<<<<< Cerita Sebelumnya
Bagian 4
Kisah Sebelumnya:
Budin, anak suku Bajo dari Pulau Bungin sangat ingin melanjutkan sekolah. Sayangnya, Ua’ Mman, ayahnya, sangat miskin. Di sisi lain, ada Pak Bur, guru SD yang dengan semangat ingin memberikan pendidikan untuk anak-anak Bajo. Ketika semangat Budin sedang tinggi, ia menemui kenyataan ayahnya tak sanggup lagi menyekolahkannya. Budin juga harus merelakan kambingnya dijual untuk pengobatan Samaila, kakaknya yang kena kram.
Baru saja alam cerah tiba-tiba gelap. Awan mendung membungkus langit Bungin, lalu tak lama hujan pun tumpah ruah mengguyur Bungin yang selalu tampak seperti seekor ikan pari betina yang merana. Cuaca musim barat sangat sulit ditebak. Alam hanya patuh pada dalil-dalil yang ditetapkan Tuhan padanya.
Supaya tidak berubah pikiran, Budin dan ayahnya menyegerakan menjual kambing itu. Mereka menuruni tangga kayu diiringi hunjaman butir-butir air hujan yang sebesar biji jagung. Badan mereka basah kuyup diguyuri hujan. Tangga kayu menjadi licin dan gang-gang menjadi becek. Mereka membuka bara. Rencananya mereka akan menjual si Tibok supaya uangnya bisa lebih mencukupi. Kambing jantan di Bungin lebih mahal dari kambing betina.
Budin sedikit berat membuka tali pengikat Tibok tapi terpikir kakaknya dan keadaan sekarang ia berupaya keras menekan perasaan. Tibok, seperti sudah tahu bahwa ia akan dijual. Ia mengadakan perlawanan, hal yang jarang ia lakukan pada Budin. Embek… embek… embek… suara Tibok dan Bebeseh bersungut-sungut. Ua’ Mman bersikukuh menarik tali si Tibok keluar bara. Rencananya pada Ma’ Saripa mereka akan menjualnya. Ma’ Saripa tinggal membayar sedikit menyesuaikan dengan uang yang mereka pinjam dan harga kambing.
Selang beberapa menit akhirnya Tibok luluh dan mau menurut setelah Budin mengusap kepalanya. Ua’ Mman menarik Tibok keluar dan Budin mendorongnya di belakang. Tanpa di ketahui Ua’nya, air mata Budin menetes berbaur dengan bulir-bulir air hujan yang menerpa lembut wajahnya.
Di kolong rumah, Ma Saripa, tali panjang yang mengikat leher Tibok ditambatkan di tiang rumah. Tibok memasang wajah lelah dan sendu ketika Budin menatapnya. “Tega benar kau, Din. Lihat diriku ini kedinginan tapi kau malah akan meninggalkanku. Mana kesetiakawananmu?” begitu kira-kira maksud seraut itu.
Budin tidak berkata apa-apa. Ia iba melihat kambing kesayangannya itu basah kuyup dan tampak kedinginan. Keharuan di hatinya semakin menyesakkan dada sebab sebentar lagi mereka akan berpisah. Sebelum pergi Budin mengusap air yang hinggap di bulu-bulu sekujur tubuh Tibok. Sementara Ua’ Mman memanggil Ma’ Saripa supaya segara mengatur semuanya.
****
Budin bangun dari tidurnya setelah azan subuh sayup-sayup terdengar di telinganya. Ia mengucek-ngucek matanya. Kepalanya sedikit berat, ia malas sekali melangkah ke dapur untuk mencuci muka. Ia tertegun terpikir kejadian-kejadian yang baru saja ia lalui. Bocah kecil itu tampak kusut wajahnya diperlakukan nasib dengan kasar. Mata liar nan berbinar miliknya hampir saja redup bak lampu minyak yang diaduk-aduk angin.
