<<<<< Cerita Sebelumnya
Keluarga Kecil di Pinggir Laut
Budin, nama bocah itu, senang sekali bercerita tentang sekolahnya pada ayahnya, Ua’ Mman. Saat mau tidur, saat sedang makan atau saat ngoncor sambil menunggu ikan masuk ke perangkap jaring. Ia, ditingkah desau semilir angin darat, tak pernah absen bercerita seputar kejadian sewaktu sekolah. Anehnya, sejuta kali ia bercerita yang itu-itu saja, ayahnya tak pernah bosan mendengarnya. Alasannya tidak lain, ayahnya bangga ia bertahan sekolah di tengah masyarakat suku Bajo-nya, yang kurang peduli pada pendidikan.
Teman-temannya --anak-anak Same itu-- sebelum naik ke kelas empat SD sudah banyak minggat ke lepa-lepa ayah atau kakak mereka. Menyelam, ngoncor, mancing dan berburu ikan hias. Berbaur dengan asap diesel lalu menjemur diri seharian tiap hari di terik matahari yang tak lelah menyemburkan bau hangus. Atau saban malam menyesap semilir angin darat yang terkadang membuat kisut jemari saat menunggu ikan masuk ke perangkap jaring.
“Pintar ke ko, Nak?” lirih Ua’ Mman berkata kepada anak bungsunya.
Budin, anak bungsu dari dua bersaudara. Si sulung sudah remaja dan sampai sekarang sudah satu tahun belum pulang-pulang dari menyelam udang lobster di Flores. Sebenarnya itu juga alasan Ua’ Mman menyayangi Budin. Jika ia rindu pada Samaila, kakak Budin, yang jadi penawar hatinya tak lain hanyalah Budin.
Tapi, walau Ua’ Mman senang mendengar anaknya bercerita, tak ia pungkiri pula ada rasa khawatir yang selalu menggerayang di benaknya. Pusing kadang-kadang ia memikirnya. Ia hanya ingin anaknya itu sekolah sampai lulus SD saja, jangan melanjutkan ke SMP. Ia tidak memiliki kemampuan untuk membiayainya. Tapi, semangat anaknya sudah telanjur tersulut, dan tidak mungkin baginya untuk tiba-tiba menyuruh anaknya menguburkan impiannya.
Tiap kali Budin bercerita, tak pernah ia lupa menyisipkan impiannya yang ingin sekolah sampai SMA. Mendengar itu hati si ayah ciut.
“Ini gara-gara guru muda itu!” gerutunya, saat mendengar Budin bercerita tentang semangat yang dikobarkan Pak Bur, guru bagai di SD Bungin.
Siapa yang tidak tahu keluarga mereka di Pulau Bungin. Cuma nelayan ngoncor yang berpenghasilan tidak seberapa. Tidak ada yang bisa dijual untuk biaya sekolah. Rumah mereka berdiri reyot di pinggir laut. Perabotan di dalamnya ala kadarnya. Apalagi sejak ibunya meninggal, rumah panggung kecil itu makin berantakan.
******
Satu-satunya yang paling berharga di keluarga itu dan memungkinkan untuk dijual adalah kambing. Dua ekor kambing milik Budin yang ia namai Tibok untuk yang jantan dan Bebeseh untuk yang betina selalu nyaris melayang tatkala ada keperluan mendadak. Seperti membiayai pengobatan mereka saat tiba-tiba sakit, atau membayar iuran sekolah. Untungnya, selalu ada rezeki tak terduga sehingga Tibok dan Bebeseh tidak jadi dijual.
Budin sayang sekali pada kambingnya. Setelah pulang sekolah, ia akan mendayung ke jajaran pohon-pohon bakau yang tumbuh tak jauh dari pulaunya, lalu memetik daunnya untuk kemudian diberikan pada kambing itu.
