Foto: Dok. Danny Satriadi
Sebelum pandemi terjadi, Wilsen Willim dan Sejauh Mata Memandang telah melansir masker sebagai bagian dari koleksi mereka. Pada saat itu koleksi masker dirilis sebagai kritik sosial dan kritik lingkungan terhadap buruknya kualitas udara di kota besar, dan pentingnya menjaga diri dari ancaman penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yang banyak melanda masyarakat perkotaan. Keduanya tidak menduga bahwa aksesori ini pada perkembangan selanjutnya menjadi aksesori sehari-hari. Lepas dari kritik lingkungan dan sosial yang idealis.
Kendati masker bukan barang baru dalam masyarakat dunia, dan dikenakan sehari-hari seperti di Jepang dan Korea, namun mengenakan masker pada pandemi Covid 19 terasa berbeda. Terutama pada awal-awal pandemi, ada perasaan gelisah ketika melihat kreativitas bentuk masker yang beralih dari masker medis ke masker kain yang berwarna-warni. Masker bukan semata barang fashion, tapi alat untuk melindungi diri dari wabah, tragedi kemanusiaan yang menghilangkan jutaan nyawa. Apakah kita pantas untuk bersenang-senang dan tampak mencolok?
Di Indonesia, produksi masker kain yang banyak diinisiasi oleh para desainer mode, juga terdorong oleh masalah ekonomi. Pandemi membuat para pelaku mode ini berpikir kreatif agar bisnis tetap bisa berjalan dan para pegawai mendapat upah. Selera masyarakat kita yang menyukai penampilan matching, membuat masker yang disesuaikan dengan busana dengan cepat terangkat ke permukaan sebagai mikro tren dalam fashion. Kita bisa melihatnya pada lebaran lalu. Busana hari raya yang dipakai masyarakat menyertakan masker yang matching dengan baju mereka.
Desainer Rinda Salmun, Rama Dauhan, dan Poppy Theodorin, memproduksi masker dari bahan sisa produksi. Masker kain yang dibuat berlapis untuk menambah keampuhannya menahan droplet. Perancang senior Ghea Panggabean melansir masker bermotif senada dengan busana siap pakai yang diproduksinya. Merek pakaian jadi asal Bali Big Boy Looks Good membuat masker dari bahan print dihiasi dengan ornamen-ornamen unik seperti lego dan googly eye. Perancang Ferry Sunarto mendesain masker dari bahan kulit yang tampak mewah selain masker berkonstruksi yang diberi lambang Garuda Pancasila.
Dari bahan kain, kreativitas pembuatan masker beralih pada materi kain scuba. Sebenarnya masker dari bahan scuba sudah ada dalam keseharian warga di Korea, Jepang, China, dan Thailand jauh sebelum COVID-19 mewabah. Keunggulan bahan yang elastis dan tebal bisa memberikan hasil akhir masker yang nyaman dikenakan, ringan, dan secara kreativitas mudah di print. Sayangnya, masker dengan bahan dasar scuba tidak lagi dinilai ampuh sebagai perlindungan diri ataupun penahan penyebaran virus di kala pandemi ini. Sifatnya yang justru elastis dan tipis, membuatnya rentan menciptakan celah dan pori yang mampu ditembus oleh virus COVID-19.
Masker premium di Indonesia adalah sebutan untuk masker mahal yang dirancang oleh para desainer yang beberapa dikenal dengan koleksi adibusana mereka. Tersebutlah Hian Tjen, Sapto Djojokartiko, Danny Satriadi, Biyan, Heaven Tanudiredja, Albert Yanuar, dan masih banyak lagi, yang memproduksi masker premium dengan sematan aplikasi payet, bordir, ataupun pemilihan bahan unik yang menarik perhatian konsumen kelas menengah ke atas.
Perancang Adrian Gan lalu menciptakan produk masker yang custom made disesuaikan dengan kepribadian pelanggannya. Masker ini tampak ekslusif, mewah, dan berkualitas tinggi. Aksen bordir indah menjadi senjata utama Adrian Gan dalam merancang masker yang seluruhnya disesuaikan dengan zodiac, shio, hobby dan profesi dari pemesannya.
Mode selalu menjadi platform untuk ekspresi diri. Pada saat masker menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita, maka ketika kita menggunakannya juga sebagai showcase gaya individual tak bisa terhindarkan.
Baca Selanjutnya: Alat Untuk Berempati
Topic
#IngatPesanIbu, #3M, #COVID19, #Corona, #ModeFemina, #Masker, #satgas, #FeminaMaskerChallenge