Semuanya berjalan seperti mimpi. Tapi, bekasnya begitu nyata terasa sehingga mampu mengubah segalanya. Ia terpikir impiannya. Barangkali impian ini tidak cocok untuk anak Bajo yang miskin seperti dirinya. Apalagi terpikir keadaan kakaknya, maklum juga ia akhirnya.
Budin masih terpaku menatap bantal guling kapuk di sampingnya. Seperti kata ayahnya, ia harus disadarkan. Ah, disadarkan, seperti ia anak kecil yang tersesat saja. Tapi memang ia harus sadar, sadar bahwa lingkungannya primitif terhadap pendidikan, sadar bahwa mereka miskin, sadar bahwa kakaknya tidak mampu berbuat apa-apa untuk dirinya. Dan untuk itu sebaiknya impian sekecil apapun harus di kuburkan.
Dengan berat ia tengok kakaknya yang terlelap di balik selimut tebal berwarna abu-abu yang di bagian tertentu sudah bolong dimakan tikus. Lalu ia menoleh sedikit ke samping kanan, seorang lelaki bertubuh ringkih persis seperti ranting bakau kering tergeletak di lantai papan dengan sarung membungkus kakinya dan ia tanpa baju.
Budin menatap kedua lelaki paling berharga dalam hidupnya lalu tersenyum getir. Betapa ia sangat menyayangi ayah dan kakaknya. Betapa ia tak yakin akan bisa meraih impian yang ia bangun bersama Pak Bur, saat tubuh-tubuh tak berdaya itu ia pandang lekat-lekat.
Gema azan dari pengeras suara masjid sudah menguap ditelan sisa-sisa bala tentara malam yang dingin. Suara ibu-ibu yang hendak ke darat menjajakan ikan terdengar bersahutan, lalu tak lama menghilang.
Budin berusaha mengusir sisa-sisa kantuk yang bergelayutan di pelupuk matanya. Ia kemudian bangkit mengambil sarung dan membangunkan ayahnya untuk segera sholat.
“Sebentar lagi waktu subuh habis, Ua’. Cepat Ua’ bangun! ”
Ua’ Mman hanya menggeliat kemudian kembali lagi dalam bentuk seperti pistol. Karena ikomah sudah menggema terpaksa ia meninggalkan ayahnya dan segera berlari ke masjid. Di masjid ia bertemu Pak Bur. Sehabis shalat mereka mengaji sampai tanah perlahan menerang.
****
Sungguh ia tak percaya mendapati dirinya sedang duduk di dermaga bersama seorang gadis yang selama ini terbayang di pikirannya. Pak Bur, sesekali menggigit bibirnya, mencoba memastikan bahwa ia sekarang tidak sedang bermimpi.
“Ani! ” panggilnya malu-malu. Guru muda itu benar-benar gugup.
“Ya, Pak,” sahut Ani sambil wajahnya ia longokkan ke muka Pak Bur.
Sesaat hening. Dan Pak Bur hanya mampu tersenyum penuh malu melihat muka Ani yang sedikit memerah. Mereka duduk berdampingan di bibir dermaga dengan kaki menjuntai. Semilir ingin yang bertiup membelai-belai wajah dan rambut mereka. Masih hening, walaupun suara mesin dari lepa-lepa yang baru pulang membahana di horizon.
Pak Bur belum mampu menguasai diri, padahal ini bukan yang pertama kalinya ia bersama seorang gadis. Waktu masih kuliah ia terbilang banyak pacar. Ia seorang ketua Mapala yang berpostur tegap dan bertampang oke ditambah perangai yang baik. Properti lahir dan batinnya sangat memikat kaum hawa. Ia juga pandai sekali merayu. Namun, sekarang mati kutu. Berhadapan dengan Ani, ia seperti seorang orator yang kehabisan kata-kata.
Sesuai janji yang tertera di secarik kertas surat berwarna ungu. Sore ini mereka akan jalan-jalan ke dermaga. Amin, tempat pak Bur menitip surat untuk Ani, sudah melakukan tugasnya dengan baik. Salah satu murid kesayangannya itu dalam urusan mengemban tugas bisa dikatakan Amin dapat percaya.
