Kehilangan istrinya saat melahirkan anak pertama mereka membuat Idham, seorang wartawan, shocked. Dia masih tak kuasa kehilangan manisnya pernikahannya dengan Ranti. Sayangnya, Idham pun tidak menyukai bayi mungil yang ia anggap membuat Ranti meninggal yang kini diasuh ibunya. Tapi, dia juga tidak suka ketika Nadia, gadis sebelah rumah, menyayangi anaknya yang belum ia beri nama.
Bosan di dalam kamar terus, aku mencoba duduk-duduk di teras. Menjadi penonton aktivitas pagi yang selalu luput dari penglihatanku, karena pada jam-jam seperti ini biasanya aku sudah larut dalam pekerjaanku di kantor. Jadilah, aku penonton ‘sinetron pagi’ dengan pemeran utama: Ambu, Nadia, Si Kecil dan figurannya: tukang sayur.
Sementara Ambu belanja di tukang sayur langganan kami, Nadia asyik mencandai putriku. Sesekali terdengar tawa riang mereka. Sinar matahari pagi terasa hangat, semestinya aku juga ikut berjemur agar tubuhku lebih segar. Tapi, cepat-cepat kuhapuskan gagasan itu. Berjemur berarti ikut bergabung dengan anakku dan Nadia karena halaman rumah Ambu tak terlalu luas. Memindahkan mobil dari carport ke pinggir jalan? Percuma saja, karena atap carport kedap sinar matahari. Paling berjemur di luar pagar, bersama tukang sayur!
Semilir angin membuat mataku serasa berat. Dari balik batang-batang lentur alamanda, aku masih memperhatikan Nadia dan anakku. Gadis itu, mengangkat Si Kecil dari tempat berjemurnya. Kelihatannya dia sudah mulai mengantuk dan kian terlelap dalam gendongan Nadia.
Matahari mulai memanggang hari. Nadia membawa anakku ke teras yang teduh. Dia berdiri sambil tetap mengayun-ayun si mungil yang tetap berada dalam dekapannya. Aku menyilakan duduk dengan isyarat telapak tanganku. Dia menggeleng.
“Takut bangun…,” katanya.
“Nadia punya adik?” tanyaku, canggung. Dia tersenyum.
“Saya bungsu dari empat bersaudara. Inginnya, sih, punya adik, tapi tidak mungkin, ya….” Gadis itu menunduk, lalu mengecup pipi anakku. “Kakak saya baru satu yang sudah menikah. Satu-satunya keponakan, ya, baru dari dia. Cuma sayang, dia sekarang tinggal di Kalimantan,” ujarnya lagi, setengah curhat.
Selagi aku berusaha mencari kata-kata, gadis itu sudah mendahuluiku. “Untung sekarang ada bayi lucu ini, jadi saya tak terlalu kesepian di sini,” ucapnya, sambil menggoyang-goyangkan anakku penuh rasa gemas. Tangan mungil itu bergerak-gerak menyentuh wajah Nadia. Lalu, dia melihat ke arahku lagi.
“Mas… eh bagaimana saya harus memanggil Anda? Pria Sunda biasanya dipanggil Akang atau Aa….”
“Panggil saya Idham, atau kalau sungkan memanggil nama, panggil saja Kang Idham….”
“Ya, Kang … Idham… punya adik berapa?”
Aku terkesiap, setengah menyesali apa yang kukatakan barusan. Bukankah panggilan itu biasa diucapkan Ranti? Meski kedua adikku memanggil dengan sebutan yang sama, bila orang yang baru kukenal menyebutku seakrab itu rasanya risi juga. Apalagi dia seorang gadis.
“Kang… Kang Idham? Kok, malah melamun?”
Suara halus itu sekali lagi membuatku terkesiap. Lalu, kufokuskan kembali perhatianku. Aku mencoba tersenyum dan menjawab pertanyaannya yang sempat tertunda.
