<<<<< Cerita Sebelumnya
BAGIAN 3
Kisah sebelumnya:
Laras, seorang wartawan, mengambil cuti dan melakukan perjalanan ke Pulau Buru tanpa tujuan yang pasti. Di kapal, ia bertemu dengan rombongan yang berangkat dari Jawa ke Buru untuk menambang emas di Gunung Botak. Laras pun melihat ada petualangan baru di depan matanya. Ketika tersesat jalan, dia justru bertemu dnegan Nenek, dan mendapatkan informasi penting mengenai Gunung Botak.
Kantor desa terlihat sepi. Hanya ada dua pegawai perempuan yang sedang duduk sambil menonton televisi dan mengobrol. Ketika aku bertanya tentang keberadaan Kepala Desa, salah satu di antara mereka menjawab, bahwa Kepala Desa sedang keluar dan tak tahu kapan kembali.
Kuputuskan untuk menunggu sambil ikut nimbrung pembicaraan kedua pegawai perempuan tersebut. Mereka sedang memperbincangkan pegawai lain yang memiliki uang banyak, karena menambang emas di Gunung Botak. Hari ini pegawai tersebut tidak masuk kerja dan pergi menambang lagi. Ternyata para pegawai pun ikut–ikutan menambang pada jam kerja seperti ini.
Perhatianku beralih pada serombongan pelajar SMA yang melintas di depan kantor desa. Ini masih jam sekolah dan mereka sudah pulang. Aku mendatangi sekolah mereka yang berdekatan dengan kantor desa. Sekolah itu terlihat sepi. Seorang tukang penganan yang kutanya bercerita bahwa sejak ada emas di Gunung Botak, para siswa memang sering pulang cepat karena para guru ikut menambang emas.
“Maklum gaji guru di sini kacil,” katanya, seolah memintaku untuk ikut memaklumi.
Tambang emas ini ternyata sudah merusak banyak sektor kehidupan. Tidak hanya alam, namun juga masa depan pendidikan di Desa Wanamasit, gumanku. Ini akan melengkapi hasil investigasiku bahwa penambangan emas ini juga berdampak pada sektor pendidikan dan kinerja aparat pemerintah.
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya aku bisa bertemu dengan Kepala Desa. Ia terlihat santai menjawab pertanyaanku tentang penemuan emas di Gunung Botak. Seolah ini bukan sesuatu yang serius untuk segera ditangani. Jawabannya sudah kuduga. Ia sudah melaporkan kasus penambangan liar itu ke tingkat Kecamatan dan katanya akan segera dilakukan penutupan. Sebuah jawaban standar.
Aku melihat pemerintah lambat mengatasi permasalahan ini dan terkesan melakukan pembiaran. Padahal penambangan emas liar ini sudah berlangsung sejak tahun 2011, berarti sudah hampir satu tahun.
**************
Dari kejauhan nampak orang–orang berkerumun di sebuah lokasi galian. Aku mendekat. Terlihat tanah menutupi lubang galian. Seorang penggali yang selamat mengatakan lima penggali masih berada di dalam lubang yang diperkirakan mencapai sepuluh meter kedalamannya. Ia selamat karena sedang berada di permukaan. Aku merinding mendengar cerita orang itu.
Aku hampir tergelincir saat hendak turun, bila saja tak ada yang memegang tanganku. Kudongakkan kepala ke arah orang yang telah menolongku dan aku cukup terkejut melihat laki–laki itu. Ia adalah Ramli. Posisi berdirinya yang berada di atas, membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ramli berhidung bangir. Bulu matanya yang lentik menghias matanya yang lembut.
“Hati–hati,” katanya, sambil menarik tanganku.
“Terima kasih,” ucapku, sambil tersenyum.
Ramli tak membalas senyumku. Ia menekan topinya ke dalam hingga menutupi wajahnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan nada tegas.
“Aku hanya berjalan–jalan,” jawabku setengah gugup.