Lama tak bertemu Pak Bur, rupanya ia sudah berteman dekat dengan Ani. Terakhir kabar yang beredar bahwa mereka sudah pacaran sejak seminggu yang lalu. Kabar itu santer terdengar seantero Bungin. Masuk dalam lima besar peristiwa yang selalu diperbincangkan di setiap kerumunan warga. Pak Bur sendiri tidak menyangka berita perihal hubungannya dengan Ani dikonsumsi publik Bungin, padahal, semampu mungkin mereka menyembunyikan hubungan itu. Menurut mereka biarlah hubungan itu berjalan apa adanya. Jika buru-buru dibeberkan biasanya hubungan tidak langgeng.
Tampaknya Pak Bur tidak main-main dengan Ani. Ia telah jatuh cinta, benar-benar telah jatuh cinta pada seorang gadis Bajo yang lugu. Setiap hari dengan sedikit alasan konyol ia pergi ke rumah Ani membeli beberapa buah bolu tawar. Di sana ia akan diam sejenak, mengajak Ma’Saripa berbincang lalu kemudian berbalik pada Ani. Itu yang dilakukan Pak Bur dalam masa penjajakan. Tidak disangka usahanya berbuah keberhasilan. Mereka akhirnya berpacaran.
Berikutnya, berjalan dengan surat-menyurat saja. Tukang pos yang sudi bolak-balik rumah Ani dan Pak Bur tak lain si Amin. Ia yang sangat berjasa atas hubungan dua manusia yang dimabuk cinta itu. Berkat bantuan Amin pula sekarang mereka telah duduk berdampingan di bibir dermaga. Gelagat keduanya penuh malu tapi mau. Dalam pada itu, tak seorang pun dari mereka yang mampu berucap dengan fasih, seolah kata-kata yang keluar dari mulut mereka adalah batu seberat puluhan kilo.
“Semalam a... aku, tidak bisa tidur!” ucap Pak Bur sedikit gugup sembari menyertainya dengan sesungging senyum ragu.
Ani pula tak kalah gugupnya. Ia yang perawan cinta tak tahu harus memulai dari mana selain menunggu Pak Bur memulai duluan.
“Kenapa?” jawab Ani sekenanya.
“Di rumah banyak nyamuk. Hujan lebat dua hari yang lalu mengundang banyak nyamuk ke rumah.”
“Pakai baigon, Pak!”
“Kok, pak lagi. Kemarin janjinya manggil saya, kakak” protes Pak Bur.
Suasana tegang sedikit berkurang. Ibarat mesin barangkali tadi baru pemanasan.
“Oh, maaf, saya lupa,” raut muka Ani berubah malu-malu. Ia lantas tersenyum.
Selanjutnya pembicaraan mereka berlangsung indah. Setidaknya menurut mereka sendiri. Topik-topik yang remeh-temeh sedap saja di telinga dua sejoli yang dimabuk cinta. Sesekali mereka menyelinginya dengan senyum tawa yang lugu. Saling mencuri-curi pandang kemudian memuji satu sama lain. Di bawah langit senja mereka mengikrarkan cinta dengan bahasa tubuh masing-masing.
***
Malam baru saja merambah. Pak Bur memeriksa PR anak muridnya di ruang tengah. PR matematika yang dikumpul tiga hari yang lalu baru sempat ia periksa. Ia bongkar balik satu persatu buku murid-muridnya. Pada lembar kerja ia langsung membubuhinya nilai. Hampir semua muridnya mendapatkan nilai yang bagus kecuali Budin.
Pak Bur tertegun menatap hasil kerja Budin. Bocah itu biasanya mendapat nilai paling tinggi, bahkan Rifai dan Amin yang cukup cemerlang otaknya tak mampu menandingi Budin. Namun, apa yang Pak Bur lihat sekarang adalah suatu yang menggiriskan. “Berarti Budin tidak memperhatikan pelajaran!” pikir Pak Bur. “Kasihan sekali anak itu!”
