Dikenal akan kecintaannya pada sejarah mode, Yosafat Dwi Kurniawan pun menghadirkan Après la révolution (pascarevolusi), istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan situasi sosial setelah Revolusi Prancis.
Yosafat Dwi Kurniawan terinspirasi untuk mengolahnya menjadi sebuah koleksi yang dipresentasikan sebagai show penutup hari kedua The Langham Fashion Soirée 2026 di The Langham, Jakarta (13 Agustus 2026).
Koleksi ini merupakan sebuah revolusi desain untuk Yosafat. Ada perubahan siluet—Yosafat tak lagi menampilkan potongan pinggang yang tegas berstruktur, kini dia bermain dengan rancangan yang ringan melayang dalam siluet longgar.
Desain Yosafat kali ini menunjukkan feminitas dengan siluet yang membebaskan perempuan pemakainya.
“Untuk saya, ini adalah revolusi,” ujar Yosafat, tentang pemilihan konsep dan desain koleksi ini, mengutip rilis pers. “Evolusi itu pelan, ini revolusi, saya harus beradaptasi dan berubah dengan cepat.”
Yos, panggilan akrabnya, ingin menjadikan show ini medium bercerita. Koleksinya dimulai dengan nuansa imperial serta detail pada masa Baroque-Rococo, lalu bernuansa perak menggambarkan baju zirah di medan peperangan.
Setelah itu, koleksinya didominasi gaya ala tahun 70-an yang minimalis dan bebas, melambangkan fashion di era pasca Perang Vietnam di AS.
Yosafat mengangkat teknik draperi yang sebelumnya jarang ia gunakan. Siluet khas 40-an, 50-an, dan 60-an yang jadi favoritnya tetap ada, namun diolah dengan cara baru. Satu lagi, sematan payet tampaknya sedang rehat dulu di koleksi ini.
Secara keseluruhan, rancangannya kali ini sangat easy chii, dan berdaya pakai tinggi. Langsung terbayang perempuan urban nan sibuk dalam balutan koleksi ini beraktivias sepanjang hari.
‘Revolusi’ lain yang dilakukan Yosafat adalah memilih penggunaan teknologi mesin bordir mutakhir, yang mampu menghasilkan efek bordir yang nyaman dikenakan pada kain berukuran lebar dalam sekali pengerjaan singkat. Hasilnya bisa dilihat pada crop jacket yang chic dan A-line dress di koleksi ini.
Yosafat, yang juga dikenal sebagai akademisi, memilih material jersei, voile, tweed, juga viscose rayon dan lyocell yang termasuk material berkelanjutan.
Meski mengaku puas dengan eksplorasi ini, Yos belum memastikan apakah revolusi ini akan terus ia lakukan untuk koleksi selanjutnya, meski sejalan dengan rencana pengembangan koleksi ready-to-wear di tahun depan.
“Setelah 15 tahun [berkarya], saya masih bisa menemukan hal menarik untuk diangkat,” kata Yosafat. (f)
Baca juga:
Yosafat Dwi Kurniawan Menembus Waktu Rayakan 15 Tahun Berkarya
Di JF3 Fashion Festival 2026, Billy Tjong Comeback Tampilkan Koleksi Fuchsia
Renungan TOTON dalam Menginterpretasi Kegelisahan Dunia dan Memaknai Waktu
Zornia Harisantoso