Ramli sepertinya tidak percaya. Ia menelisik memandangku dan tatapannya berhenti pada kamera yang lupa kumasukkan ke dalam tas. Perasaan takut menyergapku. Khawatir ia tahu pekerjaanku, dan pasti akan mengusirku dari Desa Wanamasit.
“Kau yang tadi pagi bersama nenek, kan ?” tanyanya penuh selidik.
Aku menjawab dengan anggukan kepala.
Ramli mengajakku menjauh dari tempat longsor. Aku mengikuti langkahnya.
“Kau tinggal di rumah nenek?” tanyanya menegaskan.
“Ya. Aku tinggal di rumah nenek.”
“Nenek pasti bercerita tentang aku.”
“ Nenek bilang kau orang yang baik.”
Ramli tersenyum. Untuk pertama kalinya aku melihat ia tersenyum.
“Tapi kau berubah sejak ada emas,” lanjutku menirukan ucapan nenek.
“Ya. Semua berubah setelah adanya emas,” ucap Ramli, lirih hampir tak terdengar.
“Nenek, Mina, desa ini, semuanya berubah,” desah Ramli seperti sebuah penyesalan.
“Aku tak mengerti maksudmu,” kataku, ingin tahu maksud kata–katanya.
“Yah. Nenek berubah membenciku. Mina berubah menjadi gila uang. Desa ini menjadi ramai. Kau pikir aku senang dengan keadaan ini?”
Aku tertegun mendengar ucapannya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Aku kira Ramli bahagia dengan apa yang ia miliki sekarang dan sebagai penguasa Gunung Botak ketimbang menjadi buruh penyulingan minyak kayu putih.
“Kenapa kau terdiam?” tanyanya mengagetkan lamunanku.
“Aku kira kau bahagia, karena kau memiliki uang banyak dan kekuasaan,” jawabku sejujurnya.
“Semua orang mengira seperti itu. Kenyataannya tidak. Aku lebih bahagia saat bekerja di rumah nenek. Tak berlebih, tapi tak juga kurang. Aku punya banyak waktu bersama kedua anakku. Sekarang, aku punya banyak musuh, yang kapan saja bisa membunuhku. Mina tak pernah merasa cukup dengan apa yang kudapat. Dia selalu merasa kurang,” katanya dengan nada kesal.
Aku kembali terdiam merenungi ucapan Ramli.
“Aku tak pernah seramah ini pada orang asing. Pergilah, jangan sampai orang–orang di sini tahu kau wartawan,” katanya setengah mengusirku.
Ramli bergegas meninggalkanku, dan tak menengok lagi. Kupandangi punggungnya yang kokoh. Ia menghilang di antara orang–orang yang berlalu lalang. Aku masih tak percaya dengan apa yang ia ucapkan tadi.
“Mbak Laras,” panggil Pak Hari.
Tiba–tiba saja ia sudah ada di belakangku.
“Mbak Laras ada masalah dengan Ramli?” tanyanya.
“Tidak, Pak,” jawabku singkat.
Aku tak ingin memberitahukan apa yang baru saja Ramli katakan.
“Semua orang di sini takut padanya. Jangan membuat masalah dengannya,” ucapnya memperingatkan.
Aku tersenyum mendengar ucapan Pak Hari.
“Maaf pak kemarin saya tersesat, jadi tak sempat berpamitan,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Tak apa, Laras. Aku memang sempat mengkhawatirkanmu, yang penting kau selamat.
”Terima kasih, Pak.”
“Mbak Laras sudah bertemu dengan temannya?” tanyanya.
“Sudah, Pak,” jawabku setelah berpikir beberapa saat.
Tadinya aku ingin menceritakan padanya kalau aku tinggal di rumah Nenek Ruth. Kurasa cerita itu tak terlalu penting bagi Pak Hari. Lagi pula, ia tak mengenal siapa Nenek Ruth.
