Ira, pelajar dari Kabupaten Lembata, NTT, Foto : NJL
Ira tidak datang seorang diri. Bersama dua pelajar perempuan lainnya, sejak usia muda mereka sudah aktif berorganisasi. Melalui Forum Anak Desa, mereka mewakili kawan-kawan seusianya untuk menyuarakan aspirasi anak dalam proses pembangunan di desanya masing-masing.
“Ketika bicara tentang anak dan pemuda, biasanya kita menyebut mereka sebagai generasi penerus bangsa, pemimpin masa depan. Tapi, bagi kami di PLAN, mereka adalah pemimpin masa kini, calon-calon pemimpin di masa depan, juga pemimpin untuk teman-temannya,” ungkap Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia di kesempatan yang sama.
Apabila anak-anak dan pemuda mendapat kesempatan dan peluang yang cukup, maka dalam skala dan konteksnya masing-masing, mereka merupakan pemimpin. Butuh usaha serius, kolaborasi dari berbagai pihak, dan upaya yang berkesinambungan untuk bisa terus mendorong agar generasi penerus bangsa ini bisa memaksimalkan potensi mereka sebagai pemimpin.
Boneka Kanaga, dalam bahasa NTT artinya "cita-cita besar", melambangkan masa depan anak perempuan Indonesia. (Foto:NJL)
Salah satunya, di sepanjang tahun 2017, bekerja sama dengan 27 mitra, terutama di NTT dan NTB, mereka menginisiasi berdirinya pusat layanan pengasuhan dini dan tumbuh kembang anak. Hingga kini, pusat layanan ini telah melayani 142.000 anak di Indonesia. Kini, Plan International Indonesia resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia.
“Dengan bentuk Yayasan, kami berharap bisa menjangkau lebih banyak anak, khususnya anak perempuan, di seluruh Indonesia, bersama pihak-pihak terkait mengatasi masalah kekerasan pada anak, khususnya anak perempuan, sehingga hak anak akan terpenuhi secara maksimal,” ungkap Dini. (f)
Baca Juga:
Gelang Harapan Untuk Aksi Pencegahan Kanker Serviks
Menebar Spirit Kebaikan
Maria Harfanti, Beauty at Heart