Julia Maria van Tiel
Kisah Sebelumnya:
Sebelum bertemu dan menikah dengan Eric, Lita adalah seorang dosen dan peneliti budaya yang sibuk. Lita kemudian mengikuti Eric yang warga Belanda, untuk tinggal di sana. Ternyata, hidup di negeri orang sungguh tak mudah, apalagi ketika ketiga anaknya yang masih kecil sangat hiperaktif dan didiagnosis berkebutuhan khusus. Lita akhirnya tak sanggup lagi dan ia ingin pulang ke Indonesia. Meninggalkan semuanya....
“Baik, saya akan coba berbicara dengannya agar ia bisa melihat dunia ini secara realistis dan menerimanya secara lapang dada,” demikian janji Mbak Dian kepada Eric dan ibunya, saat menjemput Lita untuk diajak pulang ke Indonesia.
“Terima kasih, Mbak Dian. Saya sangat menghargai bantuan Anda. Semoga misi Anda berhasil. Bagi saya, yang terpenting adalah kebahagiaan Lita. Orang yang sangat saya cintai,” Eric membalas dengan berurai air mata. Ia hanya membayangkan, bagaimana anak-anak yang tanpa seorang ibu? Tetapi, Eric tak mungkin bisa memaksakan kehendak untuk menahan Lita tetap berada di rumah.
Hari-hari Lita di rumah Mbak Dian di Desa Telaga Pepak bagai melempar dirinya pada tahun-tahun ketika ia mulai berkenalan dengan Eric beberapa tahun lalu. Udara akhir tahun menjelang musim hujan terasa sejuk karena banyak angin bertiup. Mbak Dian sengaja mengambil cuti dan selalu menemani Lita.
Mengajaknya berjalan-jalan keliling desa, melewati pematang sawah, duduk berteduh di bawah pohon kelengkeng sambil menikmati bekal. Lambat laut beban berat yang dirasa Lita makin terasa menipis. Kepalanya mulai terasa ringan.
Malam itu cuaca sangat bagus. Ada bulan di atas sana, di atas pematang sawah yang membentang di belakang rumah. Di kaki gunung dengan lembah-lembahnya yang melandai yang dipenuhi dengan teras-teras sawah. Di belakang, di beranda rumah, dalam remang-remang bulan purnama, Lita duduk seorang diri. Ia kembali teringat peristiwa saat Eric menciumnya. Untuk pertama kalinya, yang kemudian peristiwa itu harus dihapus dan dianggap tak pernah terjadi.
Malam itu, bulan bulat sempurna. Sehabis membantu menyelesaikan powerpoint, Lita mengajak Eric ke beranda ini. Melihat betapa bulan bersinar sangat terang. Teras-teras sawah tampak cantik sekali. Kuningnya batang padi yang basah tertimpa hujan berpendar-pendar bagai emas tertimpa sinar bulan. Mereka berdua sangat takjub melihat indahnya alam malam itu. Tiba-tiba Eric menatap dalam mata Lita, dan memberikan kecupan di bibirnya. Tanpa disadarinya, Lita mengalungkan kedua lengannya di leher Eric. Sampai tiba-tiba Lita mendorong tubuh Eric, ketika mendadak di kepalanya berkelebat betapa ia hanya akan menjadi lahan cinta sesaat selama Eric di Indonesia.
“Oh, maaf,” desis Eric. “Saya terlalu spontan.” Kisah purnama itu tak berlanjut karena permohonan Eric dan mengajak lupakan saja peristiwa itu.
Pohon mangga yang daunnya bergoyang-goyang tertiup angin itu, mengingatkannya kembali tentang cahaya bulan beberapa tahun lalu, saat ia merasakan perasaan yang tidak tahu lagi bernama apa. Jatuh cinta? Pohon mangga yang daunnya bergoyang-goyang itu tetap ditatapnya, seperti dahulu saat ia menatapnya melalui kisi-kisi jendela kamarnya. Lita menarik napas panjang. Bayangan Eric makin jelas. Tiba-tiba satu-satu bermunculan wajah anak-anaknya. Senyumnya yang ceria, celotehnya yang tidak jelas, yang selalu berlari dan melompat ke gendongannya saat lonceng pulang sekolah berbunyi.
Seperti saat mereka menuju kebun tebu di desa sebelah desa ini untuk menjemput anak Pak Karto. Saat mereka mengendarai delman di bawah hujan lebat di tengah kebun tebu. Atau saat mereka menuju lokasi-lokasi penelitian di pedalaman Indragiri Hulu. Sampai akhirnya saat mana Eric tak tertahankan lagi untuk menyampaikan rasa kagum dan jatuh hatinya pada Lita, persis saat ia harus melangkahkan kaki menuju ruang tunggu pesawat terbang yang membawanya pulang ke Belanda.