Pak Hari mengajakku kembali ke tendanya. sesampainya di tenda, ia memerintahkan seluruh penggalinya untuk berhenti bekerja sementara.
“Setiap ada kejadian longsor, bapak selalu meminta penggalian dihentikan. Ini antisipasi, kalau–kalau terjadi longsoran galian lagi,” katanya.
“Bagaimana nasib mereka, Pak?” tanyaku penasaran.
“Sudah pasti mati terkubur.”
“Kasihan sekali,” gumanku.
“Ini risiko pekerjaan, mbak. Kita tidak akan pernah tahu kapan akan terjadi musibah longsor.”
Aku jadi teringat ucapan nenek. Apa yang ia ucapkan tentang longsor yang akan terjadi di lokasi galian ternyata benar adanya. Nenek tahu bahwa akan terjadi longsor hari ini.
Teringat pesan nenek untuk segera pulang aku tak berlama–lama di Gunung Botak. Terlebih hari mulai gelap. Aku berharap Martinus sudah selesai menambang dan bisa mengantarku pulang. Tapi sepertinya ia belum selesai. Ketika kuhubungi ponselnya mati. Jarak dari Gunung Botak ke rumah Nenek melalui jalan besar sekitar sepuluh menit bila menggunakan motor. Aku bisa saja menggunakan ojek lain. Di Gunung Botak ojek memang menjadi kendaraan andalan, meski harganya relatif mahal. Untuk jarak lima ratus meter saja kita harus membayar seratus ribu rupiah.
Sebenarnya nenek sudah memberitahuku jalan pintas menuju rumahnya melalui sungai. Tapi tanjakannya yang curam dan hari yang sudah gelap membuatku tak berani melalui jalan itu. Belum lagi aku harus menyeberangi sungai berlumpur.
Sesampainya di rumah, kudapati nenek duduk dengan wajah sedih. Ia seperti habis menangis.
“Martinus meninggal?” tanyaku tak percaya.
Nenek menganguk lemah.
“Dia mati kena longsor,” ucap nenek dengan nada lirih.
Aku teringat pertemuan terakhirku dengan Martinus dan mimpinya untuk pergi ke Jakarta. Aku tak menyangka Martinus akan menjadi korban longsor. Andai aku bisa menahannya untuk tidak pergi mungkin ia akan selamat, sesalku.
Bersama nenek aku pergi melayat. Baru kuketahui bahwa Martinus adalah anak yatim piatu. Ibunya lebih dulu meninggal, saat ia berusia lima tahun dan ayahnya menyusul saat Martinus berusia dua belas tahun. Ia tinggal di rumah kakak perempuannya yang sudah menikah. Martinus tak melanjutkan sekolah ke SMA karena tak ada biaya.
Ia bekerja apa saja dan sering membantu nenek. Nenek sudah menganggap Martinus seperti anak sendiri. Sejak ditemukannya tambang Emas Di Gunung Botak, Martinus menjadi sopir mobil angkutan dan tukang ojek. Mobil dan motor yang ia gunakan adalah milik Mina.
“Kau di sini juga rupanya?”
Mina sudah berada di belakangku.
“Nenek mana?” tanyanya dengan suara ketus.
“Ada di dalam,” jawabku setengah berbisik.
Mina mengajakku menjauh dari rumah kakak Martinus. Rupanya ia tak ingin bertemu nenek. Aku mengikuti langkahnya. Diam–diam kuperhatikan Mina. Cara berdandannya yang berlebihan membuat ia terlihat jauh lebih tua. Bibirnya dipulas lipstik merah menyala. Kelopak matanya diberi eyes shadow hijau muda. Bedak cukup tebal di wajahnya. Kontras dengan kulitnya yang sawo matang. Rambutnya yang ikal diikat ke atas. Mina bertubuh sedikit berisi. Matanya bulat dengan barisan gigi yang rapi. Ia gadis yang manis sebetulnya tanpa harus dandan berlebihan seperti itu.