Sebenarnya, kambing-kambing itu tidak terlalu mengharapkan daun bakau untuk dimakan. Kambing Bungin tidak suka repot, apa yang ada di depan mata, itu yang dilahap. Dan mereka tetap kenyang, walau hanya setumpuk kertas, kardus, ikan dan segala jenis kain. Tapi repotnya, barang-barang itu tidak gratis dan tidak pula diperuntukkan untuk kambing. Mereka memakan itu karena merampas, semisal saat staf desa lupa menutup kantor desa, lalu di dalamnya ada setumpuk kertas. Saat pakaian jemuran ditinggalkan empunya. Atau saat ibu-ibu penjemur ikan meninggalkan ikan jemurannya. Saat-saat seperti itu kesempatan mereka menggasak perutnya dengan barang-barang itu.
Pernah Budin terbahak-bahak saat ayahnya bercerita sesekali menyelingi ceritanya tentang seorang bagai penjual soto yang hendak membeli kambing.
Waktu itu, kata ayahnya, ada bagai membeli kambing jauh-jauh dari darat datang ke sini. Ketika sudah membeli, kambing itu ia bawa pulang dan langsung disembelihnya. Tiba-tiba di perut kambing ia melihat gulungan kertas yang agak sobek sedikit. Ia periksa, dan alangkah terkejutnya karena ternyata gulungan kertas itu adalah segulungan uang kertas berjumlah lima ratus ribu. Betapa senang hati si bagai mendapati uang lima ratus ribu di perut kambing. Belum jualan sudah dapat uang.
Lantaran terlalu senang keesokan harinya ia datang lagi ke sini untuk kembali membeli dengan harapan kejadian kemarin terulang lagi. Setidaknya seratus ribu dalam perut kambing sudah lumayan. Setelah membayar, ia pun membawa pulang kambingnya dan tanpa menunggu lama ia sembelihlah kambing itu dengan penuh semangat. Apa yang terjadi? Benar saja di dalam perut kambing ia menemukan sesuatu, tapi bukan lagi segulungan uang kertas, melainkan hanya sepotong kertas putih basah dan lengket berbaur dengan sobekan kain dan daging ikan. Ia ambil kertas itu, lalu diperiksanya. Ia terkejut karena ternyata pada kertas itu tertulis kalimat yang berbunyi: “Anda belum beruntung”. Alangkah dongkol hati si penjual soto. Namun, tak bisa pula ia tahan tawanya sebab ia pikir si kambing layaknya kotak undian saja.
Budin tahu cerita itu tidak sepenuhnya benar. Namun, ia lebih menikmatinya sebagai lelucon dari seorang paruh baya yang menyayanginya. Selain ayah dan kakaknya, tidak ada lagi orang yang disayanginya. Demikian pula dengan sang ayah. Alasan satu-satunya mengapa ia tidak berniat beristri lagi karena Budin dan Samaila sudah cukup baginya untuk bahagia.
***
Kadang-kadang Budin selalu bermenung di serambi rumahnya. Semenjak kakaknya pergi lama, ia sering tiba-tiba melamun. Pagi ini, ia melamun lagi. Raut wajahnya sesunyi air laut yang menggenangi kaki rumahnya. Bayangan dirinya berpendar-pendar di atas permukaan laut. Ia menengok ke bawah. Saat itu awal Februari 1999.
“Kapan Kakak akan pulang? Kami rindu pada Kakak!” lirihnya. “Din sekarang sudah kelas enam SD. Kakak harus pulang! Lihat Din dapat peringkat satu!”
Harapan itu tidak pernah hilang di benaknya. Ia ingin sekali kakaknya segera pulang, supaya penerimaan rapor tahun ini dapat disaksikan kakaknya. Ia ingin kakaknya senang ketika ia menerima hadiah juara satu.
