Fiction
Limas Ibu [1]

15 Feb 2014


Dinding-dinding papan rumah ini terasa seperti mengawasiku, dengan dingin. Foto-foto tua berwarna hitam putih yang kusam, menempel di beberapa sudut, lapuk tapi setia. Ada bingkai yang miring, bekas ditiup angin. Daun jendela sebelah kanan dekat pintu selalu berbunyi nyaring, engselnya sudah berkarat, kacanya pecah sebelah. Semua terasa keropos oleh waktu. Dan gentengnya yang dulu berwarna merah liat, sekarang menghitam sedikit kehijauan oleh lumut. Berserakan. Tak beraturan di atas atap, seolah-olah ada seseorang yang sudah mengacak-acaknya.

Aku menghela napas, lalu menghirupnya kembali kuat-kuat.
Bayangan wajah Ibu yang mulai keriput mengantar di pelupuk mata. Dan permintaan ajaibnya itu kembali terngiang-ngiang di telingaku.
Aku tak tahu, mengapa Ibu ingin menghabiskan sisa usianya di rumah ini? Setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Adakah kenangan bisa membuat seseorang bahagia? Ibu akan menebalkan kesunyian di sini, setelah Ayah meninggal beberapa tahun lalu. Harusnya, dia tetap bersama kami di Jakarta. Bukan meminta pulang dan menghabiskan sisa usia dalam kesunyian yang panjang.
“Ibu dilahirkan di rumah itu. Juga kakekmu, kakek buyutmu, dan saudara-saudara Ibu yang lain. Bila rumah itu sampai terjual dan berpindah tangan, Ibu tak akan hidup tenang.”

Begitu alasan Ibu ketika aku bertanya. Dan aku dibuat senyap olehnya.
Memang seperti itu adanya. Rumah ini adalah limas turun temurun dari keluarga Ibu. Dibangun oleh kakek buyutnya. Dinding dan kayu-kayunya terasa tua tapi setia, seperti Ibu yang bersetia dengan kenangan dan masa lalu.

Sudah berapa tahun terakhir, rumah ini terlantar. Harusnya, Uwak Safar, kakak Ibu, saudara laki-laki satu-satunya, yang merawat rumah ini. Bukankah begitu yang tersurat dalam kepercayaan orang-orang kampung kami? Anak laki-lakilah yang mewarisi seluruh harta peninggalan orangtua, termasuk rumah limas yang jadi simbol sebuah keluarga. Tapi Uwak Safar tak berdaya. Dia terlilit utang demikian banyak lantaran ulah nakal beberapa anak laki-lakinya yang gila berjudi dan terjerat rentenir. Semua habis terjual. Kebun-kebun karet, kebun-kebun duku-durian, sapi-kerbau, motor, perhiasan, dan terakhir… rumah ini terancam berpindah tangan.

“Tebuslah rumah itu, Di. Ibu mohon. Pakailah tabungan pensiun Ibu, kalau kurang, tolong kamu tambahi. Ibu tak akan meminta apa pun lagi padamu. Hanya itu,” mata Ibu perlahan basah dan berkaca-kaca saat mengucapkan permintaannya. Seperti ada kaca rapuh di dalam retinanya, lalu pecah berhamburan.

Aku tak tahu harus bagaimana. Ibu begitu setia dan cinta dengan rumah ini. Dia ingin merawatnya, seperti merawat kenangan yang tertempel di tiap penjurunya. Ibu memang begitu. Tiap kami mudik Lebaran dan bermalam di rumah ini, dia tak akan bosan-bosannya bercerita tentang masa kecilnya, masa gadisnya, dan masa ketika dia menikah, lalu perlahan meninggalkan rumah ini, mengikuti Ayah merantau ke Jakarta.

“Pohon jambu air di depan itu, Ibu yang tanam saat masih gadis,” tunjuk Ibu pada sebatang pohon jambu air yang buahnya berwarna maroon. Selalu lebat  tiap tahun. Di dekat pagar depan, kiri kanan pintu gerbang, bergerombol batang-batang kembang sepatu, mawar, kertas, dan beberapa bunga yang aku sendiri tak hafal namanya. Berdesak-desakan tetapi seolah paham untuk berbagi tempat dan kehangatan. Di pojok pagar paling kanan, pohon jambu air itu tumbuh dengan rimbun. Dahan-dahannya rajin dipangkas. Kata Ibu, jambu air akan berbuah lebat jika kanopinya rajin dirampingkan.
Bagi Ibu, rumah ini adalah sebagian dari dirinya. Hidupnya. Tiap jengkalnya merekam semua hal tentang dia. Cinta. Kerinduan. Kebahagiaan. Bahkan kesepian dan kegalauan yang perlahan menggerogotinya akhir-akhir ini.

