui Facebook dan Twitter.

Tahun 2011, bersama pelaku usaha organik kelas mikro, pebisnis ayam probio-pronic ini secara perdana mengadakan Organic, Green & Healthy Expo of Indonesia (OGH Expo) di Jakarta Barat. Situasi kala itu, hanya ada 45 anggota yang terlibat. Kesadaran publik juga masih minim, memaknai kata ‘organik’ sebagai produk yang dilihat dari sisi harga, bukan khasiat.

Advertisement
Konsistensi membuat KOI kini memiliki lebih dari 200 anggota yang berasal dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ini bukan hanya terdiri dari pengusaha sayuran, buah-buahan, makanan olahan dan unggas. Semangat yang ditularkan KOI memberanikan pelakon lain di bidang kosmetik, fashion, hingga peralatan rumah tangga penganut prinsip  organic, green dan healthy bersatu dalam setiap activation sehat yang melingkupi elemen mind, body, and soul.

Logo KOI yang selalu tercantum di bazar sehat seakan mengesahkan kredibilitas sang penyelenggara. Kegiatan ini, seperti sesi yang menggandeng sahabat KOI seperti penggiat makan sehat Sophie Navita, Yoesi Ariyani, dan penggiat healty cooking Wied Harry Apriadji, menjadi contoh cara bagi anggota untuk mengaplikasikan segala yang sehat ke dalam kehidupan sehari-hari.

Anggota KOI juga memiliki kemampuan pada ilmu-ilmu khusus dan boleh menggelar acara secara independent. Misalnya, mini workshop perawatan kecantikan kulit secara organik oleh Dewi Kauw, pemilik Skin Dewi, dan demo membuat pizza nongluten lezat oleh Cut Dewi Rahmah dari Cake Studio.

Kegiatan rutin lainnya adalah kelas peningkatan kualitas produk, branding, dan marketing. KOI juga memiliki Dewan Kurasi. Anggota dewan merupakan para pakar yang membantu para anggota komunitas untuk mencapai sertifikasi organik serta memberikan pengetahuan mengenai kualitas organik yang baik.

Organic Corner di Menteng, Jakarta, hadir sebagai tempat kolektif menjual produk-produk organik dari anggota KOI dan lokasi untuk menggelar farmers market berkala. OGH Expo pun kini menjadi acara tahunan KOI yang  merambah hingga Yogyakarta dengan nama OGH Expo Istimewa.

Bagi Emil, siapa pun boleh bergabung asal mau menghasilkan produk organik yang jujur dan dari hati. “Sertifikasi organik itu mahal, tak semua petani atau pelaku bisnis organik mampu mendapatkannya,” ujarnya. Walau saat ini belum bisa mengeluarkan ­sertifikat, Chris tak hilang akal dalam membantu petani. Lantas, terciptalah label White Flower sebagai penanda bahwa produk telah memenuhi standar organic, green, and healthy dari komunitas KOI.  Chris juga bercita-cita menjadikan KOI sebagai lembaga pesertifikasi organik.      
           
“Sebenarnya negeri ini memiliki produk organik yang potensial dibanding produk organik impor,” tutur Emil. Di sinilah KOI tak berhenti menjadi perpanjangan tangan petani dan pemilik usaha organik dalam kemudahan akses produk berkualitas dengan harga terjangkau. Harapannya, masyarakat tidak tergantung pada produk organik impor.
           
Resolusi KOI di tahun 2016 adalah menjaga dan menjamin kualitas anggota agar dapat dipercaya konsumen, menggaungkan kampanye #LokaluntukLokal, dan menghilangkan penggunaan kantong kresek di  tiap kegiatan. KOI juga ingin memantapkan jalur pemasaran dengan tak putus merancang market place, mengedukasi, dan memajukan kegiatan budaya.
 

INDONESIAN FOOD BLOGGER

Berawal dari keinginan membuat wadah yang menyatukan food blogger Indonesia di seluruh dunia, Andrie Anne (annevijaya.com), Ellen Antheunis  (rasa-indonesia.com), Elsye Suranto (elsye.japati.net), Freeyanti Inev (dapoerkoe.blogspot.com),  dan Pepy Nasution (Indonesiaeats.com) mendirikan komunitas Indonesian Food Blogger (IDFB), di Juli 2011.

Facebook yang kala itu sedang marak, menjadi wadah penyatu blogger ini. Tak berselang lama, Tika Hapsari Nilmada (cemplangcemplung.blogspot.com) dan Wulan Sucipto (perthfoodsnap.com) bergabung dan turut menjadi administrator. Akhirnya pada Agustus 2014, kehadiran situs indonesianfoodblogger.com mengukuhkan langkah komunitas beranggotakan 13.880 orang yang terus bertambah tiap harinya ini.

Walau tak sedikit dari anggota adalah mereka yang lama berdomisili di luar negeri, merayakan kuliner Indonesia dalam bentuk cerita, resep, dan foto-foto berpendekatan modern menjadi tujuan bijak komunitas. Menyuarakan hal yang justru jarang tersentuh oleh kalangan muda yang berdiam di negeri sendiri membuahkan IDFB sebagai penyedia jendela dunia bagi para netizen asing dalam memahami khazanah kuliner negeri.
           
Untuk menghidupkan engagement, tiap 2 bulan IDFB mengadakan Regular Challenge yang mengharuskan para anggota mengolah masakan khas Indonesia, disertai resep. Resep mutlak dituangkan dalam blog bersama foto atraktif. Para pemenang terdahulu pernah mendapatkan hadiah seperti voucher belanja dan hotel, hingga peralatan masak.

Program menarik lainnya seperti blog competition, resto review program, photo competition, workshop, culinary trip, dan lain-lain “Dari Juni sampai Agustus 2015 kami menggelar partnership dengan Toyota Family Challenge dan memilih 8 pemenang dari peserta sekitar 250 peserta (nonblogger bisa berpartisipasi). Mereka mendapatkan hadiah utama berwisata ke Disneyland Hong Kong,” kata Anne.

Tak jarang, IDFBers –sebutan anggota komunitas-- melakukan ‘kopi darat’ untuk mengulik resep serta praktik bersama. “Di IDFB kami mendapat banyak teman baru. Yang terseru misalnya saat ingin hunting kuliner ke luar negeri atas inisiatif pribadi, kami jadi memiliki teman barengan” sambung Andrie.

‘Kopi darat’perdana terjadi pada Juni 2012, di sebuah gedung olahraga di daerah Senayan, Jakarta. Bersamaan, diluncurkan logo ‘sendok garpu’ dan merchandise seperti apron karya desainer ternama, Era Soekamto, beserta kaus dan mug. Acara penuh greget karena diisi oleh edukasi food photography dan food styling. Yang hobi baking kebagian demo gratis membuat barbie cake yang didemokan oleh cake decorator profesional yang juga anggota IDFB.
           
Hal positif mengawali agenda 2016 IDFB. Sebuah charity program akan berlangsung, berupa cooking class bagi remaja dan ibu rumah tangga kurang mampu untuk membuat makanan layak jual yang murah meriah dan sehat.(f)
 
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?