Sudah berkali-kali ia dan ayahnya menitip surat pada warga sepulau yang hendak berlayar ke Flores. Surat itu berisi luapan hati yang rindu, cerita-cerita dan menyuruh pulang. Namun, sampai sekarang selalu tidak ada jawaban dari kakaknya. Kabar terakhir empat bulan yang lalu hanyalah sepotong berita yang dibawa oleh pelaut lain yang pernah bertemu kakaknya di Flores. Kakaknya berpesan bahwa ia juga sangat rindu. Ia berjanji akan segera pulang dan menyuruh supaya tidak khawatir. Mereka sedang meluncur ke Pulau Rote.
Ua’ Karin, punggawe kakaknya tidak mau pulang sebelum penghasilan banyak. Selain itu, sulitnya menemukan perahu sekampung di sana menjadikan proses berkirim kabar terhambat.
Budin dan dua teman sekelasnya, Amin dan Rifai, pernah mencoba menyuruh kakaknya pulang dengan satu cara kuno Bajo Bungin yakni memanggil kakaknya dari dalam bongki. Masyarakat Bungin percaya bahwa bongki tempat kita minum memiliki keterikatan magis yang mampu menarik pulang orang-orang jauh.
Mereka bertiga melakukan ritual itu di rumah Rifai saat orang rumah sedang tak ada. Amin yang mula-mula memanggil bibinya yang sudah lama tinggal di Sumbawa mengikuti suaminya.
“Puah! Puah! Jenguk kami lagi! Jangan lupa belikan Amin baju baru. Jenguk kami ya, Puah! ” selesai Amin, baru Budin. Kata-kata Budin cukup panjang, sebab ia sedikit bercerita lalu menyuruh kakaknya pulang.
Besar sekali keinginan Budin melihat kakaknya pulang. Apalagi ayahnya mulai sakit-sakitan. Ia khawatir ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Kalau ada kakaknya, minimal ada yang membantu mencari nafkah untuk mereka.
Berminggu-minggu ia menunggu hasil ritual kuno itu, namun kabar tentang kakaknya tak kunjung terdengar. Ia makin sedih.
Suatu kali, ketika Budin kembali termenung, dua teman baiknya itu datang lagi menemuinya. Mereka membawa kabar gembira tentang satu cara yang ampuh dan diyakini mujarab untuk membuat kakaknya segera pulang, yakni menemui Mbo Amer, dukun terkenal di Pulau Kaung, tetangga serumpun Pulau Bungin.
“Kata Ua’-ku, Mbo Amer bisa menemukan emas yang hilang berhari-hari!” ujar Amin, polos.
“Iya, Din. Ua’-ku juga berkata begitu. Mbo Amer pernah juga memanggil orang jarak jauh supaya segera pulang,” tambah Rifai. “Dan itu berhasil, Din.”
Tak mau buang tempo mereka langsung menyusun rencana untuk berangkat ke Pulau Kaung. Persyaratan lumrah ketika bertemu dukun selalu memberi pinang. Untuk itu, supaya ada untuk mengisi pinang mereka menyelam ikan hias selama tiga hari, hasilnya mereka kumpulkan untuk mengisi pinang yang akan diberikan kepada Mbo Amer.
****
Pagi baru saja merona. Suara-suara mesin dari lepa-lepa yang hendak berangkat melaut beresonansi di horizon, bising dan tendangan baling-balingnya menciptakan ombak kecil yang menggoyangkan jungkung di sampingnya.
Sauh jungkung mereka tambatkan di sebuah tumpukan batu karang yang akan dijadikan fondasi rumah. Kepada tetua yang berkumpul di bawah kolong sebuah rumah, Budin menanyakan rumah Mbo Amer.
“Di sana, Nak. Paling ujung rumah penghabisan.” Seorang tua yang berbawahan sarung tanpa mengenakan baju menunjuk ke arah barat pulau ini. Dia bilang rumah penghabisan. Sebelum mereka melangkah pergi, bapak tua bersarung sempat menanyakan tujuan mereka. Mereka menjawab disuruh memanggil Mbo Amer untuk mengobati.