Tiba-tiba Lita merasa rindu pada Eric. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia bukan lagi seorang gadis yang tengah jatuh cinta, tetapi ia adalah istri Eric dan ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil. Ia tersentak, bagai terbangun dari tidur. Mata Lita serasa pedih, air matanya kembali mengembang. Tiba-tiba ia ditimpa rasa rindu yang meluap. Air mata yang mengembang, kini berubah menjadi isak.
Hari makin larut. Mbak Dian menemukan Lita di beranda dalam isak kesedihan.
“Lita, mengapa menangis? Kan kamu sudah di Indonesia sekarang?” kata Mbak Dian. Mbak Dian sengaja menyatakan bahwa Lita sudah berada di Indonesia sesuai keinginan Lita. Ia tak mau bertempur secara frontal kepada adiknya, bahwa seharusnya ia berada di Belanda mengurus anak-anaknya. Mbak Dian ingin Lita mampu melihat realitas kehidupan, dan mengambil langkah atas kesadarannya sendiri.
“Mbak, aku kangen anak-anak dan Eric,” jawab Lita, dalam isak.
“Oh...,” Mbak Dian tak tahu harus berkata apa, “terus....?”
“Aku tak tahu Mbak, harus berbuat apa. Terus di Indonesia atau kembali ke sana.”
“Bagaimana kalau kembali ke sana?”
“Aku takut. Aku takut mempunyai perasaan yang sama seperti waktu lalu. Kesepian, tak ada orang yang bisa kuajak bicara. Orang sekitarku tak memahami apa yang kurasakan. Mereka melihat semuanya harus berjalan baik-baik saja. Aku juga hanya berkutat di rumah tanpa lagi bisa mengembangkan apa yang sudah kumiliki. Percuma sekolahku yang tinggi.”
“Ah, kalau begitu perlu dibicarakan dengan Eric, dan dibuat kesepakatan. Demi kebaikan semua, terutama anak-anak. Lagi pula aku tahu, sebagai orang tua yang mempunyai anak dengan karakter khusus tidaklah mudah untuk membicarakannya dengan orang lain. Mereka kurang memahami apa persoalan yang kau hadapi.”
“Sebetulnya aku juga menyadari,” kata Lita, di tengah isaknya, “bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan yang sehat agar ia dapat tumbuh secara sehat. Tapi, jika aku sendiri tak mampu membangun lingkungan sehat itu, pasti anak-anak juga akan menjadi korban.”
Mbak Dian yang duduk di sebelahnya, membelai pundak adiknya. “Lita, aku tahu, engkau bisa kembali tegak. Pasti! Karena, engkau menyadarinya, tinggal niatmu. Tanpa niatmu, tak ada orang yang mampu membantumu.”
Lita masih terisak, tak menjawab. Tetapi, kata-kata Mbak Dian masih terus terngiang di telinganya dan masuk ke dalam hati yang terdalam. Kini ia justru merasa bersalah berada jauh dari anak-anaknya. Kini ia justru menanyakan kembali dirinya, mengapa ia mencoba mengambil keputusan meninggalkan semuanya. Meninggalkan Eric, figur lelaki yang pernah diimpikan bagai pangeran berkuda menjemput sang putri untuk menjadi permaisurinya. Anak-anaknya yang, baginya, siang mengesalkan namun kala mereka terlelap tidur tampak bagai malaikat-malaikat kecil tanpa dosa.
Makin terpikir olehnya, makin terasa rindu itu, namun ia merasa bersalah. Di antara isak, ia menggeleng.
“Aku tak tahu,” lanjutnya pada Mbak Dian.
“Pasti bisa. Pasti bisa. Kamu adalah wanita kuat, tegar, dan cerdas. Jangan menyerah pada perasaanmu. Namun, ada satu hal yang harus kamu jalankan. Kamu harus bicara dan mengutarakan apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan pada Eric.”
“Saya takut kami jadi bertengkar.”
“Bukan bertengkar. Berargumentasi itu adalah hal yang biasa. Namun, kesepakatan akan menghasilkan kesatuan yang lebih pekat dalam hubungan suami- istri. Kamu harus mencoba untuk berbicara dengannya.”
“Ia tak pernah ada waktu untuk berbicara. Ia selalu berada di kantornya. Jika di rumah, ia tak mungkin bisa diganggu, karena membaca, menulis, telepon kepada koleganya, mahasiswanya.”
