<<<<< Cerita Sebelumnya
BAGIAN 2
Kisah sebelumnya:
Untuk meredakan sakit hati karena putus cinta, Laras, seorang wartawan, mengambil cuti dan melakukan perjalanan ke Pulau Buru tanpa tujuan yang pasti. Di kapal, ia bertemu dengan Pak Hari dan rombongan yang berangkat dari Jawa ke Buru untuk menambang emas di Gunung Botak. Laras pun melihat ada petualangan baru di depan matanya.
Kehidupan di tempat ini tampak ingar-bingar. Musik dari dalam tenda terdengar bersahut–sahutan. Para penggali ada yang sedang bersantai di dalam tenda yang juga menjadi tempat tinggal mereka. Ada pula yang baru selesai menggali, tubuh mereka kotor oleh tanah.
Kemudian kulanjutkan perjalanan ke tepi sungai. Di sana bertebaran tromol, tempat pengolahan emas yang bahan utamanya adalah air raksa atau zat merkuri. Tak jauh dari itu, ratusan orang tengah mendulang pasir menggunakan wajan. Orang tua, remaja, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak pun ikut mendulang emas.
Limbah merkuri akan sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat Wanamasit, karena pendulang emas membiarkan air sisa yang mengandung merkuri mengalir ke sungai. Sementara itu, sungai di kawasan Gunung Botak mengaliri areal persawahan. Bisa dibayangkan bagaimana nasib masa depan pertanian di Desa Wanamasit. Selain dikenal penghasil minyak kayu putih, Desa Wanamasit juga merupakan daerah lumbung padi. Limbah merkuri juga akan mencemari laut di Teluk Namlea yang menjadi tempat mata pencaharian nelayan karena air sungai akan mengalir ke laut.
Aku menyusuri sungai hingga tiba di anak sungai. Airnya tampak keruh, cokelat kekuning-kuningan, mengalir membawa lumpur yang bercampur dengan tanah dan batu-batu kecil. Sungai ini sudah tercemar. Tidak hanya lumpur, melainkan juga sampah yang bertebaran memenuhi sungai. Bila hujan tiba dikhawatirkan akan terjadi banjir. Aku mengambil beberapa foto untuk bukti bahwa telah terjadi pencemaran lingkungan.
Aku mengalihkan pandangan ke arah tebing tak jauh dari sungai. Tebing itu sudah terkikis longsor. Aku berjalan ke atas tebing melalui jalan setapak yang menanjak. Terdengar suara deru mesin gergaji. Kudatangi arah suara itu. Tampak beberapa orang sedang menggergaji sebuah pohon dengan diameter cukup besar. Saat aku bertanya, salah seorang di antara mereka menjawab batang pohon ini akan digunakan sebagai papan dan balok untuk menyangga tanah galian dan juga tenda. Mereka adalah penduduk setempat yang menjual batang pohon kepada penambang. Aku masuk ke dalam areal yang menyerupai hutan kayu itu. Sebagian besar pohonnya sudah ditebang. Tampak sisa-sisa penebangan pohon. Ini rupanya yang menyebabkan tebing terkikis longsor.
Saat hendak kembali ke tenda tempat Pak Hari, mendadak aku tak ingat arah jalan yang telah kulalui. Kususuri jalan setapak yang kuharapkan bisa membawaku ke arah di mana aku datang. Jalanan yang berkelok–kelok, terkadang aku harus berjalan menanjak dan menurun. Hanya ilalang yang ada di kiri kananku. Sepertinya ini bukan jalan yang kulalui tadi. Hamparan tenda terlihat menjauh dariku. Artinya aku sudah berjalan cukup jauh.
Matahari mulai berjalan ke ufuk barat, menyelinap di antara pepohonan. Sebentar lagi hari gelap dan aku belum menemukan jalan untuk kembali. Aku berhenti beberapa saat di depan areal perkebunan yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun setinggi hampir dua meter. Aku mencium wewangian yang khas. Kupetik beberapa helai daunnya yang berwarna hijau dan berbentuk jorong itu. Lalu meremasnya perlahan dan wangi itu makin kental terasa. Aroma wangi kayu putih. Aku menghirupnya berulang–ulang, menikmati kesegarannya sambil menyelonjorkan kaki yang terasa pegal dan perut yang mulai terasa lapar.
