Dengan tiga anak yang lahir dari perkawinannya yang hampir tujuh tahun, bagi Lita bukan tugas mudah sebagai seorang ibu dan istri di negeri asing ini. Negeri Belanda, negeri asal suaminya. Sekalipun ia sudah merasa berada di rumah sendiri di negeri ini, panggilan jiwanya untuk kembali bertugas seperti saat di tanah air masih terus mengimpitnya. Ia selalu berharap masih dapat kembali meneruskan kegiatannya seperti dahulu, menjadi pengajar sekaligus peneliti budaya di tanah air.
Sebagai wanita, istri, sekaligus ibu dengan tiga anak, bukanlah hal mudah untuk menjalani hidup ini. Sebab, tidaklah mungkin ia bekerja meninggalkan rumah begitu saja. Untuk itu, maka tiga anak harus dititipkan di crash, rumah penitipan anak, dengan ongkos yang tidak murah. Mau tak mau Lita harus mengasuhnya sendiri. Tidak ada pembantu rumah tangga maupun pengasuh. Hanya orang-orang dengan pendapatan luar biasa yang bisa mempunyai pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Sekalipun Lita menyadari bahwa nasib seperti ini bukanlah hanya ia seorang diri, ia sering merasa tertekan. Hampir semua istri dan ibu, saat anak-anaknya masih kecil umumnya harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara. Saat anak-anaknya sudah mulai besar dan dapat ditinggal atau berada di sekolah, barulah ibu-ibu muda ini kembali bekerja.
Sekalipun Lita dapat melihat sisi positif dari tatanan sosial seperti ini, yaitu para ibu menjadi lebih intensif dalam mengurus anak-anaknya, Lita melihat juga bahwa tatanan seperti ini justru menghambat pengembangan diri para wanita. Lita menyayangkan sisi negatif ini, dan sering kali menyebabkan dirinya bagai terpukul.
Lita dengan tiga anaknya, laki-laki semua, dengan polah yang luar biasa banyak gerak. Fase perkembangan anak yang menghabiskan tenaga untuk menjaganya. Deo baru berusia lima tahun, ia baru saja naik ke kelas satu sekolah dasar, atau grup tiga jika di Belanda ini. Ia lompat kelas, seharusnya ia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Tetapi, karena ia menyerap pelajaran sangat cepat, para guru berpendapat bahwa Deo memerlukan pelajaran yang lebih menantang agar tidak frustrasi.
Sedang yang nomor dua, Rio, berusia tiga tahun, duduk di taman bermain. Si bungsu, Joy, baru berusia satu tahun. Ketiga anaknya, campuran antara Indonesia dan Belanda, berambit ikal dan wajahnya mirip omanya.
“Mama, lihat bebek itu nakal sekali, ia merebut roti temannya.”
Lamunan Lita tiba-tiba terputus. Deo berseru sambil menunjuk-nunjuk seekor bebek yang berenang menjauhi yang lain, di mulutnya tergantung selembar roti.
“Ma, mengapa burung terbang-terbang terus, sedang bebek berenang terus?”
Lita sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan Deo yang seperti itu. Atau pertanyaan lain seperti: “Mengapa ular bisa cepat berlari sedang ia tak mempunyai kaki?” Atau: “Bagaimana ayam bisa makan sedang ayam tidak mempunyai gigi?”
Deo memang luar biasa cerdas. Padahal, ia seorang anak yang mengalami keterlambatan bicara. Begitu di usianya menjelang lima tahun dan bisa diajak bicara dua arah, ia bertanya segala macam.
Deo sudah pandai mengoperasikan games komputer, dan pertanyaan-pertanyaannya tentang pengoperasian games dan komputer sering tidak dipahami oleh Lita. Tak ada jawaban dari ibunya sering kali menyebabkan Deo frustrasi dan uring-uringan. Beruntung ia dan Deo sendiri mendapatkan bimbingan yang baik dari sekolah, yaitu dari tenaga ahli untuk anak-anak bermasalah, dan juga dari dokter sekolah yang senantiasa membantunya. Dengan begitu selain ia bisa belajar banyak tentang tumbuh kembang anak, sekaligus mempunyai dasar-dasar pengetahuan dan kemampuan mengasuh dan menstimulasi anak seperti Deo.