“Aku anak tertua dari tiga bersaudara. Kedua adik perempuanku sudah menikah. Yang pertama ikut suaminya, yang sedang ambil S-2 di Australia. Yang bungsu di Cirebon, baru punya anak satu.”
Inilah kalimat terpanjang yang pernah aku katakan kepada Nadia. Sebuah pertanyaan yang bodoh dan jawaban yang tentu saja lebih bodoh. Mungkin saja dia sudah tahu jawabannya dari Ambu, tapi dia masih bertanya kepadaku semata-mata karena mencari-cari bahan percakapan. Sama seperti diriku.
***
Ketika kukabari Sandra bahwa aku izin tidak pergi ke kantor, lalu bercerita tentang Nadia yang mengantarku ke dokter, gadis itu tertawa terbahak-bahak.
“Dasar laki-laki rapuh yang sombong! Kamu memang butuh seorang pendamping. Sampai kapan kamu bisa bertahan…?”
“Ya… aku akan selalu menunggumu…!”
“Aku juga menunggumu supaya kamu cepat sembuh, ya! Kasihan Dudi, dia sudah mulai kewalahan. Kapan mulai ngantor?”
Suara tawa Sandra terdengar sangat dekat, tapi juga terasa jauh.
***
Masih kusimpan rapi dalam ingatanku, Ranti adalah dunia pelarianku yang sempurna. Hampir semua teman kuliahku tahu perasaanku kepada Sandra, tapi gadis itu tak pernah memberi angin. Meski berulang kali kukatakan bahwa aku menaruh hati kepadanya, Sandra tak pernah serius menanggapi. Dia sangat baik padaku dan kami bersahabat karib. Sampai kemudian kutemukan Ranti yang melimpahiku dengan selaksa perhatian dan tentu saja… cinta. Aku tak mungkin memaksakan rasa cintaku pada Sandra. Dia hanya mencintai Aziz, yang meninggalkannya tanpa kejelasan. Lambat laun nama Sandra dalam hatiku terkikis habis, berganti nama Ranti yang ditulis dengan huruf besar semua.
“Kamu masih mengingat tunanganmu yang tak tahu diuntung itu?!” tanyaku tiba-tiba, usai rapat redaksi malam itu. Kami duduk berseberangan, terhalang meja besar. Para wartawan dan redaktur sudah pulang, sedangkan aku masih ingin menyelesaikan tulisanku agar besok beban pekerjaanku lebih ringan.
Sandra berucap tanpa melihat wajahku, tangannya sibuk merapikan kertas-kertas yang berserakan di hadapannya.
“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan orang itu?” jawabnya dengan pertanyaan pula.
Kalimat itu sarat dengan luapan emosi, luka, atau sejenisnya. Kami adalah dua manusia yang sama-sama ditinggalkan kekasih kecintaan kami. Bukankah ini berarti bahwa kami ditakdirkan untuk saling mengisi, dan menjadi suatu penghiburan satu sama lain?
”Jangan protes bila aku berharap kau takkan berhasil menemukannya! Ayo, Sandra, buang semua mimpimu dengan pria itu! Di sini kau akan menemukan diriku yang selalu ada untuk kamu, yang masih menunggumu sampai detik ini…,” ujarku, dengan keyakinan yang menggebu.
Sandra tertawa tipis. “Tentu saja semua itu kamu katakan sesudah Ranti tidak ada. Coba kalau Ranti masih hidup, menyapaku atau meneleponku pun dijamin seperlunya. Hanya karena kita satu kantor saja kamu masih berkomunikasi denganku! Ranti akan menutup matamu dan menumpulkan perasaan cintamu kepada wanita lain.”
Giliran aku tertawa. “Tapi, perasaanku padamu belum hilang, San….”
“Ya, karena Ranti wafat dan kau sendirian sekarang. Kamu butuh pengganti istrimu. Lebih tepatnya kau membutuhkan seorang ibu bagi anakmu!”