“Ibu yakin ingin menebus rumah itu?” Aku menatap lekat-lekat wajahnya.
Mata Ibu  makin berkaca-kaca. Aku tahu, Ibu paham dengan isi kepalaku saat ini. Seperti yang kami pahami bersama, tak seharusnya anak perempuan yang menjaga rumah limas, menghidupkan garis keluarga. Tak seharusnya, tak semestinya, dan tak boleh dilakukan. Tapi Ibu….
“Ibu yakin…,” desisnya, terdengar gamang, bergetar, tapi ingin terdengar begitu mantap. Aku menghela napas lagi.
****
Tekad Ibu benar-benar bulat dan aku tak kuasa untuk menolaknya. Atas desakan Ibu, aku minta cuti dari kantor dan menemui Uwak Safar yang sudah pindah ke Prabumulih. Ternyata dia sudah membuang dirinya sendiri lantaran malu karena harta bendanya habis bahkan rumah leluhur satu-satunya terancam hilang.

“Ibumu yakin ingin menebus rumah itu?” suara Uwak Safar terdengar gemetar. Jelas sekali kegalauan merayapi tiap jengkal wajahnya. Aku pun paham dengan isi kepala Uwak Safar. Ini bukan hal yang lumrah. Belum pernah ada anak perempuan di kampung kami yang menghidupkan rumah leluhur. Pasti orang-orang akan mencibir Uwak Safar. Dia akan dianggap anak laki-laki yang tak berguna. Tak bisa meneruskan garis leluhurnya. Dan pastinya, Uwak Safar akan benar-benar terbuang setelah ini. Dia tak akan mau lagi menjejakkan kaki di kampung kami, apalagi menyetor wajah pada orang-orang di sana.

“Ibu yakin, Wak,” aku tak sanggup menatap mata Uwak Safar yang dipenuhi kuncup-kuncup basah. Hatinya pasti perih. Tapi dia tak berdaya. “Ibu tak ikhlas jika rumah ini sampai berpindah tangan yang bukan dari keturunan kita.”
Uwak Safar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kata Ibu,” suaraku melirih, “berapa yang harus kami bayar ke Uwak?”
Uwak Safar mengangkat wajah tuanya dan aku tak menduga sama sekali ketika sepasang air mata meluncur jatuh di landai pipinya yang sudah mengeriput. Tergesa, dia menghapus air mata itu dengan telapak tangannya. Aku jadi serba salah.
“Tak usah. Uwak sudah bersyukur jika rumah itu jatuh ke tanganmu, bukan ke tangan orang lain. Menebusnya juga tak murah.”

Aku makin terdiam. Rasanya, aku ingin memeluk Uwak Safar dengan erat, menguatkan hatinya yang terluka. Tapi aku justru bergeming. Aku bingung harus berbuat apa. Melihat sosoknya yang makin ringkih, aku jadi teringat almarhum Ayah. Seharusnya, di masa tua Uwak Safar, dia bisa hidup bahagia dengan istri, anak-menantu, dan cucu-cucunya. Menghabiskan sisa usia tanpa memikirkan hidup yang ruwet. Ternyata tidak demikian.
Aku membuka tas, mengeluarkan selembar surat berpindah-tangannya rumah itu dari Uwak Safar dan ahli warisnya kepada Ibu dan aku. Ada pula surat yang sudah kusiapkan untuk ditandatangani rentenir yang sudah menjerat anak laki-laki Uwak Safar, bila nanti aku menyerahkan uang tebusan atas rumah itu, aku ingin dia menandatangani surat di atas meterai, agar tak terjadi hal yang tak diinginkan.
Advertisement