“Maaaaa.... auw... auw... atit ... atit….” Itu suara Rio yang masih bicara cadel dengan kata tidak lengkap. Rio jatuh terantuk batu. Beruntung ia tidak jatuh di atas kotoran bebek. Sekalipun Rio sudah mulai bicara, prestasi bicaranya masih di bawah teman sebayanya. Lita sering mendapat tekanan dari para guru, bahwa prestasi berbahasa anak-anaknya karena pengaruh dirinya yang orang asing. Pendapat ini ia tentang sekuat tenaga, karena ia tak pernah menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak, sesuai dengan perjanjiannya dengan dokter tumbuh kembang anak saat Deo masih berusia dua tahun dan menunjukkan keterlambatan bicara.
Deo dan Rio, keduanya sama-sama terlambat bicara dan mempunyai perkembangan motorik yang luar biasa. Mereka dapat berlari sangat cepat bagai angin, Lita sering terseok dibuatnya. Bahkan bagi Lita, makan dan mandi dirasanya sangat sulit, karena matanya harus tetap waspada. Jika tak terawasi dengan baik, kebun di belakang rumah juga sudah luluh lantak. Alasannya, mencari harta karun. Di mana-mana digali lubang yang tak jarang malah mencabuti tanaman yang ada.
Joy si bungsu baru berusia satu tahun. Ia sudah mulai berjalan. Perjaka kecil yang lincah dan juga banyak gerak ini cukup menguras tenaganya karena ia selalu ingin menggapai apa saja yang dilihatnya. Eksplorasinya luar biasa. Lita merasa beruntung, sebab mertuanya, Oma Geertje, begitu anak-anaknya memanggilnya, tinggal hanya berseberangan jalan dengannya. Oma Geertje selalu datang tiap hari, membantu mengawasi anak-anak saat Lita tengah menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti menyetrika, masak, dan membersihkan rumah. Tak lupa mandi dan makan yang sering kali justru tertunda-tunda.
Ia masih ingat komentar keluarganya, baik orang tua maupun kakak dan adiknya. Bahwa, jika Lita mempunyai anak, pasti anaknya akan masuk rumah penyantunan anak-anak, karena selalu ditinggal ngeluyur terus. Ngeluyur? Ya, ngeluyur, menurut keluarganya. Karena, dua minggu dalam satu bulan pasti ia tengah berada di lapangan melakukan penelitian budaya di berbagai pelosok tanah air bersama mahasiswanya. Tapi kini, yang dijalani justru terbalik 180 derajat, ia hanya menjaga dan mengurus anak-anaknya sendiri.
Ia bisa memelihara beberapa ayam ras, menanam bunga-bungaan dan buah-buahan, seperti apel, persik, dan pir. Ada sebatang pohon anggur yang buahnya hanya habis dilahap burung. Baginya, ayam dan tanaman adalah salah satu penghiburnya juga. Sementara halaman yang cukup besar itu hanya dihampari rumput agar anak-anak bisa bermain bola dan berlari-lari.
Eric, suaminya, adalah anak satu-satunya. Sedang Oma Geertje mempunyai kakak adik tujuh orang. Jika hari raya atau ulang tahun salah satu dari mereka, suasana akan ramai sekali. Lita sungguh menikmati tali persaudaraan yang erat itu. Tak terasa ia seperti menemukan sebuah keluarga besar baru, sebagaimana yang ia miliki di Indonesia. Dan situasi ini cukup menghiburnya dari tekanan keinginan untuk kembali ke tanah air, bekerja seperti dulu.