Kusibukkan diriku dengan beberapa lembar kertas yang kumasukkan ke dalam printer. Sandra membaca gelagatku yang mencoba mengalihkan perhatian dari ucapannya yang lugas. Dia menggumpal-gumpalkan kertas memo, lalu melemparkannya kepadaku.
“Idham! Kamu nggak bisa lagi menghindar dari kenyataan, statusmu sudah menjadi ayah atau duda beranak satu. Beda jauh dengan statusmu ketika masih bujangan! Siapa pun yang mau menikah denganmu, harus siap juga menerima anakmu. Satu paket!”
“Tapi, ini paket istimewa, San!” ujarku, tersenyum agak pahit.
“Istimewa apanya?! Bila anakmu sudah sekolah atau minimal sudah bisa ke toilet sendiri, tanpa popok, mungkin masih ada yang mempertimbangkannya!”
“Ok, jadi kamu mau menunggu sampai anakku berhenti ngompol?”
Sandra tertawa, membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban sampai berhari-hari kemudian, bahkan mungkin berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
***
Dokter menganjurkan aku cuti sakit selama tiga hari. Mau tidak mau aku jadi ‘pria rumahan’, jadi penonton setia semua aktivitas di rumah ini. Ambu dan Nadia tampak sibuk mempersiapkan sesuatu. Aku heran, mereka sangat kompak seperti ibu dan anak saja, padahal Nadia belum lama menempati rumah sebelah.
“Belakangan ini, tampaknya Ambu dan Nadia sibuk sekali…?”
“Lusa, anakmu genap berumur empat puluh hari. Kita siapkan akikah untuknya,” jawab Ambu, riang.
“Ya, Putri mau potong rambut sampai gundul, lho…,” sambung Nadia, tak kalah riangnya.
“Putri? Siapa Putri?”
“Anakmu… putrimu, Idham,” ujar Ambu, lugas dan terlalu jelas.
“Siapa yang memberinya nama seperti itu?”
Ambu tersenyum, memandang Nadia penuh rasa sayang. Sekejap aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam tatapan Ambu.
“Nadia suka memanggil anakmu dengan nama itu. Ya… Ambu pikir, daripada cucu Ambu dibiarkan terus tanpa nama, lebih baik dipanggil ‘Putri’. Sebuah nama yang manis, bukan..?!”
“Ambu belum minta persetujuanku…,” protesku, pendek.
Ambu melemparkan senyum. “Sudah berkali-kali Ambu bertanya padamu, nama anakmu siapa? Selama itu pula tak pernah kau jawab. Setuju atau tidak, bila kau belum menyiapkan nama, kita panggil dia ‘Putri’ saja!”
Aku tak menanggapi perkataan Ambu. Percuma. Kutinggalkan mereka berdua, yang sedang merakit kotak-kotak kardus untuk kue. Di teras, kuluapkan rasa kesalku kepada ikan-ikan di kolam, kepada pergola alamanda yang sebagian bunga dan daunnya dibasahi sisa gerimis siang tadi.
***
Hari kian menjadi senja, suara gadis itu membuyarkan warna lembayung. Dia duduk di kursi rotan dekat pergola, sekaligus menghalangi pandanganku ke arah kolam ikan.
“Maafkan saya, Kang, saya sudah terlalu lancang memberi nama pada anak Kang Idham.” Nadia memainkan ujung jarinya. “Habis kasihan banget, pertama kali saya bertanya pada Ambu siapa nama bayi yang lucu itu, beliau menjawab belum punya nama. Lalu, setiap kali saya bertanya sudah dikasih nama belum, Ambu hanya menjawab: ‘Tanya saja pada bapaknya.’ Ya, sudah, karena saya jarang ketemu Kang Idham, saya panggil ‘Putri’ saja untuk sementara. Pasti Putri juga sedih, bayi selucu dirinya belum punya nama,” ujarnya beruntun, seperti petasan cabe rawit.
