Restoran dinilai secara anonim oleh inspektur profesional berdasarkan lima kriteria utama: Kualitas bahan, teknik memasak, harmoni rasa, karakter chef yang tercermin dalam masakan, serta konsistensi dari waktu ke waktu. Penilaiannya berfokus pada makanan, bukan kemewahan interior atau kualitas pelayanan.
Baik Maison Boulud dan Wakuda Singapore masuk kategori Michelin Selected—artinya, restoran ini masuk dalam seleksi resmi Michelin meski belum meraih Michelin Star atau Bib Gourmand. Keduanya dinilai menyajikan makanan yang baik dan layak direkomendasikan.
Maison Boulud, French Riviera di tepi Marina Bay
Ada banyak cara menikmati Singapura, termasuk duduk santai menghadap Marina Bay saat langit mulai berubah warna menjelang senja. Di antara deretan restoran yang menghadap kawasan cantik ini, Maison Boulud menawarkan alasan lain untuk memperlambat langkah.Restoran yang sisi luarnya berada di waterfront promenade Marina Bay Sands ini tidak tampil mencolok. Interior bernuansa Mediterania dengan sentuhan French Riviera menghadirkan kesan akrab—lebih menyerupai rumah liburan di pesisir Prancis daripada restoran fine dining yang penuh aturan.
Mungkin itulah yang ingin dihadirkan Daniel Boulud sejak awal. Chef asal Lyon ini dikenal sebagai salah satu figur penting dalam dunia kuliner Prancis modern, tetapi pendekatannya selalu sederhana— memasak mengikuti musim, menghormati bahan terbaik, lalu membiarkannya berbicara lewat rasa.
Menu yang ditawarkan bukan daftar hidangan yang dibuat untuk mengejutkan, tapi cita rasanya menggugah lidah.
Makan siang Femina di Maison Boulud diawali Tuna & Watermelon, paduan Mediterranean tuna ceviche dengan feta cheese dan taburan almond. Gurih-segar menggugah rasa!
Untuk hidangan utama, Femina memilih Sea Trout, charred grilled trout nan lembut, ditemani cauliflower dan carrot purée (enak banget!). Siraman seaweed beurre blanc menyempurnakan hidangan ini. NZ Lamb Rack jadi pilihan lain—“Menggoyang lidah,” begitu komentar yang menikmatinya.
Sambil menunggu dessert, Femina disuguhi Madeleines, kue bolu mini klasik asal Prancis yang sangat ikonik dengan bentuknya yang menyerupai cangkang kerang. Versi Chef Daniel Boulud sangat terkenal, dan di sini berwarna cokelat keemasan dengan taburan gula lezat.
Sebagai hidangan penutup, Femina menikmati Citron Pistachio, yang terdiri atas ricotta gelato, Sicilian pistachio chantilly, dengan lemon gel dan meringue. Bentuknya cantik seperti ‘karangan bunga’ dari meringue, dan rasanya manis-asam—enak.... Pilihan lain adalah Molten Chocolate yang meleleh perlahan.
Saat malam mulai turun, suasana restoran ikut berubah. Pantulan cahaya gedung-gedung di Marina Bay menjadi latar yang sulit diabaikan, sementara ruang makan tetap terasa intim meski dipenuhi pengunjung.
Kesibukan promenade Marina Bay juga jadi pemandangan tersendiri bagi kamu yang duduk ngopi di area alfresco—cowok-cowok ganteng berlari sepulang kerja benar-benar bikin kita cuci mata.
Maison Boulud seolah mengingatkan bahwa fine dining tidak selalu identik dengan formalitas. Kadang yang membuat sebuah restoran layak dikenang justru hal-hal sederhana; pelayanan tidak berlebihan, makanan dibuat dengan penuh perhatian, dan ruang yang akrab sehingga percakapan mengalir lebih lama dari yang direncanakan.