Oma Geertje, meski hampir 70 tahun, masih cekatan dan kuat. Seorang wanita yang sangat ramah, murah senyum, dan selalu iba pada orang yang tengah kesulitan. Lita bisa sangat cepat bersahabat dengannya. Oma Geertje menilai Lita adalah menantu yang sangat lief (halus dan manis) seperti si Monique, poes kesayangannya. Pensiunan guru dan janda ambtenaar (pegawai pemerintah), Oma Geertje cukup dikenal di desa itu. Bukan hanya karena ia aktif dalam banyak kegiatan, tetapi juga Oma Geertje adalah penduduk yang sudah puluhan tahun, sejak ia menikah dengan Jan Hoes. Dari hasil perkawinan itu, mereka memperoleh seorang anak laki-laki, Eric.
Bagi Lita, bimbingan Oma Geertje untuk bersosialisasi dengan lingkungan cukup mempercepat dirinya melakukan integrasi dengan penduduk. Jika saja ia tidak direpotkan dengan mengasuh anaknya yang super power dan full speed itu, ingin rasanya ia mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan di desa itu. Olahraga gymnastic, naik sepeda, berkuda, membaca buku, menonton bioskop, berenang, dan sebagainya. Baginya, yang cukup lucu adalah acara makan bersama, yang kegiatannya dilakukan sebulan sekali. Setiap anggota mendapatkan giliran masak di rumahnya, dan acara makan bersama beserta pasangan masing-masing.
Sayang, Lita tidak juga dapat mengikuti kegiatan ini. Hanya Oma Geertje yang selalu bercerita tentang makanan apa saja yang telah dipamerkan para anggota untuk disantap bersama. Bagi Lita, kegiatan seperti itu sungguh menarik. Neneknya dahulu sering bercerita bahwa wanita-wanita Belanda di zaman penjajahan sangat pandai masak, membuat baju, dan pekerjaan tangan lainnya, seperti merenda dan menyulam.
“Hapa... papa... papa...paaa.” Itu suara Joy, yang prestasi bicaranya baru bisa babling, sambil menyembur-nyemburkan ludah. Suara Joy mengejutkan Lita dari lamunannya. Joy duduk di kereta dorong, ia berusaha ingin turun, merosot, keluar dari tali pengikatnya. Joy menunjuk-nunjuk bebek-bebek yang tengah lahap menyantap roti tua yang disebar kakak-kakaknya.
“Oo... kasihan kau, Nak, terpaksa harus diikat supaya tidak jatuh, ya....” Lita membuka tali pengikat itu, dan menurunkan Joy dari kereta dorong. Menuntunnya dan mengajaknya duduk di bangku di tepi danau itu. Angin lembut menerpa, terasa sejuk di kulit. Namun, sinar matahari terasa hangat, mengimbangi udara yang masih cukup dingin. Bulan Mei, sekalipun disebut musim semi, pepohonan masih tampak gundul. Saat pertama datang, Lita pernah bertanya pada suaminya, kapan musim dingin ini berakhir, karena ia sungguh tak tahan dengan musim dingin yang lamanya hingga berbulan-bulan.
Eric Hoes, suami Lita, kini bekerja sebagai dosen di almamaternya. Lita dan Eric sebetulnya mempunyai kesamaan latar belakang keilmuan. Hanya saja Eric adalah lulusan negeri Belanda, Lita lulusan Indonesia. Keduanya bertemu di Indonesia saat Eric tengah menjalankan tugas penelitian budaya di Indonesia untuk penulisan disertasinya. Dalam rangka penelitian itu ia harus melalui universitas tempat Lita mengajar di jurusan antropologi. Lita kemudian mendapat tugas untuk membantu Eric dalam hal bahasa. Namun, Lita justru telah membuat hati Eric tak berdaya akan kehalusan dan karakter yang penuh perhatian yang menjadi karakter utama Lita.
Lita yang pendiam namun ternyata dalam pikirannya penuh dengan segala macam pengetahuan, perasaannya yang sangat sensitif, ia tampak introver. Tetapi, jika bisa dekat dengannya, betapa hangatnya ia. Eric benar-benar seperti menghadapi seorang dewi yang sengaja diturunkan oleh Tuhan baginya. Bukan saja menyebabkan studinya menjadi lebih lancar, tetapi juga Lita menjadi sumber segala inspirasi pikiran dan hidupnya. Tegasnya, ia jatuh cinta luar biasa. Tante Bar, adik ibunya, pernah mengoloknya, perjaka ganteng satu ini matanya tak tergoyahkan oleh gadis cantik mana pun, tapi tiba-tiba saat melihat Lita, matanya jadi terbelalak.
