Judul show ini berakar pada kata “lungsin” dan “sara” yang bermakna bahwa esensi tenun Nusantara itu terus merangkum pertemuan antara tradisi dan pembaruan.
Dalam konferensi pers yang berlangsung beberapa hari sebelum show, Sjamsidar Isa, atau akrab dipanggil Tjammy, mewakili CTI, menjelaskan alasan CTI menggandeng ketiga jenama ini.
Selain mengangkat perajin tenun dari program pelatihan CTI yang kini sudah mencakup 28 daerah di 14 provinsi, Lungsara jadi kolaborasi CTI dengan ketiga jenama dalam memaknai wastra Indonesia, karena membuatnya tak mudah dan memakan waktu satu hingga dua bulan.
“Kolaborasi ini untuk sosialiasi ragam macam teknik wastra Indonesia yang sudah dibina CTI,” jelas Tjammy. “Pembinaan dilanjutkan acara peragaan, dan ujungnya meningkatkan ekonomi masyarakat di desa [para perajin].”
Dalam show Lungsara, Saroong Atelier menyuguhkan Tenun Rangrang khas Nusa Penida, Bali, yang memiliki ciri khas motif geometris zig-zag dan efek berlubang yang dikombinasikan kain Endek Bali 3D, tenun tradisional asal Bali dengan motif timbul agar terlihat lebih hidup, mewah, dan elegan.
Siluet keseluruhan womenswear koleksi Saroong Atelier playful, asimetris, dan berwarna cerah—keceriaan Island Girl vibes sangat terasa.
“Setahu saya, teknik pembuatan Tenun Rangrang tidak ada di tempat lain,” kata Tjammy.
Dari Bali kita terbang ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Wajo. Di sana ada Tenun Sobi yang unik, karena motif yang dibuat sama sekali tidak menembus ke balik kain, dengan teknik cungkil khusus. “Ini juga teknik tenun yang belum ada di tempat lain,” ujar Tjammy.
Untuk Lungsara, Othman mengolah Tenun Sobi menjadi menswear dengan siluet oversized dan sentuhan classy vintage. Dalam tampilan totalnya, Othman menyandingkannya dengan permainan tenun dari material khas jenama ini, jacquard.
“Sebuah challenge buat kami, karena kami terbiasa dengan bahan lebar dan panjang, sementara Tenun Sobi ukurannya terbatas,” cerita Dimboy, Co-Founder Othman, di konferensi pers.
Hasilnya adalah parade menswear berdaya pakai tinggi yang menghargai tenun sebagai sorotan utama tampilannya.
Menghargai tenun juga diterapkan KMK by Karel Karuniawan dalam membuat koleksinya untuk show Lungsara. Ia menjadikan Tenun Baduy sebagai fokus utama koleksinya, yang juga jadi tantangan tersendiri bagi sang desainer.
“Ini pertama kali saya memakai wastra untuk koleksi runway karena biasanya untuk custom order, dan pertama kali banget pakai Tenun Baduy,” cerita Karel.
Koleksi KMK dalam Tenun Baduy, serta Tenun Jepara, tampil untuk wanita dan pria—siluetnya cenderung dalam proporsi tidak konvensional, serta mengeksplorasi tekstur kain.
Melihat koleksi ketiga jenama ini, tampaknya pemilihan judul Lungsara bisa jadi manifestasi tersendiri untuk memajukan tenun atau wastra Indonesia.
Koleksi ketiganya menunjukkan bagaimana satu akar yang sama bisa melahirkan beragam ekspresi, dengan desain yang relevan sesuai masanya. (f)
Zornia Harisantoso