“Nah, hal itu juga harus dijadikan tema diskusi. Istri adalah teman hidup, bukan sosok yang hanya mempunyai fungsi menjadi pendukung kehidupan rumah tangga. Minta kepadanya, bahwa ia juga harus meluangkan waktu untuk istri dan anak-anak. Bukan hanya pekerjaannya saja.”
Sekalipun mendengar penjelasan Mbak Dian, mata Lita masih menerawang melihat purnama. Di sana ada gambar yang menurut ibunya adalah Baginda Ali, naik kuda. Tetapi, siapa Baginda Ali, Lita tidak pernah mendapatkan penjelasan lagi.
“Aku tak yakin, Mbak,” jawab Lita perlahan.
“Kamu harus yakin. Karena, langkah yang yakin akan memberikan jalan yang terang benderang menuju masa depan yang cerah. Masalahmu bukanlah hanya masalahmu saja, tetapi masalah kamu berdua, suami-istri.”
Tiba-tiba Lita bagai melihat sebuah lorong panjang tiada ujung. Lorong itu berliku-liku, tidak tahu ke mana akan dituju. Jalan di ujung sana tampak sangat gelap. Sekalipun, semua tenaga profesional yang menjadi pembimbingnya menyatakan bahwa anak-anaknya mempunyai masa depan yang baik, dengan catatan, mereka harus dibimbing dan ditangani dengan baik. Tetapi, Lita tidak yakin. Bagaimana menangani dengan baik? Sebab, ia sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi orang-orang sekitarnya masih memberikan cap kepadanya bahwa ia adalah ibu yang tidak bisa mendidik anaknya. Anaknya liar bagai tidak mempunyai arahan pendidikan. Anak-anaknya bagai mempunyai kompas sendiri, ke mana ia ingin pergi.
“Tapi, orang-orang di sekitarku selalu melempar kritik padaku, Mbak,” jelas Lita lagi.
“Ah, Lita, kamu kan tahu, orang-orang sekitarmu tidak mempunyai anak-anak seperti anakmu. Mereka membandingkan anakmu dengan anak-anak mereka. Padahal, mereka mempunyai pola tumbuh kembang sendiri. Anak-anak itu tak boleh dan tidak bisa dibanding-bandingkan. Lagi pula, mengapa kamu dengarkan apa kata orang? Yang penting adalah, lindungi anak-anakmu agar mereka mempunyai lingkungan yang aman dan sehat. Mendengarkan apa kata orang hanya menambah bebanmu, yang rugi adalah anak-anak. Kita pun tidak tahu akan menjadi apa mereka kelak. Sementara tangan, hati, kasih sayang kitalah yang turut menjadikannya sebagai manusia yang bermakna.”
Lita hanya mampu menarik napas mendengarkan kata-kata Mbak Dian. Tak lama suaranya lirih keluar dari bibirnya: “Baik Mbak, aku akan mencoba merenungkannya sekali lagi.”
“Ya, ya.... hal itu juga sudah kami pikirkan. Dalam pembicaraan dengan psikolognya di rumah sakit masalah ini juga menjadi perhatian utama.”
“Betul sekali. Itu sangat baik. Karena Lita adalah seorang wanita yang sangat cerdas. Dorongan emosinya adalah juga mengembangkan intelektualitas dan sosialnya,” tambah Mbak Dian.
“Ya, ya, saya mengerti. Saya sangat menyesal mengapa tidak memberinya kesempatan bekerja di luar, agar minatnya dapat dikembangkan, sekalipun repot dengan anak-anak.”
“Barangkali bisa diatur, satu atau dua hari anak-anak berada di rumah penitipan anak, sementara Lita mempunyai waktu mengembangkan diri.”
“Betul, itu juga menjadi jalan keluar yang baik.”
“Oh, ya, ada satu lagi yang sangat penting,” suara Mbak Dian menekankan pentingnya sesuatu yang akan disampaikan.
“Ya, apa itu?” tanya Eric, serius.
“Hmm ... kedua orang tua anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus mempunyai kewajiban untuk mengatasi masalah anak-anaknya secara bersama-sama dan saling mendukung. Para suami harus pula mempelajari masalah anak, jangan hanya istri. Karena, istri juga memerlukan teman bicara dalam mencari jalan keluar yang paling baik dan bisa dikerjakan bersama.”
“Ya.... ya…,” suara Eric di seberang sana dengan nada setuju.