Jika mengingat bagaimana mendapatkan Lita, Eric tersenyum sendiri. Sebab, sangatlah tidak mudah untuk menyatakan perasaannya kepada Lita. Tugasnya sebagai mahasiswa program doktor yang tengah mengambil penelitian itu, tapi ia tak mau memanfaatkan kedekatannya dengan Lita. Sebaliknya, Lita juga tetap menutup diri sampai tugas Eric selesai. Lita tak ingin dirinya hanya dimanfaatkan oleh Eric, cinta sesaat sepanjang masa penelitian. Lita juga tetap memegang nilai-nilai yang diajarkan oleh ibunya bahwa seorang wanita tidak layak jika menyatakan cintanya terlebih dahulu.
Meneer Göter, teman mertuanya, pernah bercerita kepadanya bahwa masakan Indonesia bagi orang Belanda adalah makanan supermewah. Orang-orang kaya Belanda jika mengadakan pesta mewah terkadang menggunakan menu makanan prasmanan Indonesia. Mereka menyebutnya rijst tafel. Karena itu, Lita pun tidak heran, jika ia mengadakan pesta di rumahnya dengan tema makanan Indonesia, semua yang diundang pasti akan hadir. Saat pamitan pulang, umumnya para tamu mengatakan kepuasan dan berjanji akan mengundang makan sekali-sekali di rumahnya.
Tujuh tahun bersama Eric, hidup di Belanda, banyak sekali rasanya yang harus dipelajari. Pasang surut dalam penyesuaian diri, baik menyesuaikan diri terhadap kebiasaan dan jalan pikiran Eric, maupun menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya yang baru. Begitu banyak yang berbeda. Berkunjung ke rumah orang perlu menggunakan janji dan harus tepat waktu. Datang lebih dulu lima menit saja, nyonya rumah bisa kalang-kabut, karena ia belum siap. Sementara, telat lima menit adalah janji yang memalukan. Jam karet jelas tidak ada.
Membawa buah tangan dalam bentuk makanan bisa dianggap semacam penghinaan pada nyonya rumah. Buah tangan yang mendapat penghargaan adalah segenggam buket bunga. Acara minum kopi atau teh, akan mendapatkan sajian kopi atau teh dua kali. Kopi atau teh pertama ditemani dengan sepotong tart, kopi atau teh kedua dengan sepotong cokelat. Minuman selanjutnya adalah minuman ringan, juga dua kali. Minuman ringan ditemani dengan kacang dan keripik. Cokelat atau kue hanya diedarkan satu kali saja, selanjutnya kaleng cokelat atau kue disimpan kembali ke dalam lemari.
Masyarakat Belanda jarang mengundang kenalan makan di rumah. Namun, hari Minggu adalah benar-benar hari keluarga. Anak-anak dan cucu akan berkumpul di rumah orang tuanya. Namun, sebegitu jauh upaya yang sudah dilakukan oleh Lita, di dalam hati yang terdalam masih ada sesuatu terasa sering kali menjadi batu ganjalan untuk meraih rasa bahagia. Rasa bahagia yang tulus, bersih, tanpa ada bercak-bercak rasa pasrah terhadap risiko hidup.
“Mama… mama…. jan…. sah…!” Suara Rio, anaknya yang nomor dua, dengan bahasanya yang masih sepotong-sepotong, memberi tahu bahwa hujan sudah mulai turun dan membasahi dirinya. Sekalipun sepotong, Lita paham maksudnya, karena jika ia bicara benar-benar macam monyet. Semua tangan, kaki, kepala, dan mata, bergerak-gerak macam monyet. Seharusnya, usia tiga tahun seperti ini, ia sudah bisa berbicara dan orang lain sudah paham maksudnya, bukan hanya ibunya saja.
