Career
Koloni di Kantor

14 Apr 2014


Berkelompok atau memiliki sahabat di tempat kerja tentu saja menyenangkan. Namun, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan sebelum menjadikan rekan kerja sebagai sahabat. Tujuannya, agar tak berbalik menjadi ‘bumerang’ bagi karier Anda.  

Bisa Menguntungkan
Para pekerja menghabiskan waktu lebih dari 40 jam per minggu di kantor. Tiap hari bertemu  bisa menimbulkan kedekatan dengan sesama rekan kerja lainnya. Apalagi jika ada yang memiliki kesamaan minat. Bukan hal yang aneh jika di lingkungan kantor muncul ‘koloni’ atau geng-geng pertemanan eksklusif karena kesamaan ini.
   
Menurut Rima Olivia dari Ahmada-Personal Growth and Career Development Consulting, manusia memang cenderung akan mendekat dan menyukai orang yang memiliki kesamaan dengannya. Misalnya, kesamaan gaya bercanda, lifestyle, hingga hobi. Selain persamaan, adanya perbedaan generasi, kepentingan, tingkatan karier otomatis akan membentuk kelompok-kelompok dalam kantor.
   
Rima menjelaskan, ada hal-hal yang harus dibatasi ketika ngobrol dengan sesama rekan sekerja. “Kehidupan pribadi tak perlu diumbar kepada rekan sekerja. Begitu pula hal-hal yang bisa menjatuhkan reputasi Anda di kantor. Jika memang butuh curhat tentang orang yang tidak Anda sukai di kantor, lebih baik utarakan kepada orang di luar kantor, seperti pasangan,” ungkap Rima.  
   
Pertemanan yang erat di kantor bisa membawa hal positif. “Teman bisa melihat kelebihan dan kelemahan diri Anda yang tidak Anda lihat. Dari sini, mereka tak segan untuk memberi masukan atau kritik yang bermanfaat bagi karier Anda. Ketika ada tugas baru yang sesuai dengan kompetensi Anda, mereka tak ragu mengusulkan Anda karena tahu benar apa kekuatan Anda,” ujar Rima.  
   
Advertisement
Rima menjelaskan, berteman akan memberikan dukungan sosial, sehingga berjam-jam bekerja terasa lebih menyenangkan. “Seolah memiliki keluarga kedua. Susah dan senang akan merajut ikatan emosional yang lebih kuat, sehingga ketika menemui kesulitan di kantor, Anda akan lebih mudah menghadapinya,” jelas Rima.
   
Ia memberi perbandingan, jika komunikasi dalam bekerja terus-menerus dengan orang yang ‘asing’, pasti bekerja menjadi aktivitas yang sangat melelahkan karena terasa ada jarak antara Anda dan lingkungan kerja.
   
Sebaliknya, pertemanan yang terlalu dekat dapat memunculkan efek negatif. Hubungan yang terlalu dekat memungkinkan terjadinya ‘gesekan’ konflik yang kuat. Tentu akan jauh lebih kecewa jika disakiti oleh orang yang dekat dengan Anda dibanding orang yang tidak dekat secara emosional.
   
“Misalnya, ketika sahabat sendiri pernah mengungkap keburukan Anda di depan bos, Anda pasti merasa sakit hati karena ia tega melakukannya. Perlu waktu bagi seseorang untuk kemudian pulih dari ‘pengkhianatan’ semacam itu. Padahal, kalau cuma sebatas kenal saja, Anda tentu tidak begitu sakit hati,” jelas Rima.     
   
Rima menyarankan, dalam menjalin pertemanan perlu memilih teman yang dapat dipercaya. “Selalu diperlukan trust. Meski tidak bisa diukur secara rasional, andalkan perasaan Anda untuk membedakan teman mana yang bisa dipercaya atau yang tidak. Jika orang tersebut selalu membuat Anda merasa down, tidak ada salahnya mengurangi interaksi dengannya,” jelasnya.

DARIA RANI GUMULYA





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?