Sampai juga mereka pada satu rumah, lebih tepatnya gubuk panggung yang beratap daun kelapa berjalin. Gubuk itu kelihatan sepuh dibandingkan rumah-rumah di sampingnya. Kedua daun pintunya yang bersusun tertutup rapat. Tiang-tiang penyanggah yang pendek sedikit doyong, dan liang-liang rayap menghiasinya. Gedek yang dulu berwarna kuning sekarang sudah abu-abu usang.
“Assalamu’alaikum?” Rifai mengetuk sembari menyertainya dengan ucapan salam.
Mula-mula tidak ada yang menyahut.
“Assalamu’alaikum, Mbo?”
Sepi. Seperti Bungin, pagi seperti ini orang lelakinya pergi melaut, sedangkan yang perempuannya sebagian berjualan ikan ke darat sebagiannya lagi nebe.
“Coba lagi! Itu sandalnya ada!” saran Budin.
Akhirnya, sebelum sempat kembali mengetuk pintu, sebuah suara serak nan parau mendadak muncul.
“Pasakkan, Mpu!”
Daun pintu atas terbuka. Lalu tampak sebuah kepala sampai badan berdiri di baliknya, seorang lelaki setengah baya. Melihatnya, mereka terkesiap. Perawakan Mbo itu seram. Rambut hitamnya bergelut dengan uban menyapu kepalanya. Hidung dan bibirnya besar. Warna kulitnya gelap dan mulai keriput layaknya kondisi setengah baya pada umumnya. Namun, letak keseramannya ialah bahwa alisnya begitu tebal dan jatuh sedikit mengenai kelopak matanya. Seraut wajah seperti ini persis tokoh antagonis yang digambarkan dalam dongeng-dongeng suku Bajo. Sang antagonis adalah makhluk halus penghuni tepi-tepi laut yang mirip manusia, disebut “kokok batu”.
Tak banyak cincong, ketika selesai tersentak bocah-bocah itu segera menanyakan benarkah ini rumah Mbo Amer. Lelaki tua itu menjawab ya, dan ia sendirilah orangnya. Mereka senang dan langsung masuk ke rumah sang dukun. Tak disangka dukun masyhur itu berperawakan seperti ini.
Mbo Amer hidup berdua bersama seorang cucunya. Kata beliau, istrinya sudah lama meninggal. Anak perempuan satu-satunya, yakni ibu dari cucunya itu, sudah lama bercerai dari suaminya, dan sekarang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Berdukun adalah rutinitas Mbo Amer selain sesekali memancing.
Budin menjelaskan maksud kedatangannya.
“Perkara gampang, Mpu!” katanya menyelingi. “Kakakmu akan segera pulang.”
Bocah-bocah itu sumringah mendengarnya. Mereka saling berpandangan mengagumi si antagonis.
“Cukup lamban sari kukirim padanya ia akan seperti cecak kena air panas, jika tak segera pulang,” lanjut Mbo Amer dengan sedikit menyeringai. Seram.
Dalam perdukunan Bajo Sumbawa, lamban sari adalah jenis mantra hitam untuk menyesaki dada-dada orang yang dituju dengan rindu yang teramat besar. Jarang sekali orang-orang mengetahui mantra itu. Di antara banyak dukun di pesisir Pulau Sumbawa tidak banyak yang memahaminya. Bocah-bocah itu bergidik mendengar lamban sari diucapkan Mbo Amer.
“Terus... apa yang kami sediakan, Mbo?” Rifai angkat bicara.
“Iya, Mbo?” sambung Budin.
Lelaki tua itu tersenyum culas. Pandangannya ia lempar ke luar jendela. Raut mukanya seperti mencari sesuatu.
“Berapa usia bulan tadi malam?” tanyanya dengan terus memperhatikan langit siang.
“Tadi malam delapan hari, Mbo,” jawab Amin.