Karena keterlambatan Rio bicara di usianya yang sudah tiga tahun, Lita mendapatkan kewajiban dari dokter tumbuh kembang untuk segera membawanya ke berbagai ahli. Namun, kali ini Lita lebih tenang menghadapinya karena sudah ada pengalaman dengan Deo. Satu per satu tenaga ahli yang ditunjuk dikunjunginya. Mulai dari dokter anak ahli tumbuh kembang di rumah sakit, neurolog, dokter THT, audiolog, psikolog, dan orthopedagog. Dan akhirnya juga seorang speech patolog. Repot memang, tetapi sistem itulah yang harus dilaluinya.
Lita melihat langit, mendung makin tebal, dan titik hujan tampak jatuh di air berpendar-pendar. Ia segera mengangkat si bungsu Joy dan meletakkannya ke dalam kereta. Berteriak pada dua jagoannya yang lain agar berlari menuju pergola yang tak jauh dari tepi danau itu. Lita menyibak rambutnya yang panjang, melempar titik-titik hujan dari rambutnya yang hitam kelam.
“Ayo, kita pakai jas hujan semua!” serunya, sambil membagikan jas hujan yang selalu siap dan disimpannya di bagian bawah kereta Joy. Deo dan Rio, keduanya masih lompat ke sana kemari, sementara Lita sibuk memakaikan jas si bungsu. Tiba-tiba ia mendengar Rio menjerit-jerit menangis. Rio menjadi sasaran main perang-perangan oleh Deo.
Deo memang mempunyai fantasi luar biasa. Jika menemukan sepotong kayu, ia akan berfantasi bahwa kayu itu adalah pedang. Dan ia akan berfantasi sebagai The Rider, The Camelot, kesatria. Dengan suaranya yang dibesar-besarkan, mengayunkan pedangnya, mencoba membabat Rio, yang lari kocar-kacir ketakutan. Deo yang mempunyai perkembangan motorik besar itu sering kali tidak bisa mengira-ira seberapa besar tenaga yang dikeluarkan, sehingga sabetannya yang maksudnya hanya main-main menyebabkan memar-memar di kulit adiknya.
Jika saja Lita tak memahami bahwa Deo mempunyai perkembangan khusus, bisa jadi Deo mendapatkan hukuman dan dianggap telah melakukan agresivitas. Dalam hal ini Lita mengajarkan bahwa Deo harus mampu mengendalikan tenaganya yang besar itu. Terutama jika mencium adik bungsunya. Jangan sampai maksudnya mau mencium, tetapi ternyata yang terjadi adalah menyeruduk adiknya. Maksudnya mau mengelus-elus, tetapi yang terjadi adalah justu memukul-mukul. Seperti juga terhadap Rio, maksudnya hanya menyenggol dengan pedangnya, tetapi ternyata menyabet hingga memar.
“Ee, Deo... jangan suka menyakiti adikmu. Hayo, jangan brutal, ya! Oke, Deo, sekarang adikmu sudah menangis, kamu harus meminta maaf, tidak lagi-lagi akan menyakitinya. Jika main-main seperti itu jangan sampai pedangmu itu menyakiti adikmu.” Hampir setiap hari tanpa bosan Lita mengajarkan kerukunan, berbagi, meminta maaf, dan seterusnya.
“Kom, we gaan naar huis! (Mari, kita pulang ke rumah),” kata Lita, saat dilihatnya gerimis mulai mereda. “… huis...,” Rio mulai mau mengikuti apa yang diucapkan ibunya.
Kini Lita harus lebih waspada pada si bungsu, kelihatannya ia juga mempunyai gejala yang sama dengan kakaknya. Sejak bayi, Joy juga sangat banyak gerak. Ia busy baby! Persis sama dengan kakak-kakaknya. Bahkan, semua juga mempunyai pola jam tidur yang mirip, mempunyai jam tidur yang jika dibandingkan anak normal, anak-anaknya mempunyai jam tidur yang lebih sedikit. Bahkan, sudah di tempat tidur masih saja bergerak-gerak. Terkadang, dengan tiba-tiba loncat keluar dari tempat tidur dan bergayutan di kain gorden hanya karena melihat kain gorden menjulur panjang ke bawah, dan tiba-tiba punya ide untuk bergayut seperti monyet.