Lita berdiri di muka jendela, melihat ke luar. Salju bergulung-gulung. Angin kencang dengan suara macam trompet membawa lari butiran-butiran salju. Pohon-pohon yang sudah gundul berdiri tegak, pohon pinus yang daunnya penuh salju itu bergoyang-goyang dan berputar. Tahun ini merupakan tahun yang sangat dingin dengan salju yang sangat tebal. Dengan susu cokelat di tangannya, baju hangat warna krem melekat di badannya, Lita tetap berdiri memperhatikan salju di luar.
Sebetulnya hari sudah cukup siang, hampir pukul sebelas. Tetapi, matahari belum juga menampakkan diri. Sudah seminggu Lita kembali ke Belanda, dijemput oleh Eric langsung dari Indonesia. Disambut oleh anak-anak dan oma di Schiphol. Anak-anak yang penuh dengan rasa bahagia, berteriak-teriak menyambut ibunya yang sudah beberapa bulan ini agak jauh secara emosional. Rasa haru menyelimuti hati Lita menyambut itu semua. Seikat bunga selamat datang diterimanya dari ibu mertua, dan tiga balon dari anak-anak dengan digantungi kertas bergambar karya mereka.
Eric dibantu oleh ibunya dan seorang psikolog telah siap dan selesai membuat perencanaan perubahan strategi lingkungan yang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan Lita sebagai ibu, istri, wanita, dan anggota masyarakat. Suatu strategi yang memperhatikan fitrah seorang wanita masa kini, yang tak terkungkung hanya oleh sebutan istri dan ibu rumah tangga sekalipun sering diberi stempel sebagai tugas mulia. Namun juga perlu adanya pengembangan sebagai diri sendiri, sebagai wanita, dan anggota masyarakat tanpa harus melupakan tugasnya sebagai ibu dan istri.
Di rumah, semua keluarga baik yang beragama ataupun tidak, di tanggal 5 Desember itu mulai mendirikan pohon terang, yang kelak di tanggal 25 Desember di bawahnya diletakkan hadiah-hadiah untuk semua anggota keluarga. Hari raya Natal yang semula adalah hari raya keagamaan telah berubah menjadi hari raya keluarga. Semua akan berkumpul bersama, menjaga tali kekeluargaan. Anak-anak yang bekerja dan bersekolah di tempat lain bahkan di luar negeri akan kembali ke rumah orang tua. Anak cucu dan menantu akan turut meramaikan rumah orang tua dan nenek serta kakek mereka.
Pohon terang kembali menjadi sebuah simbol bahwa waktu gelap terpanjang telah berakhir dan akan dimulai dengan hari-hari terang yang baru. Dengan segala harapan baru yang lebih baik.
Khusus di tanggal 5 Desember hadiah yang diberikan pada anak-anak adalah hadiah yang sangat spesial. Merupakan hadiah dari Sinter Klas yang diberikan atas permintaan anak. Jauh-jauh hari sebelumnya anak-anak sudah membuat daftar permintaan itu kepada Sinterklas, meletakkannya di dalam sepatu bekas. Tak ketinggalan sebatang wortel dan seikat rumput untuk kuda Sinterklas. Malam sebelum tidur, setelah meletakkan gambar, daftar permintaan dan sepotong wortel serta sejumput rumput, anak-anak bernyanyi di depan sepatu yang diletakkan di balik pintu.
Mereka percaya, bahwa Sinterklas bisa mendengarkan nyanyian mereka. Saat anak-anak sudah tidur, orang tua mengambil daftar itu dan keesokan harinya mencari di toko, membungkusnya dengan bungkus kado yang cantik. Kembang gula, mainan, CD-rom, alat-alat sekolah, alat-alat kreativitas, bahkan kadang ada yang minta sepeda baru. Orang tua sering mengatakan pada anak-anak, bahwa Sinterklas hanya akan memberikan kado-kado yang menyenangkan dan tidak mahal.
Tiap malam, satu-satu kado diletakkan di sepatu, yang ditukar dengan gambar karya anak-anak. Di pagi hari anak-anak akan bangun dengan sangat antusias, berlari menuju sepatu di balik pintu. Hari-hari yang merupakan hari yang membahagiakan semua anggota keluarga. Tetapi, kali ini hari-hari bahagia bersama anak-anak, suami, dan Oma, terlewatkan oleh Lita.
Lita membalikkan badan melihat anak-anaknya yang tengah bermain di lantai. Seperti biasanya, dua anak itu sangat ribut berteriak-teriak, bahkan lompat dan berlari kian kemari. Tak jarang mainan mereka di lantai terinjak-injak dan berantakan kembali. Salah satu di antaranya marah dan menangis. Mereka kini tengah bermain kereta api. “Oh, anak-anakku, aku berjanji tidak akan lagi melewatkan hari-hari indah itu.” Tak sadar air matanya mengalir. “Bukan itu saja anak-anakku, aku akan membangun sangkar yang hangat bagimu, agar engkau dapat merasakan hangatnya sebuah keluarga.”