Ua’ Banggo tiba-tiba menghampiri Pak Bur di ruang tengah. Lelaki paruh baya bertubuh gempal dan berkulit gelap itu duduk di sebuah kursi kayu di samping Pak Bur. Pak Bur langsung memperbaiki duduknya.
“Sibuk ya, Nak? ” tanya Ua’ Banggo.
“Oh, tidak Ua’. Saya lagi memeriksa PR anak-anak!” jawab Pak Bur sembari menutup buku-buku muridnya lalu memindahkan ke pinggir meja di depan mereka.
“Ada yang bisa saya bantu, Ua’?”
“Tidak ada, Nak. Cuma Ua’ ada sedikit perlu padamu.”
“Apa itu, Ua’? ” tanya Pak Bur penasaran. Wajahnya sedikit terkejut. Tidak biasa Ua’ Banggo ada keperluan penting padanya. Ia jadi bertanya-tanya dalam hati.
“Oh, cu... cuma teman, Ua’ ” Pak Bur tergagap. Ia merasa tidak enak hati hubungannya diketahui ayah angkatnya.
“Pacar juga tidak apa-apa. Tapi, Ua’ hanya berpesan. Hati-hati. Pemuda di sini banyak yang suka pada, Ani. Mendengarmu ada hubungan dengannya, pasti banyak yang patah hati. Banyak tingkah nanti mereka itu”
Pak Bur mengangguk-angguk takzim mendengar petuah luhur ayah angkatnya.
“Terimakasi, Ua’. Saya akan pegang kata-kata, Ua’.” ucap Pak Bur setelah Ua’ Banggo menutup petuahnya.
Malam berlangsung sunyi dan dingin. Bulan separu yang tadinya tertutup awan mendung perlahan tersibakkan kemudian tak lama langit bersinar dikegelapan.
Pak Bur berbaring di ranjang kamarnya. Menikmat wajah Ani yang berkelebat di pikirannya. Kadang ia senyum-senyum sendiri mengenang saat bersama Ani. Ah, guru bagai itu benar-benar jatuh cinta. Mukanya sedikit memerah. Diraihnya bantal guling di sampingnya lalu memeluknya gemas. Tapi, tak lama, tiba-tiba air mukanya berubah serius. Kata-kata Ua’ Banggo menyerbu barikade kenangannya bersama Ani. Kata-kata itu serupa asap tebal di pikirannya.
Pak Bur menghela nafas panjang. Angin dingin menyerbu jendela kamarnya yang terbuka. Ia bangkit lalu menutupnya.
Esoknya, pagi-pagi sekali Pak Bur sudah berada di kelas. Murid-murid yang masuk belakangan memberi salam penuh hormat. Budin, Rifai dan Amin, tiga sekawan itu masuk berbarengan. Mereka memberi salam lalu duduk. Setelah kumpul semuanya, Pak Bur tak serta-merta mengajar. Di bangkunya, ia menatap sejenak murid-muridnya. Tak kurang dari empat belas orang. Kelas menjadi hening. Murid-murid yang duduk manis dengan kedua tangan diletakkan di atas meja menatap Pak Bur polos.
Pagi itu, Pak Bur tak mau tahu lagi, tak peduli lagi. Metode mengajar yang sempat ia ubah lantaran terbentur paradigma primitif warga pulau ini, ia terapkan kembali. Malah ia desain sedemikian rupa. Lebih simpel dan mudah dicerna namun tetap menginspirasi.
Ia tidak bisa melihat wajah-wajah yang polos itu semakin polos lantaran racun kebodohan membius otak mereka. Maka sebelum mengakhiri pelajaran ia bercerita sepotong kisah tokoh-tokoh sukses dunia. Ia kobarkan semangat murid-muridnya melalui pendramatisan cerita. Hasilnya, kejayaan yang dulu tenggelam mencuat kembali. Nilai-nilai dan keproaktifan murid-muridnya benar-benar menanjak.
