Di acara ini, Deby Vinski bukan saja merepresentasikan diri sebagai Presiden World Council of Stem Cell (WOCS) dan Presiden World Council of Preventive, Regenerative and Anti-Aging Medicine (WOCPM), tapi juga jadi salah satu pembicara.
Mengutip rilis pers, dalam pidatonya, Deby Vnski terus mendorong kolaborasi internasional untuk membangun standar dan kesepahaman global dalam pengembangan ilmu kedokteran regeneratif.
Tahun ini juga menjadi momen bersejarah bagi para dokter yang bergabung di WOCS dan WOCPM, karena untuk pertama kalinya World Consensus dilaksanakan di London, setelah empat kali diselenggarakan di Paris, Prancis.
Penyelenggaraan World Consensus kelima di London menjadi tonggak penting dalam memperluas kerja sama antarnegara, sekaligus memperkuat komitmen untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, beretika, dan berbasis bukti ilmiah bagi seluruh umat manusia.
Seperti disebutkan dalam rilis pers, melalui hasil dari World Consensus ini, para ilmuwan, dokter, akademisi, dan perwakilan berbagai negara diharapkan dapat membangun kesepahaman mengenai keselamatan pasien, etika, kualitas pelayanan, serta penerapan inovasi medis yang bertanggung jawab.
Setelah berbagi wawasan dengan para kolega di World Consensus di London, Deby Vinski bakal menghadiri 2nd World Stem Cell & Tissue Engineering Summit, yang dijadwalkan berlangsung pada 4-5 Desember 2026 di Osaka, Jepang.
Sebagai Conference Chair, Deby Vinski menegaskan kesinambungan kontribusinya dalam membangun dialog ilmiah lintas negara, serta mendorong perkembangan bidang stem cell dan tissue engineering yang mengedepankan keselamatan pasien, etika, inovasi, dan landasan ilmiah.
Deby Vinski yang mendirikan Celltech Stem Cell Centre di Vinski Tower, Jakarta, memiliki visi besar menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat unggulan dunia dalam bidang stem cell, longevity, dan regenerative medicine.
Menurut Deby Vinski, Indonesia berpotensi jadi destinasi kesehatan internasional melalui penguatan fasilitas penelitian, laboratorium berstandar tinggi, inovasi medis, kolaborasi ilmiah, serta pengembangan tenaga kesehatan yang kompeten. (f)