Di sebuah warung makan kami berhenti. Mina celingukan. Ia khawatir nenek melihatnya. Setelah dirasa aman ia mengajakku duduk di bangku paling ujung.
“Kau ada masalah apa dengan Nenek?” tanyaku, penasaran dengan keributan tadi pagi.
“Nenek sebetulnya hanya iri saja dengan kehidupan kami,” katanya tenang.
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Ya, kehidupan kami jauh lebih baik ketimbang bekerja di tempat penyulingan minyak kayu putih miliknya. Tepatnya sejak kami menemukan emas di Gunung Botak.
“Kau yang pertama menemukan tambang emas itu?” tanyaku setengah tak percaya.
“Ya. akulah yang pertama kali menemukan emas itu,” jawab Mina dengan penuh keyakinan.
“Bagaimana ceritanya ?” tanyaku ingin tahu cerita yang sebenarnya.
Mina mulai bercerita.
“Waktu itu aku dan suamiku hendak berangkat ke rumah nenek, melewati tepi sungai di Gunung Botak. Tiba–tiba mataku melihat butiran kerikil berkilau ditempa sinar matahari. Aku memungutnya. Kuperhatikan batu itu. Warnanya keemasan. Aku menduga batu itu emas. Kemudian aku menyuruh suamiku untuk menjual emas itu ke pasar. Dugaanku benar, pulangnya ia membawa banyak uang. Besoknya aku masuk ke Gunung Botak. Ternyata di sanalah sumbernya. Menggunakan skop, aku dan suamiku mulai menggali lubang. Tak sampai dua meter, urat emas sudah terlihat.”
“Bukankah Gunung Botak wilayah keramat yang tak seorangpun boleh masuk?” tanyaku lagi.
Aku teringat cerita nenek tentang Gunung Botak yang dikeramatkan.
“Kau sudah mendengar cerita itu rupanya,” kata Mina dengan nada tak suka.
“Ya, Nenek Ruth bercerita padaku.”
“Sudah kuduga. Kepada semua pendatang ia akan bercerita bahwa Gunung Botak itu keramat. Sebetulnya, itu hanyalah cerita yang dikarang–karang saja. Secara turun menurun keluarga nenek memang menjadi penjaga Gunung Botak. Sampai akhirnya mereka merasa seolah–olah Gunung Botak itu miliknya. Ia mengusir kami saat hendak menggali lubang. Dan mengatakan bahwa kami akan mendapat kutukan bila merusak Gunung Botak.”
“Kutukan?” tanyaku.
Kata itu juga pernah diucapkan nenek.
“Ya, dia mengatakan bahwa kami akan terkena kutukan. Itu hanya omong kosong belaka dan akal–akalan nenek untuk menguasai emas itu,” ucap Mina sinis.
“Jadi nenek tahu tentang emas di Gunung Botak ?” tanyaku tak percaya.
“Sudah pasti, sebagai penjaga Gunung Botak dia tahu tentang emas itu dan sengaja menyembunyikannya.”
“Untuk apa nenek menyembunyikan emas itu ?” tanyaku masih tak percaya.
“Laras, dia perempuan serakah,” jawab Mina dengan suara tegas, tersirat kebencian di wajahnya.
“Dan sekarang nenek sudah tidak jadi penjaga Gunung Botak lagi ?” tanyaku menegaskan.
Aku teringat cerita Martinus tentang nenek yang tak lagi menjadi Penjaga Gunung Botak.
“Ya, orang – orang desa ini melarangnya datang ke Gunung Botak. Kini, Ramli, suamiku yang menjadi penjaga Gunung Botak. Ia menguasai Gunung Botak dan semua orang takut padanya,” katanya dengan nada bangga.
Kata – kata Mina mengingatku pada Ramli dan ketidakbahagiaannya. Perasaan sesungguhnya yang tak Mina tahu.
“Kau tak usah kasihan pada nenek, dia sudah bertahun – tahun hidup sendiri,” ucap Mina membuyarkan lamunanku.