Budin sendiri sudah kembali seperti semula. Nilai-nilainya di atas rata-rata. Sepertinya ia sudah tidak perduli dengan keadaan keluarganya. Pak Bur amat menyukai itu. Ia tersenyum lega, seolah-olah ia baru saja memecahkan masalah
besar yang menuntut kemaslahatan umat. Tiga sekawan, ningratnya kelas enam tersenyum senang pada guru muda berhati ikhlas itu.
Pada lain waktu, Pak Bur mengingatkan murid-muridnya kalau dua minggu lagi ujian nasional diselenggarakan.
“Rajinlah belajar dan jangan perdulikan masalah yang datang. Itu urusan belakangan. Pak, yakin, kalian pasti akan menjadi orang yang hebat.”
****
Semakin hari kondisi Samaila semakin membaik. Kenyataan ini merupakan berkah tiada terkira yang diberikan Allah pada keluarga Ua’ Mman. Melihat Samaila sudah bisa berjalan cukup jauh walaupun masih dengan bantuan dua bilah tongkat dari kayu bakau yang didesain sedemikian rupa, bagi mereka berkah ini tak ubahnya penebusan lunas kesedihan mereka. Termasuk kesedihan karena kehilangan kambing kesayangan Budin, Tibok.
Pada sore hari yang cerah, Budin mengajak Pak Bur jalan-jalan bersama Samaila ke dermaga. Kebetulan Pak Bur ingin menggali informasi lebih dalam seputar dunia penyelaman udang lobster di Flores. Pada tetua pulau ini ia hanya mendapat keterangan seputar seluk beluk memancing, ngoncor dan menyelam di perairan sekitar Bungin. Maka kesempatan ini tak mau ia sia-siakan.
Di dermaga, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan Pak Bur yang dijawab Samaila. Mulai dari cara menyelam menggunakan udara tabung kompresor yang dihubungkan selang panjang berwarna kuning, cara menangkap lobster, memperkirakan arah mata angin, bertahan di ombak yang besar saat sedang menyelam, apa itu kram dan kenapa bisa kena kram, bagaimana kehidupan di atas perahu selama berbulan-bulan sampai pada tempat menjual dan harga udang lobster.
Sang guru muda sudah tampak seperti wartawan. Air mukanya penuh minat saat Samaila menjelaskan satu persatu.
“Oh, ya. Kapan-kapan jika Samaila sudah sembuh ajarkan saya nyelam, ya?”
Budin tersenyum geli. “Igih, tidak gampang, Pak, menyelam pakai kompresor,” Budin melemparkan pandangan pada kakaknya, lalu tersenyum lagi.
“Tentu bisa, Pak! Siapa pun pasti bisa Din asalkan dia mau belajar.” Samaila menjawabnya bijak lalu menatap Budin lembut, seolah menegur adiknya karena telah mematahkan semangat gurunya.
“Nah, dengar itu, Din. Samaila bilang bisa.”
Budin beringsut malu-malu.
“Berarti saya nanti diajari nyelam. Hmm... jadi tidak sabar menunggu Samaila sembuh.”
Mereka pulang dengan hati riang. Di jalan, mereka bertemu Ani yang sedang menjunjung dulang di kepalanya. Ani sedang menjajakan bolu tawar ke rumah-rumah. Budin menyapa, Ani. Gadis anggun nan lugu itu malu-malu mendapati Pak Bur ada bersama Budin dan Samaila. Ia lantas memberanikan diri menyapa pula. Pak Bur membalasnya dengan menyungging senyum terbaiknya. Setelah itu mereka pun berlalu.
Ua’ Mman sedang duduk terbatuk-batuk di serambi rumahnya ketika Budin dan Samaila tiba dari jalan-jalan.
“Kalian dari mana. Ukh... ukh... ukh? ” tanya Ua’ Mman sambil terbatuk-batuk.
“Dari dermaga, Ua’. Jalan-jalan!” jawab Budin setelah sampai di tangga.
“Jangan terlalu jauh bawah Ila, Din!. ukh... ukh. Lelah nanti dia.”