“O,” sang dukun mengangguk-angguk. “Persiapkan saja secarik kain kafan, lalu daun sirih lengkap dengan gambir, buah pinang dan telur ayam. Letakkan di atas piring, lalu sisipkan di dalamnya sejumlah uang!” sambung sang dukun.
“Hanya itu, Mbo?” tanya mereka, hampir bersamaan.
“Hmm…,” Mbo Amer mendesis sembari mengangguk-angguk.
Gembira sekali mereka mendengar persyaratan itu. Persyaratan macam itu sangat lumrah diminta dukun-dukun pesisir. Karena sudah menduga, sebelum berangkat mereka sempatkan membeli semuanya. Hanya, yang tidak ada ialah kain kafan. Persyaratan yang satu ini belum pernah mereka dengar.
“Ini semua, Mbo. Kami telah mempersiapkannya. Cuma kain kafan saja yang tidak ada.” Budin mengeluarkan piring yang telah diisi persyaratan itu, lalu menyodorkannya. Si Mbo menerimanya dengan ekspresi datar.
“Adakah dijual di sini?” lanjut Budin.
“Sulit warung-warung di sini menjual kain kafan. Tapi, tidak usah khawatir, Mpu! Mbo masih ada sedikit.”
Mbo Amer, dukun siap siaga. Di gubuk reyot itu semua persyaratan yang diminta ada. Pasien tinggal sediakan uang, sang dukunlah yang mencukupkan semuanya.
****
Pulang dari Pulau Kaung, Budin sudah tak sabar menunggu kepulangan kakaknya. Sering saat sore-sore ia mendatangi dermaga, berharap ada bodi tempat kakaknya ikut, muncul di tengah laut sana. Ia ingin menyambutnya dengan air mata sambil membawakan rapor peringkat pertamanya.
Dalam daftar rencana kata-kata yang akan diucapkan pertama kali pada kakaknya, ada pula sederet kata untuk memperkenalkan Pak Bur, guru bagai yang sudah setahun mengajar di SD-nya. Menurutnya, kakaknya harus tahu orang yang memberinya semangat untuk terus bertahan sampai sekarang hingga hampir tamat. Kakaknya harus tahu kehebatan Pak Bur. Pak Bur selalu tersenyum ramah dan ia tidak suka menghukum, sama seperti kakaknya, ketika ia berbuat salah.
“Segera pulang, Kak! Budin rindu!”
****
Negeri Impian
Teman-temanku sering menertawakan impianku. Kata mereka kuno, buang-buang waktu. Yang lain mengatakan lama baru balik modal. Kita kuliah banyak memakan biaya. Kalau harus mengabdi ke daerah terpencil, kapan kita akan berhasil. Di sana pasti tidak ada usaha sampingan.
Tak ada satu pun yang mendukungku. Tapi, niatku sudah sebulat bulan lima belas. Artinya, aku tidak terlalu memerlukan dukungan dari siapa pun, kecuali orang tuaku. Beruntungnya, orang tuaku menyetujui itu. Maka, selesai kuliah di FKIP Universitas Mataram, aku langsung berangkat ke daerah yang sudah lama kutargetkan.
Mengabdi di daerah terpencil adalah impianku sejak dulu. Bukannya tidak menyadari akan menemukan rintangan. Sewaktu kuliah aku adalah ketua Mapala, sudah terbiasa dengan hal-hal tak biasa bagi kebanyakan orang. Jadi, tak ada gentarku ketika timbul bayangan-bayangan buruk yang akan terjadi di sana.
Nyatanya memang demikian. Ketika pertama kali kaki kuinjakkan di negeri yang sudah lama kutargetkan ini, Pulau Bungin, pulau kecil di Teluk Alas, Sumbawa, kesulitan demi kesulitan yang mengganggu berhasil kuatasi. Dan sempurna kutaklukkan pada bulan kedua keberadaanku di pulau ini. Tidak ada bedanya dengan menaklukkan Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.
Sandi Sardi