Media sosial mempunyai efek viral. Ketika teman kita like atau share sesuatu, maka kita pun terdorong untuk melakukan hal yang sama. Begitu juga ketika menulis status, ada kecenderungan kita menantikan respons orang lain. “Facebook memberi ruang untuk ego kita. Rasanya kalau mendapat like dari banyak orang, kita jadi senang. Ketika sebuah status kita mendapat like banyak, kita cenderung akan menuliskan jenis status yang sama,” jelas Budi Munawar Rahman, dosen studi Islam dan Filsafat Islam Universitas Paramadina.
Harus diakui, sebagai medium yang bersifat netral, media sosial telah membawa banyak hal positif. Budi bercerita, dirinya juga kerap terhibur saat menemukan post yang menyejukkan. Hal-hal seperti motivasi, semangat hidup, kisah-kisah kebaikan hati, dan quote-quote yang mengingatkan kita tentang arti hidup atau untuk menjadi orang yang lebih baik.
Media sosial juga bisa membawa manfaat besar, jika digunakan untuk aktivitas sosial ataupun keagamaan. Misalnya, seperti yang dilakukan oleh artis Sandra Dewi dan Daniel Mananta untuk membantu pembangunan gereja di Flores, atau menggalang solidaritas ketika terjadi peristiwa penembakan Charlie Hebdo di Paris dan pembantaian komunitas muslim Rohingya di Myanmar.
Namun demikian, ada pula hal-hal yang perlu kita cermati. Tak sedikit yang menangkap peluang dari karakter masyarakat kita terhadap hal-hal yang sifatnya spiritual ini untuk keuntungan bisnisnya. Ada banyak sekali bermunculan akun-akun yang memang didedikasikan untuk tujuan komersial, yakni untuk meraih viewer sebanyak mungkin. Tidak harus berjualan barang secara fisik, seperti halnya bisnis e-commerce, tapi hanya dari tiap like dan share yang diperoleh, ia akan mendapatkan keuntungan dari pengiklan.
Ada pula modus SMS berlangganan. Kalau dulu berupa ringtone atau kata-kata mutiara, meminta nomor akun bank, atau sekadar sapaan ‘Hai’, maka sekarang yang sedang ramai adalah SMS doa. Misalnya, SMS semacam ini, “Ya Allah, semoga yang mempunyai HP ini & keluarganya selalu dalam kasih sayang-Mu, diberkahi rezekinya & dijauhkan dari marabahaya. Jawab ‘Amin’ jika Anda berkenan.”
Padahal, kalau kita meng-amin-kan alias membalas SMS tersebut, maka nomor ponsel kita akan terpotong pulsa tiap hari, karena dianggap registrasi ke nomor berlangganan tersebut. Untuk modus yang semacam ini, tentu harus kita waspadai.
Hal lain yang disesalkan, tidak sedikit pula yang menggunakan media sosial untuk hal buruk, menyebarkan kebencian, dijadikan sebagai alat kampanye hitam, menyudutkan lawan, dan keburukan lainnya, yang sayangnya menggunakan kedok agama. Padahal, ketika keburukan itu disebarkan di media sosial, efeknya akan direplikasi begitu rupa, menyebar ke mana-mana.
Budi menyebut, kalau dengan bahaya pornografi, sudah banyak yang aware dan waspada. Tapi sayangnya, kesadaran mengenai bahaya dari keagamaan yang eksklusif, garis keras, dan radikal itu belum terlalu disadari. Masyarakat kita belum bisa membedakan mana yang moderat dan mana yang garis keras. “Asal ada bahasa Arab, lalu dianggap itu pasti dari Alquran. Padahal, mungkin akun tersebut ada yang isinya mau dibawa ke Islam yang membenci kemanusiaan. Kesadaran seperti itu sangat penting,” jelas Budi.
Di media sosial, kelompok radikal seperti ISIS juga punya akun untuk mempromosikan jaringan mereka. “Mereka menulis tentang kebenaran agama dari versi mereka sendiri, menyerang kelompok atau agama lain, dan membangga-banggakan apa yang mereka lakukan di Suriah, padahal sebetulnya mereka tengah melakukan kejahatan,” kata Budi, mengamati.
Ia menambahkan, seharusnya para tokoh masyarakat atau agama memberikan contoh role model dalam memanfaatkan media sosial untuk kehidupan agama. Sebab, kata Budi, tak bisa dipungkiri, fatwa ulama memengaruhi cara pandang komunitas muslim di Indonesia.
“Seorang tokoh harusnya punya tanggung jawab lebih ketika dia mau meng-upload, menulis status, like atau share tentang apa yang menjadi perhatiannya, berkaitan dengan keagamaan. Masyarakat pada umumnya hanya mengikuti arus, dan dibimbing oleh kediriannya yang sebenarnya tidak matang,” jelas Budi. Dalam beragama, kata Budi, perlu sikap kritis, termasuk untuk bisa menyaring, akun mana yang tidak bagus untuk di-like atau share. Kita perlu terus belajar dan mencari pengetahuan. (f)
Ficky Yusrini