“Maaf, Ua’. Aku yang minta.” Sahut Samaila.
Budin lantas masuk ke bara. Dilihatnya Bebeseh sedang bermuram durja di sudut bara. Tatapannya lelah. Lelah menanti kekasihnya tak pulang-pulang. Bebeseh merana, terluka lantaran berpisah dengan Tibok. Budin membelai-belai badannya, menatap Bebeseh penuh rasa iba. Tatapan dan belaian Budin seolah mengisyaratkan bahwa ia pula bersedih atas kepergian Tibok. Dan bahwa tiada jalan lain saat ini selain harus bersabar.
****
Ujian nasional di ambang pintu. Murid kelas enam belajar lebih intensif. Setiap sore mereka tak pernah absen mengikuti les. Mereka pula membuat kelompok belajar, dan jika malam mereka berkumpul di salah satu rumah anggota yang sudah disepakati untuk belajar.
Murid-murid kelas enam tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mereka lebih siap menghadapi Ebtanas, lebih bersemangat sekolah, lebih aktif di kelas. Semua itu diakui kepala sekolah sebagai satu kebanggaan dan langkah yang tepat karena telah mempercayai Pak Bur mengajar kelas enam.
Di rumahnya, Budin jungkir-balik belajar siang malam. Ia benar-benar ingin memperlihatkan pada Samaila betapa ia murid yang pintar. Hanya ingin memperlihatkan saja, sebab untuk melanjutkan sekolah sudah tidak mungkin. Ia ingin menutup karier sekolahnya dengan menjadi lulusan terbaik dan mendapat ranking satu. Melihat kegigihan Budin belajar, ayahnya sedih lagi. Ironi dalam dirinya menghantam dadanya. Lalu tiba-tiba, bapak tua itu mendekati anaknya. Dengan menatap miris ia berkata.
“Din!”
“Ya, Ua’.”
“Jika kamu lulus nanti, kau boleh melanjutkan sekolah. Ua’ akan berusaha lebih keras untuk membiayai sekolahmu.”
“Benarkah, Ua’?” tak kepalang senang Budin mendengarnya. Ia sempat tak percaya.
“Benar, Din. Belajarlah yang rajin! ”
Ua’ Mman kemudian berlalu. Sepertinya lelaki paruh baya itu ragu-ragu dengan keputusannya. Antara berani dan takut tergambar jelas di wajahnya.
Ua’ Mman langsung duduk diam di serambi, meninggalkan Budin yang gembira di ruang tengah.
****
Malam itu, dua hari sebelum Ebtanas diselenggarakan. Ua’ Mman tiba-tiba jatuh sakit. Badannya menggigil sambil batuk-batuk. Sejak pagi tadi panasnya belum turun-turun. Budin kalang kabut memanggil dukun-dukun. Air mukanya menyiratkan rasa khawatir yang mendalam lebih dari khawatirnya ketika ia mendapati kakaknya kena kram. Ia bahkan lupa makan, tak konsentrasi belajar. Pikirannya sepenuhnya tercurahkan pada sang ayah.
Samaila pun tak kalah khawatirnya. Tatapannya nanar melihat ayahnya menggigil dan batuk-batuk. Ia yang belum pulih betul tak bisa berbuat apa-apa selain memberi Budin saran untuk bertindak.
Hasil dari diagnosis dukun-dukun itu hampir sama. Mereka mengatakan bahwa Ua’ Mman tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan. Sang dukun menyarankan untuk minum puder, obat penurun panas, dan istirahat yang banyak. Budin mengikuti saran itu, disuruhnya ayahnya istirahat setelah meminum obat. Esoknya, kondisi Ua’ Mman, mulai membaik.
“Ua’! ” panggil Budin ketika ia menanak nasi untuk makan pagi itu. “Besok kami ujian. Din, minta doa, Ua’. Semoga Din lulus dan mendapat ranking satu! ”
Ua’ Mman mengangguk. Wajahnya lelah, bahkan untuk tersenyum saja ia tak mampu. Budin kasihan melihat kondisi ayahnya. Ia lalu menyuruh ayahnya untuk istirahat sebanyak-banyaknya supaya sembuh total.