Di dapur, Eric sibuk menyusun meja. Mereka akan makan bersama, kerstbrunch. Breakfast sekaligus lunch. Oma belum lagi datang. Di meja sudah tersusun hidangan pagi yang istimewa yang sudah dibeli kemarin di toko roti langganan. Kerstol, roti manis dengan kismis dan berisi gilingan kacang almond manis. Di atasnya bertabur bubuk gula. Sandwich dengan isi daging favorit anak-anak. Telur rebus. Tak ketinggalan Eric sudah juga membuat pannekoek dengan isi apel, atau siapa yang suka bisa mengolesnya sendiri dengan strawberry jam, appelstroop, ataupun taburan gula halus. Hari itu sengaja Eric mengambil alih tugas yang biasanya dikerjakan oleh Lita, untuk memberi kesempatan pada Lita lebih lama bermain dengan anak-anak di pagi hari.
Bel berbunyi, Oma datang. Kedua tangannya menjinjing tas-tas penuh dengan hadiah Natal. Masing-masing menyambut kedatangan Oma.
“Kita makan dulu, setelah itu baru kita buka hadiah masing-masing,” kata Oma.
“Yippiii...!” seru Deo, diikuti oleh adiknya, Rio. Sedang si bungsu Joy dari boksnya menunjuk-nunjuk. Oma mengangkatnya dari boks. Joy mengeluarkan suara-suara planet.
“Makanan sudah siap...!” seru Eric, dari meja makan. Semua lari ke meja makan. Berebut makanan dan saling bercerita.
Lita membuka hadiah dari Eric. Sebuah hadiah kecil dengan kertas pembungkus
yang sangat indah. Sebuah cincin bermata ruby dan dikelilingi berlian kecil-kecil. Lita memandang cincin itu dengan mata membelalak. Betapa ia selalu mengagumi bentuk cincin seperti ini, tiba-tiba kini ia mendapatkan hadiah cincin yang selalu menjadi perhiasan favoritnya.
Tetapi, bukan itu yang lebih membuatnya terpana. Pesan yang tertulis membuatnya sungguh terharu: “Aku tahu cincin bermata ruby dikelilingi berlian adalah perhiasan favoritmu, tapi bagiku engkau adalah permata hatiku yang keindahannya melebihi berlian. Cincin ini adalah simbol tentang engkau permataku yang senantiasa kutaburi dengan berlian cintaku. Agar engkau memancarkan sinar cinta yang lebih indah. Bersatu kita menjadi makin kuat, dan bersama kita bahagia. Aku senantiasa merasa berbahagia bersamamu dan berbahagia dikelilingi anak-anak kita. Terimalah tanda cintaku ini, dan terima kasihku engkau bersamaku kembali. Dikke zoentjes, Eric.”
Lita menerima kecupan Eric di keningnya. Lita merebahkan kepala di dada Eric. Tanpa kata-kata. Tetapi, Eric paham bahwa permatanya telah kembali lagi kepadanya. “Oh Eric, maafkan aku, jika aku sampai kehilangan diriku sendiri. Aku berjanji untuk melihat dunia ini dengan kacamata yang lebih realistis,” bisik Lita.
Tiba-tiba Deo dan Rio menyerbu mereka berdua. Dua anak itu menelusup di antara kaki-kaki Eric dan Lita. Sementara Joy, di pangkuan Oma, melambai-lambaikan tangannya sambil mengoceh dalam bahasa planet.
“Anak-anakku, maafkan aku jika hampir saja meninggalkanmu,” bisik Lita.
“Ya, anak-anak adalah risalah Tuhan yang ditugaskan pada kita agar kita mengasuhnya dengan baik,” tambah Eric.
“Sangkar yang hangat akan memberikan rasa nyaman bagi penghuninya. Membangun sangkar yang hangat adalah dengan cara memahami bagaimana cara anak-anak yang bagai burung-burung kecil itu mengepak-ngepakkan sayapnya agar ia dapat terbang dan mandiri. Cara yang berbeda dengan burung-burung kecil lainnya. Dan lingkungan yang nyaman akan memberikan situasi yang sehat bagi anak-anak, agar anak-anak mampu berkembang secara sehat pula,” kata Eric perlahan, menyampaikan kata-kata yang baru saja dipelajarinya dari buku bagaimana mengasuh anak-anak istimewa. Lita mengangguk sepakat, sambil menyampaikan senyum selamat berbahagia menyongsong tahun yang baru. (Tamat)