“Lihat Mama, ibu itu kecil sekali!” Deo berseru sambil menunjuk seorang ibu yang sedang berjalan membawa anjingnya, menelusuri danau yang mereka lewati menuju rumah. Mulut Deo segera dibekap Lita. Oh, anak kecil selalu bicara spontan. Untung Mevrouw Jansen yang sedang jalan dengan anjingnya itu tidak mendengar. Mevrouw Jansen adalah salah satu warga di desa itu, rumahnya di dekat danau. Ia mengenalnya melalui mertuanya, Oma Geertje.
“Hoi, Lita,” sapanya, saat mereka berpapasan. “Udara enak, ya, sekarang, hujan sudah berhenti. Tidak dingin dan tidak panas. Nikmaaat!” sambungnya.
“Betul Ibu, nikmat sekali. Apa kabar, Ibu?”
“Baik. Dan kau juga?”
“Ya, kami semua baik-baik.”
“Mertuamu juga?” Oma Geertje maksudnya.
“Ya, beliau juga. Sekarang ia sedang ke rumah adiknya di Haarlem.”
“Oo... senang, ya. OK, salam untuk semua, ya, dan selamat menikmati hari-hari yang indah ini.”
“Terima kasih. Untuk Anda juga. Tot zien, dag.”
“Tot zien, dag.”
Tegur sapa seperti itu jika berpapasan, sangat biasa dilakukan penduduk di desanya. Menanyakan kabar, dan membicarakan soal cuaca. Lita melihatnya bagai sebuah ritual. Menurut Jenny, sepupu suaminya, tegur sapa seperti ini tidak terjadi pada penduduk kota. Penduduk kota lebih individual, sedangkan di desa semua orang saling mengenal dan bertegur sapa.
Sekalipun begitu, Lita merasakan, penduduk desa ini juga merupakan masyarakat individual. Masing-masing keluarga di desanya yang sekarang ini, hanya sibuk dengan dirinya sendiri di rumah. Orang tidak mudah memasuki rumah tetangga dan memasuki persoalan-persoalan tetangga. Lita merasakan jarak antarmanusia juga cukup jauh. Jika ingin berkunjung harus bertanya dahulu kapan mereka mempunyai waktu, lihat agenda dahulu. Rasanya cukup sakit hati juga jika mengetuk pintu rumah orang hanya dibukakan sedikit saja dan tidak dipersilakan masuk.
Berbicara dari hati ke hati rasanya menjadi terhalang, karena umumnya mereka memberikan respons positif terhadap suatu kejadian, dan tidak mau memberikan pandangan negatif. Kadang-kadang Lita merasakan norma seperti ini kurang melihat suatu kejadian secara proporsional. Misalnya, jika ia berkeluh kesah tentang anaknya yang menurutnya rasanya mempunyai perilaku di luar normal, maka ibu tetangga yang dimintai pendapat hanya mengatakan, “Oh, biasa, namanya juga anak-anak, nanti juga akan baik sendiri.”
Mendapatkan tanggapan yang demikian, menyebabkan Lita menarik diri tidak lebih jauh lagi membicarakan anaknya. Padahal, ia merasakan benar-benar berat mengasuhnya. Namun sebaliknya, nenek tetangga depan tak sungkan-sungkan memberi kritik padanya saat ia berkunjung ke rumah Lita: “Apa kau punya ruang tamu yang lain?” Oh, sungguh, tidak tahukah bahwa anak-anaknya selalu membuat rumahnya menjadi kapal pecah?
“Orang tua adalah bos di rumah, bukan anak!” Demikian saran nenek tetangga depan, dengan agak sinis. Mungkin, dalam hati Lita, disangkanya ia tak mampu mengurus anak.
“Hmmm…. kita juga bisa mengikuti kursus bagaimana cara mengatur rumah,” lanjutnya lagi. Lita yang mempunyai tabiat tidak pernah bisa melawan jika ada serangan, hanya mampu tersenyum kecut. Namun, hati Lita selalu memberontak jika mendapatkan kritik dari orang lain. (Bersambung)