Aku menghela napas, Nadia begitu polos. Pantas Ambu suka padanya, juga anakku. Kelihatannya dia seorang gadis yang tulus, tapi ah… entahlah, dalamnya hati manusia sukar ditebak karena acap kali menjebak.
“Ya, sudahlah… terima kasih kau sudah memperhatikan anakku.”
“Saya sayang padanya, Kang. Dia sudah saya anggap seperti adik sendiri…,” ucap Nadia. “Putri juga kelihatannya senang punya teman bermain!”
Aku mencoba tersenyum. Dasar anak bungsu, sudah lulus D-3 sifatnya masih polos dan agak manja. Sebetulnya, dia sudah cukup umur untuk memiliki seorang anak. Tapi, gadis ini malahan masih memikirkan seorang adik.
“Lalu, Putri mau dikasih nama apa, Kang?”
Aku tergugu, sama sekali tidak menyangka dia bertanya selugas itu.
“Eu… apa, ya?!” aku berpikir keras. Ditanya begitu, gengsiku sebagai seorang ayah meningkat tajam. Nadia menunggu dengan sabar. Ia menggeser kursi rotan itu sedikit lebih dekat padaku.
“Alamanda...,” ujarku spontan, saat melihat pergola dirambati batang-batang yang lentur dan subur berbunga.
“Kenapa Alamanda? Bunga itu indah, tapi tidak wangi….” Nadia bergerak secepat angin. Tumbuhan yang merambati pergola itu sempat bergerak-gerak sesaat, ketika ia berusaha meraih batang yang berisi sekumpulan bunga. Dipetiknya sekuntum.
“Coba Kang Idham cium bunga ini, wangi tidak?”
Aku melakukan apa yang ia minta. Membiarkannya menunggu beberapa saat, sampai mulutku melontarkan kata.
“Ya, memang tidak wangi. Tapi, bagiku bunga ini wangi, sewangi kenangan bersama istriku….”
Gadis itu sengaja menajamkan pandangannya, menatap mataku lurus-lurus.
“Aku tahu, Akang sangat mencintai Mbak Ranti. Tapi, jangan biarkan Putri menjadi anak yang tak diharapkan… menjadi kambing hitam rasa kehilangan Kang Idham.”
“Kambing hitam? Maksudmu Manda? Dia sekarang sudah punya nama!”
“Ya… ya! Maafkan saya, kalau terlalu mencampuri urusan pribadi Akang. Saya memang suka anak kecil, dan Putri… ehm… Manda, sangat lucu dan menggemaskan! Maafkan saya, kalau sering-sering mengunjunginya…,” ujar Nadia, pelan. “Saya tak dapat menahan diri untuk tidak menggendongnya kalau ketemu…,” katanya lagi, nyaris tak kedengaran.
Nadia masuk ke dalam, berpamitan pada Ambu. Aku mencoba tersenyum lebih tulus ketika dia mengucap salam dan lewat di depanku. Dipikir-pikir, sebetulnya lucu juga, aku dan Nadia memberi nama anakku sambil bertengkar. Nadia termasuk gadis periang yang enak diajak bicara. Tawanya selalu renyah tiap kali bercanda dengan Ambu dan anakku. Kebalikannya dengan diriku. Sekarang, tertawa lebih sering jadi benda mahal untukku.
***
Hari ini anakku resmi diberi nama Putri Alamanda Syaifurrizki. Kami mengundang dua puluh orang anggota pengajian di kompleks perumahan kami, keluarga terdekat, serta tim kerjaku yang berjumlah tiga orang. Kedua adikku tak bisa hadir. Nadia hadir. Sandra kuundang. Dia datang pagi-pagi sebelum acara akikah dimulai. Dua kotak besar berisi aneka kue jajan pasar dibawanya. Dia juga sempat berkenalan sekilas dengan Nadia yang sibuk menyiapkan makanan serta bergiliran menjaga Putri bersama Ambu. Sandra tak lama, ada acara keluarga, katanya.
