Keteduhan Spritual
Bertemu dengan femina untuk penulisan artikel ini pada sebuah malam awal November lalu, ia mengenakan atasan sleeveless putih dengan rok hitam mengembang. Riasan wajahnya tipis-tipis saja, matanya yang bak bulan sabit dibingkai eyeliner hitam dengan torehan halus dan pulasan lipstick coklat di bibirnya. Ia memesan chicken strips ala Korea dan tanpa ragu memakannya berteman nasi putih hangat.
Tidak diet? Sambil tertawa, “Saya termasuk beruntung tidak memiliki masalah dengan berat badan sehingga tidak harus diet terlalu ketat. Tapi, saat ini saya sudah mulai sadar untuk mulai pola makan sehat dan mulai berolahraga,” ujarnya, sambil menyesap es lemon tea. Kesadaran hidup sehat itu karena ia melihat beberapa anggota keluarganya yang terkena penyakit, entah diabetes maupun kanker.
Keluarga kini menjadi fokus utama wanita penyuka traveling ini. Meski sibuk, ia selalu sempatkan untuk mengobrol dengan papa mamanya di rumah. Ia juga memiliki whatsapp group dengan keluarga besar, termasuk para sepupu yang tinggal di Australia maupun Amerika. “Wah ramai banget setiap hari ada saja yang diobrolin,” ujarnya.
Patrice tak memungkiri, dulu dia sebal dengan orang tuanya. “Kok, gitu banget sih sama anak,” begitu pikirnya. Apalagi, meski di rumah ada mobil dan supir, ia ke sekolah diharuskan naik angkutan umum. “Saya protes sampai nangis-nangis pun tak digubris,” katanya.
Lama-lama ia tahu, itu adalah cara orang tua menempa kepribadiannya agar bisa survive dalam situasi apa saja. Misalnya bagaimana dia harus bisa menghadapi kata-kata rasis dari orang-orang iseng yang ia temui di jalan yang menurutnya bila ada yang menganggunya justru akan dia balas dengan ramah tamah yang membuat penganggunya jengah.
Kini, langkah wanita penyuka sepatu ini tak berhenti di satu titik. Setelah mantap dengan pilihan kariernya, ia pun sudah sampai tahap untuk menyeimbangkan hidup dengan memperbanyak kegiatan yang mempertajam spiritualitasnya. “Saya dulu gemar party, bukan untuk minum atau nge-drug, tapi sebetulnya untuk menyalurkan hobi nge-dance,” katanya. Lama-lama ia sadar, bersenang-senang hampir tiap malam itu tidak memberinya apa-apa.
“Di sisi lain, ada masa ketika saya tidak punya uang, di ATM tinggal Rp100 ribu, karena uang habis untuk traveling atau ketika bisnis sedang jatuh, tapi saat itu saya diminta untuk donasi ke panti asuhan dan tetap saya beri, maka tak lama kemudian tawaran kerjaan datang bertubi-tubi,” ceritanya. Dan ketika kisah ‘miracle’ itu ia alami berkali-kali, membuatnya tersadar bahwa sudah waktunya ia untuk mengubah hidup.
“Mungkin saya tidak bisa menyumbang uang dalam jumlah besar. Tapi saya mau memberikan tenaga dan pikiran saya untuk membuat acara yang bisa menghasilkan dana bagi panti-panti asuhan dan rumah jompo,” katanya. Ia juga suka rela mengajak teman-temannya penggemar dunia gemerlap untuk membagikan sedikit rezeki mereka dan menyalurkan ke pihak-pihak yang membutuhkan. “Sebetulnya, banyak orang ingin berbagi, tetapi belum tahu bagaimana caranya. Saya ingin menjadi perantara bagi mereka,” ujar Patrice yang tahun depan berencana untuk mencoba karier di Bangkok, Thailand ini. (Yoseptin Pratiwi)