Celebrity
Jay Chou, King of Asian Pop

8 Feb 2016


Nama Jay Chou (37) di industri musik Asia tak perlu diragukan lagi. Data Baidu, mesin pencarian terpopuler di Tiongkok, menyatakan, Jay adalah seniman pria paling dicari sepanjang tahun 2002, 2005, 2006, dan 2007. Tahun 2003, wajahnya menjadi sampul majalah TIME Asia dengan headline: King of Asian Pop. TIME Asia memilih Chou karena pengaruhnya dalam perkembangan pop-culture Asia.

Kesuksesan Jay lantaran ia mampu menciptakan tren musik baru dengan mengombinasikan elemen musik Barat dan mempertahankan ciri khas Tiongkok. Karena itulah, ia disebut-sebut sebagai China Wind di sejarah musik Asia. “Musik saya sangat berbeda dari western rap. Saya tidak pernah menggunakan kata-kata tak senonoh. Saya punya tanggung jawab untuk mendidik dalam musik saya,” ungkap Jay kepada CNN.

Produktif merilis satu album  tiap tahun, hingga saat ini ia sudah menghasilkan 12 album dan 5 album kompilasi. “Saya tidak pernah bermimpi menjadi pop icon. Tujuan saya hanya ingin menjadi penyanyi dan penulis lagu, bukan idola,” ungkapnya, rendah hati.

Popularitas pria kelahiran Linkou, Taiwan, 18 Januari 1979, ini terus meroket. Bahkan, ia telah menjual lebih dari 30 juta kopi album, tak hanya di Taiwan, tetapi juga ke mancanegara, mulai dari Singapura, Malaysia, Australia, hingga Amerika Serikat. Jay juga pernah menyelenggarakan 6 kali world tour. Tampil di kota-kota besar seperti Shenzhen, Hong Kong, Singapura, Las Vegas, Toronto, Vancouver, penampilannya ditonton lebih dari 10 juta orang.
Tak hanya berjaya di industri musik, pria ini juga merambah dunia film. Tahun 2006, ia berperan sebagai Prince Jai di film Curse of the Golden Flower yang ditayangkan di seluruh dunia. Lawan mainnya adalah aktor papan atas, Chow Yun-Fat dan Gong Li. Berkat perannya ini, ia mendapatkan nominasi Best Supporting Actor di Hong Kong Film Awards.

Advertisement
Jay juga bermain di film Hollywood, The Green Hornet bersama Seth Rogen. Nextmovie.com menamai Jay sebagai Breakout Stars to Watch in 2011. Sejak penampilannya di film Hollywood itu, Jay  makin laris menjadi bintang iklan berbagai produk yang ditayangkan di Asia. 
 
Bakat seni Jay mengalir dari ibunya, Yeh Hui-Mei, yang bekerja sebagai guru seni rupa di sekolah menengah. Ayahnya, Chou Yao-Chung, berprofesi sebagai peneliti biomedis. Melihat bakat musik putranya ini, ibunya memasukkan Jay kursus piano ketika ia berusia 4 tahun. Ia berharap kelak Jay dapat bekerja sebagai guru musik. Insting ibunya terhadap bakat Jay tepat. Di kelas tiga SD, Jay sudah mahir memainkan komposisi musik karya komposer favoritnya, Chopin, dengan piano.

Keterikatannya dengan musik  makin erat ketika orang tuanya bercerai saat ia berusia 14 tahun. Hal ini membuat Jay yang anak tunggal menjadi pribadi yang penyendiri dan tertutup. Ia lebih banyak menggunakan waktunya untuk menyendiri dan menulis lagu.
Lulus sekolah, bersama seorang temannya, Jay mengikuti audisi Super New Talent King. Meski tidak menang, host acara itu, Jacky Wu, terkesan oleh permainan piano dan lagu yang ditulis Jay. Di bawah label rekaman Alfa Music milik Jacky, Jay kemudian merekam lagu-lagu karyanya.
Jacky tentu tak menyesali keputusan itu. Album pertama Jay (Jay) yang dirilis tahun 2000, terjual hingga 2 juta keping di seluruh Taiwan dalam waktu kurang dari setahun! Menggabungkan beberapa genre musik, mulai dari pop, R&B, rap, dan musik klasik, album ini berhasil meraih Best Album, Best Composer, dan Best Producer di Golden Melody Awards di Taiwan.  

Lebih dari 15 tahun berkecimpung di industri hiburan Taiwan, saat ini Jay telah memiliki perusahaan rekaman, JVR Music. Meski banyak uang, pria ini tetap low profile. Buktinya, dalam memilih pasangan hidup ia justru menikahi Hannah Quinlivan, yang bekerja di toko pakaian miliknya, Pantachi. Mereka menikah tepat di hari ulang tahunnya yang ke-36. Kebahagiaan pasangan ini bertambah lengkap dengan kehadiran buah hati mereka, Hathaway, yang lahir pada 13 Juli 2015. (f)
 


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?