Malam harinya, sambil melipati pakaian yang sudah kering, Ambu memberi ultimatum. Aku duduk di karpet sambil menonton televisi, bersandar pada sofa yang diduduki Ambu.
“Sudah, mau apa lagi, Idham….?! Pekerjaan sudah ada, anak sudah punya, tinggal kau mencari istri. Siapa yang akan mengurus anakmu dan segala keperluanmu? Ambu sudah tua, tenaga Ambu sudah banyak berkurang. Bukan saatnya mengurus cucu lagi. Ambu sudah lupa mengurus anak. Lagi pula, Ambu sebagai nenek, tugasnya hanya menimang-nimang cucu, bukan mengurusnya atau berlaku sebagai ibu baginya!” ujar Ambu, sambil meletakkan keranjang setrikaan di dekat meja. Ia duduk lagi, lebih dekat padaku hingga bahuku nyaris bersandar pada kakinya.
“Nadia kelihatannya telaten mengurus anak, Ambu pikir dia juga gadis yang baik. Mulailah berpikir untuk mencari istri…!”
Aku terdiam. Aku tahu maksud Ambu, tapi tidak sesederhana yang Ambu pikirkan. Kalau hanya untuk mengurus anak, babysitter saja bisa. Tapi, menikah? Memang Nadia atau aku mau, tanpa melibatkan cinta? Perempuan banyak yang mengutamakan cinta bila menikah atau mau berhubungan lebih dalam dengan seorang pria karena ada unsur rasa. Rasa cinta. Laki-laki juga tak jauh beda. Meski banyak yang beranggapan bahwa pria tertarik pada wanita secara fisik dan seksual, kami juga mempertimbangkan perasaan itu bila memilih wanita. Apalagi untuk dijadikan istri, syaratnya lebih berat lagi. Dia pula yang banyak berperan dalam soal pendidikan, asupan gizi, dan perhatian.
Memang menjadi wanita itu berat, ada peran ganda yang dijalaninya: menjadi istri, ibu, dan wanita karier. Selain melahirkan dan membesarkan anak, sebagai anggota masyarakat pun dia tetap mempunyai hak dan kewajiban. Belum lagi di negeri kita yang menganut extended family. Keluarga besar. Istri punya beban yang lebih berat, minimal hubungannya dengan mertua. Terutama mertua perempuan. Untungnya Ranti termasuk dekat dengan Ambu. Meski Ambu agak cerewet, mereka bisa saling menyayangi.
“Idham…?” suara Ambu terasa lembut di telingaku. Tangannya mengusap kepalaku, seperti waktu aku kecil dulu. Terakhir Ambu melakukannya sewaktu aku sungkem di hari pernikahanku. Abah sudah tak ada lagi, hanya Ambu satu-satunya orang tuaku. Ada rasa tak ingin kehilangan, karena aku tahu bagaimana rasa itu kini menyekap hidupku. Rasa kehilangan yang tiba-tiba saja datang, tanpa permisi. Ranti yang masih muda pun secepat itu dikehendaki olehNya, apalagi Ambu yang makin uzur tinggal menunggu jadwal yang sudah terukur.
“Ya, Ambu….”
Mataku merebak basah, meluapkan rasa haru. Sedari kecil Ambu mendidikku untuk tidak merasa gengsi kalau menangis. Mengekspresikan perasaan tidak mengurangi kejantanan seorang laki-laki, asal tidak cengeng atau kelewat sensitif saja. Aku mencoba memahami perasaan seorang ibu. Dia juga sama denganku, kehilangan belahan jiwa. Dia kehilangan Abah, aku ditinggalkan Ranti. Kami sama-sama kehilangan.
Katherina Achmad