“Tolong ditandatangani, Wak,” kusodorkan surat itu ke depan Uwak Safar. Aku juga membuka  pulpen bertinta hitam untuknya. Tangan Uwak Safar terlihat gemetar saat menggerakkan jemari, membubuhkan tanda tangan di atas namanya, tapi dia tetap berusaha tersenyum ketika mengembalikan surat itu padaku.
Kembali hening. Dan aku tak kuasa untuk berkata apa-apa sampai berpamitan padanya selain ucapan; “Saya pulang, Wak. Jaga kesehatan.” Dia mengangguk. Kutinggalkan saja sebuah amplop yang sudah kusiapkan sejak dari Jakarta. Uwak Safar berusaha menolaknya, tapi aku tak menggubris. Aku bergegas pergi. Dan hatiku terasa basah sekali.
****
“Abang yakin akan member izin Ibu pulang dan tinggal di rumah itu?” tanya istriku.
Aku memandangnya dan menganggukkan kepala.
“Sendiri?”
“Dengan siapa lagi? Kita?” aku balik bertanya.
“Tapi Ibu sudah tua, Bang,” istriku meletakkan majalah langganannya. Dia menarik punggungnya dari sandaran ranjang dan menatapku yang berbaring di sebelahnya. Kututup buku yang sedang kubaca. Menatapnya, lama.
“Rayu Ibu agar mengurungkan niatnya. Pinta Uwak Safar kembali ke kampung dan menunggu rumah itu. Aku enggak tega membayangkan Ibu sendiri di sana.”
“Uwak Safar enggak mau. Dia sudah telanjur malu pada orang kampung.”
“Masa  iya, Abang tega suruh Ibu tinggal sendiri,” istriku merengut.
“Kalau Mbak Yun ikut Ibu pulang kampung gimana?”
“Terus kita cari asisten baru di rumah?” istriku merengut. “Mbak Yun juga belum tentu mau tinggal di sana. Dia akan sulit untuk menemui anak-anaknya di Purwokerto tiap tiga bulan sekali, Bang.”
Aku terdiam. “Nantilah, kita bicarakan dengan Ibu lagi,” mataku kembali menekuri halaman buku yang kubaca. Sesungguhnya aku tak bisa konsentrasi, pikiranku berkecamuk, antara ingin menuruti permintaan Ibu dan mendengarkan ucapan istriku.
****

Keinginan Ibu untuk pulang kampung dan menjaga rumah limas leluhurnya benar-benar tak bisa digoyahkan. Segala cara sudah aku lakukan, pun istriku. Termasuk memintanya untuk merayu Uwak Safar agar kembali ke kampung kami. Dia memang mau melakukan itu, dia memang ingin Uwak Safar yang menunggunya seperti yang lumrahnya terjadi. Tapi Uwak Safar tak ingin. Dia tak bisa. Aku tahu, Uwak Safar punya harga diri. Dia pasti merasa malu pada Ibu, adik perempuannya.

Akhirnya, memang tak ada pilihan. Ibu ingin pulang. Merawat rumah itu. Merawat kenangan. Merawat ingatan. Dan merawat kehormatan leluhurnya. Sejauh apa pun kura-kura mengarungi dunia, dia akan kembali ke pantai tempat dia dilahirkan. Itu yang Ibu ucapkan padaku. Dan aku senyap.

“Ibu ingin menutup mata selama-lamanya di sana,” desis Ibu. Aku tertunduk. “Tak apa-apa. Ada Laila, cucu Bang Safar yang sudah SMP itu. Ada juga Fajar yang SMA. Ibu akan baik-baik saja di sana. Jangan tinggalkan pekerjaanmu di Jakarta. Anak-istrimu butuh masa depan. Istrimu tak mungkin juga meninggalkan kerjanya.”
Ibu seolah paham dengan kegalauan kami. Aku mengangguk.

Dan di sinilah aku, istriku, Ibu, Laila dan Fajar –keduanya mau kembali ke kampung ini, pada dasarnya mereka memang tak ingin pindah sekolah ke Prabumulih, di teras rumah limas leluhur Ibu, di depan daun pintu yang terbuat dari kayu jati.
Kami tertegun. Dengan tiba-tiba, kami seperti dicekam oleh rasa sepi yang dalam. Bercampur dengan rasa sedih dan haru.

Lalu Ibu mendorong daun pintu dari kayu jati itu, terdengar derit engselnya yang berkarat, menyayat telinga. Pilu. Dan kulihat mata Ibu berkaca-kaca saat ruang tengah rumah ini menyambutnya, pulang. Dari matanya, aku seperti melihat kehidupan Ibu yang lain, cerita-ceritanya tentang masa kecil, masa gadis, menikah, kemudian ikut Ayah merantau terasa hidup kini. Juga ceritanya tentang kakek buyutnya, kakeknya, bapaknya, ibunya, dan saudara-saudara Ibu yang lain.

Di ruang tengah ini, aku seperti melihat Ibu dari tahun-tahun yang dia kisahkan. Lalu, jarum jam tua dengan bandul yang terus bergerak ke kiri ke kanan secara teratur itu, seperti kenangan usang yang terus bercerita.

Ibu menatapku. Kuncup-kuncup air mata pecah di retina matanya, merembes, dan jatuh perlahan di landai pipinya yang keriput. Aku tahu, dia bahagia walau Ibu tahu, setelah ini orang-orang akan menguraikan cerita buruk tentang dirinya yang mengambil alih rumah leluhur, tentang kakak laki-lakinya yang tak becus menghidupkan garis keturunan leluhur mereka. Tentang semua hal yang tak lumrah. Tapi Ibu tetap tersenyum, padaku.(f)

********
Guntur Alam




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?