“Maksudmu nenek tidak menikah ?” tanyaku menelisik.
Mina cukup tahu banyak tentang kehidupan nenek rupanya.
“Dulu, nenek pernah menikah dengan bekas tahanan di Pulau Buru. Suaminya itu anggota PKI,” jawabnya setengah berbisik.
“Sekarang suami nenek kemana ?”
“Pulang ke Jawa dan tak pernah kembali lagi.”
“Nenek tidak menikah lagi ?”
“Nenek tak mau menikah lagi. Ia menunggu suaminya kembali.”
“Sampai sekarang tak pernah kembali ?” tanyaku menegaskan.
“Ya. Padahal orang – orang sudah memberitahu kalau suaminya itu sudah menikah lagi di Jawa,” Jawab Mina menjelaskan.
Mina tak melanjutkan ceritanya. Aku menengok ke belakang dan kulihat nenek sudah berada di luar. Ia terlihat kebingungan mencariku. Ketika aku menengok lagi ke arah Mina. Ia sudah menghilang. Aku bergegas menghampiri nenek. Syukurlah nenek tak curiga dan langsung mengajakku pulang.
Sepanjang perjalanan pulang aku masih memikirkan cerita Mina tentang kisah hidup nenek. Aku masih tak percaya dengan cerita Mina. Bila benar sebagai penjaga Gunung Botak nenek menyimpan emas itu untuk dirinya, mengapa hidupnya begitu sederhana, jauh dari kesan mewah. Mengapa ia harus bergulat dengan usaha minyak kayu putih, yang tak seberapa penghasilannya itu. Beragam tanya menghantui perasaanku.
Sungguh hari yang melelahkan begitu banyak kejutan yang ku alami hari ini, Ketidakbahagiaan Ramli dengan kemewahan yang kini ia miliki dan kematian Martinus yang menjadi korban longsor galian. Esok, entah kejutan apalagi yang akan kualami.
***********
Di ujung telepon, Alex terkejut ketika mengetahui bahwa aku sudah berada di Desa Wanamasit sejak empat hari lalu dan belum menikmati liburan di Ambon. Ia meneleponku untuk mengecek apakah aku sudah pergi ke Gunung Botak.
Aku memberinya laporan sementara, tentang pencemaran yang telah terjadi juga dampak sosiologis bagi kehidupan masyarakat Desa Wanamasit pasca ditemukannya emas di Gunung Botak. Alex tampak senang mendengar laporanku. Ia akan menugaskan wartawan kontributor untuk membantuku mewawancarai pejabat yang menangani pengelolaan lingkungan hidup terkait pencemaran lingkungan. Ini ia lakukan agar aku bisa segera kembali ke Ambon dan menikmati liburan.
Kurasa aku sudah tidak tertarik lagi untuk liburan di Ambon. Ada hal lain yang jauh lebih menarik ternyata. Kemilau emas Gunung Botak yang di dalamnya begitu banyak menyimpan misteri. Satu di antaranya adalah misteri tentang kisah hidup Nenek Ruth, sang Penjaga Gunung Botak.
Selama empat hari kuperhatikan keseharian nenek lebih banyak dihabiskan dengan mengurus usaha penyulingan minyak kayu putih. Setiap pagi ia pergi ke kebun kayu putih atau membantu kedua pekerjanya dan memasak. Nenek hanya bercerita yang umum–umum saja kepadaku.
Sejak ramalannya tentang longsor di lubang galian dan kematian Martinus, ia menjadi sangat tertutup. Tak pernah lagi kudengar nenek berkeluh kesah tentang Gunung Botak. Sikap nenek yang berubah menjadi tertutup membuatku tak berani menanyakan kehidupan pribadinya. Aku perlu mengetahui kebenaran cerita Mina tentang penemuan tambang emas yang kuragukan kebenarannya. Berbanding terbalik dengan kenyataan yang kulihat pada diri nenek.
Dwi Ratnawati