MAISON BOULUD
Marina Bay Sands
The Shoppes B1-15
Singapura
WAKUDA Singapore, menemukan Jepang dalam ritme Singapura
Begitu melewati pintu masuk restoran di lobi Marina Bay Sands Tower 2, suasana langsung berubah. Riuh lobi hotel perlahan menghilang, berganti ruang yang tetap ramai namun tidak berisik, dengan dominasi kayu, pencahayaan lembut, dan garis-garis arsitektur yang sederhana.Di ruang makan utama, pohon mapel Jepang menatap dari balik kaca jendela lebar, menjadi titik perhatian, seolah mengingatkan bahwa alam selalu menjadi bagian penting dari budaya makan di Negeri Sakura.
Restoran ini lahir dari kolaborasi Chef Tetsuya Wakuda dan restaurateur John Kunkel, yang menghadirkan pengalaman ruang yang tenang, lalu makanan datang tanpa perlu banyak penjelasan.
Di dapur, Executive Chef Pavel Nigai memimpin tim dengan pengalaman panjang di restoran Jepang di berbagai negara. Pengalaman itu diterjemahkan menjadi sajian yang jauh dari rumit—setiap hidangan terasa bersih, seimbang, dan membiarkan kualitas bahan menjadi pusat perhatian.
Menu Wakuda bergerak di antara tradisi dan interpretasi modern. Sushi, sashimi, tempura, hingga yakimono tetap menjadi fondasi, tetapi beberapa hidangan menghadirkan kombinasi yang lebih kontemporer.
Cold soba dengan truffle, botan shrimp, caviar, dan jamur segar menjadi salah satu contohnya. Perpaduan yang terdengar berani, tetapi tetap menjaga keseimbangan rasa yang menjadi ciri masakan Jepang.
Kualitas bahan baku menjadi benang merah di hampir seluruh menu. Tasmanian Ocean Trout, Ora King Salmon dari Selandia Baru, hingga umibudo dan mozuku dari Okinawa dipilih bukan untuk sekadar memperkaya daftar bahan, melainkan menghadirkan karakter rasa yang berbeda dalam setiap sajian.
Santap malam Femina di Wakuda menjadi pengalaman kuliner tersendiri. Hidangan pembuka adalah Savoury Egg Custard, ditemani grilled Japanese white corn. Rasanya unik, seperti chawanmushi versi elevated. Untuk pembuka ini, semua bahan diambil dari produsen lokal.
Selanjutnya, Canadian Lobster dan Sashimi Plate langsung menampilkan umami tersendiri. Meski diimpor, boga bahari yang dipakai semua tersertifikasi berkelanjutan, dan disambung Maki, sushi roll pilihan chef.
Dua hidangan utama—yang disajikan dalam porsi cantik—memberikan sensasi rasa tersendiri. Classic Saikyo Yaki langsung jadi favorit Femina sejak gigitan pertama. Grilled Patagonian toothfish (ikan favorit untuk kuliner premium) dimarinasi original saikyo miso dari Kyoto menghasilkan harmoni daging ikan nan lembut-manis-gurih. Suka!
Charcoal Grilled A5 Wagyu yang dihidangkan dengan sayuran musiman tak kalah merayu palet rasa. Pelan-pelan, potongan kecil daging wagyu meleleh di dalam mulut ternyata mengenyangkan juga.
Di Wakuda, pilihan minumannya juga menarik. Hampir seratus label sake tersedia untuk dipadukan dengan berbagai hidangan, sementara koktail bergaya Jepang menawarkan alternatif bagi mereka yang ingin mencoba sesuatu yang lebih ringan. Tersedia juga mocktail seperti Lady Marmalade, dengan rasa tak kalah kompleks dari koktail.
Ketika kita bersantap perlahan dan menyesap minuman pilihan, waktu pun terasa berjalan sedikit lebih lambat—yang terdengar hanyalah percakapan pelan, denting gelas, dan irama makan yang mengingatkan bahwa menikmati hidangan terbaik itu butuh waktu. (f)
WAKUDA SINGAPORE
Marina Bay Sands
Lobby Hotel Tower 2
Singapura
Baca juga:
Liburan di Marina Bay Sands, Rumah Kedua di Singapura
ART SG 2026 Berakhir, Kukuhkan Seni Asia Tenggara di Panggung Global
S.E.A. Focus 2026 Sukses Menutup Edisi Kedelapan, Pertama Kalinya Diselenggarakan di ART SG
Zornia Harisantoso
Topic
#kuliner