Rame, spontan, dan selalu bisa menghidupkan suasana. Selain sosoknya yang tinggi semampai dan kemampuan jalannya di catwalk, itulah kelebihan lain Patricia Gunawan (24) ketika ia menjalani masa karantina pemilihan Wajah Femina 2010. Gelar sebagai Pemenang II yang berhasil ia raih seakan menjadi titik balik, memberinya keyakinan bahwa ia memiliki kemampuan yang diakui orang lain. Setelah itu, ia pun tak berhenti mengasah talentanya: modeling, bisnis, dan kini merambah profesi sebagai master of ceremony.
Pembuktian Diri
“Patrice, kamu itu cocok jadi model. Kamu harus ikut WF, deh!”
“Ah, saya enggak bisa.”
Percakapan itu terjadi pada Mei 2010, antara Patricia dengan Yosafat Dwi Kurniawan, yang saat itu sama-sama menjadi mahasiswa di LaSalle College, Jakarta. Namun, Yosafat, kini desainer yang namanya diperhitungkan di industri fashion tanah air, terus mendorong sahabatnya itu untuk mendaftar. Meski sempat ikut pemilihan icon model sebuah produk jeans saat SMA, Patrice yang waktu itu sedang kuliah di jurusan fashion business, tidak berani mengirim formulir pendaftaran karena tidak yakin bisa.
“Sampai akhirnya ketika keberanian saya sudah terkumpul, ternyata itu adalah hari penutupan pengiriman formulir. Akhirnya formulir pendaftaran saya antar sendiri ke gedung femina,” kenangnya, tertawa. Ia memang tidak pernah lupa akan hari yang ikut mengubah jalan hidupnya itu.
Patrice berhasil membuat dirinya terlihat menonjol di antara finalis lain. Pembawaannya yang penuh canda dan gaya bicara ceplas-ceplos membuatnya mudah disukai. Namun, di saat yang sama ia juga berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan tong kosong nyaring bunyinya. Dengan tubuh setinggi 170 cm, berat (kala itu) 47 kg, dan wajah oriental dengan tulang pipi yang tinggi, ia berhasil memikat para juri. Apalagi, meski belum pernah secara serius menjadi model, ternyata bahasa tubuhnya begitu luwes di depan kamera maupun saat berjalan di runway.
“Karena tidak berharap menang, saya sampai ternganga kaget ketika nama saya disebut menjadi Pemenang II WF,” ujarnya, tertawa. Gelar itu juga menjadi pembuktian dirinya kepada orang tua yang suka protes dengan gayanya yang dianggap terlalu heboh sehingga seperti menghilangkan bakat-bakat yang ia miliki.
“Bangga sekali saya waktu membawa pulang piala dan selempang WF itu. Begitu sampai di rumah, saya angkat piala itu tinggi-tinggi di depan keluarga yang menyambut kedatangan saya dari karantina,” ujar anak bungsu dari 3 bersaudara ini, lagi-lagi dengan tawa meledak.
Wanita kelahiran Jakarta, 14 Juli 1990, ini tidak menyia-nyiakan pintu yang telah terbuka itu. Sosoknya pun mulai wira-wiri di berbagai fashion show. Ia juga menjajal kemampuannya dengan mengikuti Miss Indonesia 2011 dan berhasil meraih gelar Miss Healthy, dan di tahun yang sama menjadi runner up Miss ASEAN yang diselenggarakan di Bangkok.
Hingga kini, setidaknya dalam seminggu ia memiliki 2-3 jadwal show untuk catwalk dan foto. Ia pun tampil menjadi model iklan televisi mulai dari minuman kesehatan, minuman teh hijau dalam kemasan, perbankan, dan yang terbaru adalah menjadi muse untuk salah satu brand internasional yang mengeluarkan produk pewarna rambut.
Menurut Patrice, kunci pentingnya untuk bertahan di dunia hiburan adalah karena dia selalu memberikan yang terbaik di tiap kesempatan yang dia dapat. “Do your best and let God do the rest,” itu adalah moto hidup yang ia pegang selama ini. Saat ini misalnya, kemampuannya secara alami untuk mencairkan suasana, ia kembangkan lebih serius dengan menerima tawaran menjadi master of ceremony. “Awalnya itu karena teman saya meminta saya untuk menjadi MC di pesta perkawinannya bersama Ayu Dewi,” ujarnya. Sebetulnya, temannya sedikit iseng, karena di antara teman-temannya, Patrice sering dibilang mirip presenter Ayu Dewi. “Coba kalau kamu jadi MC berdampingan sama Ayu gimana,” begitu tantang temannya.
Saat menerima tantangan temannya, hanya satu yang ada di benak Patrice: bagaimana caranya agar dia tidak berada di bawah bayang-bayang Ayu. “Karena Ayu itu kocak, saya mencoba mengambil peran yang lebih formal. Dan ternyata, teman-teman memuji gaya saya membawakan acara,” katanya. Dari peristiwa itu, ia pun sadar bahwa ia punya kemampuan untuk menjadi seorang MC.
Karenanya ketika tak lama kemudian ia mendapatkan tawaran untuk menjadi MC dalam acara peluncuran mobil, ia pun menyanggupinya, meski acara itu dibawakan dalam bahasa Inggris. “Itu adalah pertama kali saya resmi menjadi MC,” kata penyuka gaya formal namun fun ala Becky Tumewu ini. Dan kemudian, tawaran demi tawaran pun berdatangan, mulai dari peluncuran parfum, acara di kedutaan besar Amerika, seminar di BUMN, dan yang baru-baru ini iajalani adalah peluncuran satu merek mobil premium.
“Saya baru sadar, menjadi MC itu berat sekali tanggung jawabnya karena hidup dan matinya acara ada di tangan saya,” katanya. Karena itu, ia tak pernah setengah-setengah, meski semuanya itu ia pelajari dengan otodidak. Ia juga tak malu untuk banyak bertanya pada orang-orang yang lebih senior dam kompeten di bidang itu. “Salah satunya adalah Nadia Mulia. Dia membagi tip-tip bagaimana misalnya membuat bridging dari satu poin ke poin lainnya karena saya memang masih lemah dalam hal itu,” ujar Patrice sambil mengatakan ia juga mengingat lagi kelas-kelas presenting yang ia dapat semasa menjadi finalis WF dan Miss Indonesia 2011.
Yoseptin Pratiwi