Ditemaninya ayahnya seharian penuh sebelum besoknya ujian. Segala pekerjaan rumah ia kerjakan. Dari mulai memasak, mencuci, menyapu, membuatkan kopi dan menyiapkan segala kebutuhan ayah dan kakaknya. Dalam keadaan seperti ini ia tak mau ke mana-mana.
****
Kawanan besar burung bangau yang bermigrasi dari sejumput bakau di muara Alas menuju raksasa hutan bakau pulau panjang melintas di atap rumah Ua’ Mman.
Ua’ Emman sedang duduk di kursi kayu di sudut ruang tengah sambil membungkus badannya dengan selimut abu-abu tebal yang sering dipakai Samaila. Pagi ini, raut mukanya seperti orang bingung. Sebelum pergi ke sekolah Budin memberi kabar pada ayahnya bahwa hari ini adalah hari pembagian rapor sekaligus pengumuman kelulusan. Dulu, sebelum Budin kelas enam, Ua’ Mman selalu riang gembira menghadapi hari pembagian rapor. Dengan bangga ia akan memuji anaknya di depan ayah-ayah yang lain. Namun, sekarang lelaki yang berperawakan seperti ranting pohon bakau itu terlihat seperti orang bingung. Tak tampak bahagia juga tak tampak sedih.
Ua’ Mman melongok ke pintu. Sinar matahari yang serupa batangan-batangan cahaya menerobos celah-celah dinding gedek dan tumpah ruah melalui pintu dan jendela yang terbuka. Samaila duduk di papanjak, beristirahat sejenak sehabis berjalan. Tadinya, Budin ingin mengajak Samaila menemaninya ke sekolah, tapi karena kondisi Samaila yang kurang baik akhir ia pergi sendiri.
Selang beberapa menit air muka Ua’ Mman berubah gelisah. Sorot matanya nanar memandang jauh keluar pintu. Tepat pukul sembilan, seorang bocah laki-laki menghambur ke arah rumah Ua’ Mman. Di tangan kanannya ada buku berwarna merah dan di tangan kirinya ada selembar kertas tebal dan selusin buku tulis yang masih disegel.
“Itu, Din!. Ua’! ” teriak Samaila.
Budin langsung duduk di samping kakaknya, memperlihatkan semua rapor, piagam dan selusin buku yang diberikan Pak Bur padanya.
“Lulus dan ranking satu, Ila! ” senangnya dengan memperlihatkan buku dan piagamnya. “ Hebatkan, Ila?”
Samaila ikut senang melihat hadiah, piagam dan hasil rapornya. Ia terus memuji-muji adiknya. Sementara sang ayah duduk di kursi masih dengan selimut tebalnya. Budin cepat-cepat naik ke atas hendak membagi kebahagiaan yang ia rasakan pada ayah tercinta. Hentakan kakinya di tangga membuat rumah panggung itu bergetar, seperti dihantam gempa.
“Ua’! Din lulus dan mendapat ranking satu,” ucap Budin semangat sambil menunjukkan hadiah, piagam serta rapornya.
Ua’ Mman bukannya menjawab malah memandangnya dengan penuh haru. Tak lama, ia pun kemudian menyungging senyum kecil. Air muka yang seperti itu sudah tak asing lagi bagi Budin. Ia segera paham maksud seraut itu, walaupun ayahnya sudah mengizinkannya untuk melanjut ke SMP, tapi Budin sangat tahu bahwa jauh dalam hati ayahnya, ia demikian gelisah memikirkan jika nanti anaknya terpaksa berhenti hanya gara-gara masalah ekonomi.
Budin tersenyum getir melihat perubahan wajah ayahnya. Dengan berat ia memeluk sang ayah sambil berbisik “Din, tidak akan melanjutkan sekolah, Ua’!. Din, akan menemani Ua’ ngoncor.” (Tamat)
Sandi Sardi