Bisa dibilang kehidupan sehari-hari di Hanoi bermula dan berlangsung di trotoar—tempat orang makan, minum kopi, berbincang, hingga berolahraga. Jalanan bukan sekadar ruang publik, melainkan bagian penting dari identitas kota dan kehidupan sosial warganya.
Hanoi juga sering disebut sebagai ibu kota kuliner Vietnam. Kota ini terkenal dengan hidangan yang sederhana namun kaya rasa, terutama berkat penggunaan kaldu yang dimasak perlahan dan rempah-rempah yang seimbang.
Tak heran jika perjalanan kuliner dan budaya dari Chef-Owner Silk Bistro, Freddie Salim, dan Head Chef Kartika Chandra di Hanoi sangat berkesan.
Selama lima hari empat malam, Chef Freddie dan Chef Kartika menyelami budaya makan sehari-hari masyarakat Hanoi. Mereka mencicipi berbagai hidangan khas Vietnam sembari mengamati ritme kota yang penuh warna, ramai namun teratur, serta budaya makan komunal yang kuat.
“Hanoi terasa sangat jujur,” ujar Chef Freddie Salim, tentang pengalamannya. “Beberapa makanan terbaik yang kami cicipi justru berasal dari sudut-sudut kecil kota, duduk di kursi plastik sederhana, dikelilingi hiruk pikuk orang lalu lalang. Ada energi yang begitu hidup di sana.”
Pengalaman tersebut terasa selaras dengan konsep Silk Bistro, di mana hidangan makin bermakna ketika dinikmati bersama keluarga dan sahabat.
Pertanyaan sederhana, “Hidangan seperti apa yang paling cocok dinikmati bersama segelas wine?” mengawali bagaimana Chef Freddie dan Chef Kartika merangkai menu dari memori rasa mereka di Hanoi.
Pertanyaan ini juga dilandasi bahwa sejarah sebagai koloni Prancis membuat Vietnam—khususnya di Hanoi—sudah terbiasa dengan budaya nge-wine. Saat ini, budaya nge-wine di Hanoi terlihat dalam skena kalcer anak muda mereka.
Pada 23 Juni lalu, Silk Bistro Menteng menggelar preview menu Chef’s Day Out: Vietnam Edition, dalam vibes yang menghidupkan kembali suasana menikmati street food di Hanoi.
Bangku-bangku plastik kecil ala trotoar Hanoi menemani bangku panjang di halaman Silk Bistro Menteng, dengan latar belakang Chef Freddie dan Chef Kartika beserta tim menyiapkan hidangan. Suasana akrab dari obrolan para undangan memberikan energi tersendiri.
1/ Bánh Khọt
Panekuk mini khas Vietnam yang renyah dengan topping udang. Jangan lupa dicocol dulu ke dalam saus ikan khas Vietnam, nước mắm.
2/ Bún Riêu
Sup mi kuah tomat dan kepiting yang menjadi salah satu comfort food favorit di Vietnam. Ukuran bakso kepitingnya generous, dan kuahnya nikmat dihirup panas-panas. Ada juga topping cakue—nyam!
3/ Bánh Mì
Sandwich baguette khas Vietnam dengan pilihan isian Lemongrass Chicken, Wagyu Beef à la Bò Lá Lốt (wagyu dibungkus daun sirihnya enak banget). Kamu juga bisa pesan isian BBQ Pork.
4/ Cà Phê Trứng Bun
Interpretasi unik dari kopi telur khas Hanoi dalam bentuk pastri. Isian kopinya melimpah, dan cocolan roasted coconut crème anglaise-nya memang bikin nagih.
Karena budaya kopi di Hanoi sudah jadi ritual sosial, kamu wajib coba Cà Phê Trứng versi Silk Bistro, yang merupakan kopi telur dari kopi robusta yang kuat, dan dengan toppng roasted coconut crème anglaise.
Buat tim aduk, tahan diri dulu—seruput kopinya sambil menikmati krim yang menempel. Dijamin, sampai dasar cangkir (mungil) terlihat, kamu lupa mengaduk.
Menu khusus ini tersedia di Silk Bistro Menteng, Jakarta Pusat, dan Silk Bistro Pakubuwono, Jakarta Selatan, mulai 1 Juli hingga 16 Agustus 2026.
Sebagai bagian dari program ini, Silk Bistro Pakubuwono juga akan mengadakan serangkaian aktivitas akhir pekan sepanjang Juli hingga pertengahan Agustus, termasuk lokakarya melukis kipas dan melukis di atas kain sutra yang terinspirasi dari tradisi seni Vietnam. (f)
Baca juga:
Kelas Bean to Bar di APCA, Terobosan di Tengah Tren Pemahaman Cokelat Berkualitas
Menikmati Sarapan tanpa Terburu-buru Gaya Türkiye
Mengenal Jejak Rasa Nusantara Lewat Nasi, Soto, dan Sambal
Zornia Harisantoso
Topic
#kuliner