Kini aku harus berpikir bagaimana keluar dari tempat ini dan mencari penginapan. Untuk memudahkan investigasi, aku harus menginap di sekitar sini. Tapi aku tidak yakin bisa mendapatkan tempat menginap di desa ini. Wanamasit hanyalah sebuah desa kecil. Satu–satunya cara adalah menginap di rumah penduduk.
*********************************
Dari kejauhan seorang perempuan setengah baya berjalan sambil membawa ranting–ranting pohon. Tangan kirinya memegang parang. Perasaanku lega. Akhirnya aku menemukan orang untuk bertanya. Bergegas kuhampiri dia. Kutanyakan padanya arah menuju jalan besar.
“Ose mau ke mana?” tanyanya dengan logat Ambon yang kental.
“Saya sebetulnya mau mencari penginapan, Bu,” jawabku.
“Di sini seng ada tampa penginapan,” ucapnya.
Rupanya nenek ini tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Ia mencampur logat bahasa Ambon dengan bahasa Indonesia, sehingga aku sedikit kesulitan memahami kalimat yang ia ucapkan. Aku memintanya mengulang kembali Nenek memberi isyarat dengan melambaikan tangannya yang artinya tidak ada penginapan. Persis yang aku perkirakan. Di tempat ini tak ada penginapan.
“Ose boleh tinggal di rumah beta,” ajaknya.
Nenek ini seolah tahu aku sedang kebingungan.
“Terima kasih. Tapi apakah Ibu keberatan, kalau saya tinggal selama tiga hari?” kataku.
Aku memperkirakan investigasiku akan memakan waktu selama tiga hari.
“Tentu saja tidak, ose bisa tinggal lama di beta pung rumah,“ jawabnya, sambil tersenyum lebar. Menandakan bahwa ia bersungguh–sungguh.
“Terima kasih, Bu,” ucapku lega.
“Ose panggil beta Nenek Ruth. Dong samua panggil beta bagitu,” katanya.
“Nama saya Laras,” kataku memperkenalkan diri.
“Ayo, Laras, hari su mau galap,” ajaknya.
Aku mengikuti langkahnya. Nenek Ruth berusia sekitar lima puluh tahun. Rambutnya ikal dan tebal, dipotong pendek setengkuk. Berkulit sawo matang dan bertubuh padat.
Wajahnya terlihat masih segar. Langkahnya cepat dan cara berjalannya tegap, menandakan bahwa ia seorang pekerja keras. Rumah Nenek Ruth berada tak jauh dari lokasi perkebunan kayu putih tadi. Sebuah rumah tua yang cukup luas. Beberapa bagian dinding masih terbuat dari kayu. Lantainya terbuat dari semen. Tak banyak perabotan di dalamnya. Satu set meja kursi tua di ruang tamu yang cukup luas. Sebuah lemari pajangan yang sudah lusuh. Di dalamnya tersimpan perabot makan terbuat dari beling dan sebuah foto hitam putih berbingkai kayu. Ada tiga kamar di rumah itu. Nenek menunjuk kamar depan untukku. Ia menjelaskan bahwa kamarnya berada di dekat dapur.
“Jadi Laras datang karena mas?” tanya Nenek.
Sepanjang perjalanan menuju rumah tadi, aku sudah bercerita tentang tujuanku datang ke sini.
“Mas kaya gula, bikin samut–samut datang,” lanjut Nenek.
Nenek menjawab sendiri pertanyaannya dengan suara tertahan. Namun, kali ini wajahnya berganti muram.
“Semua su berubah, pas orang dapat mas di Gunung Botak. Dulu seng ada yang brani maso Gunung Botak. Itu gunung keramat,” lanjutnya lagi.
“Sekarang?” tanyanya seolah pada diri sendiri.
“Pohon–pohon dipotong, tanah digali. Kalau Laras lewat Kali Anahoni, pasti dapat kali lumpur. Padahal dolo, pung aer paling bersih. Bisa untuk minum,” lanjutnya dengan wajah muram.
Ucapan Nenek persis seperti yang aku lihat tadi.
“Mas ini adalah kutukan,” lanjutnya lagi.
“Kutukan? Maksud Nenek?” tanyaku tak mengerti.
“Ah, seng apa–apa, Laras,” jawabnya sambil menepuk kening.
Wajahnya mendadak bingung. Ia seolah tak sadar dengan apa yang telah diucapkannya.
***********************************
Sayup–sayup aku mendengar suara Nenek Ruth memanggil. Kucari arah suara itu. Nenek sedang berdiri di depan sebuah bangunan kayu beratap rumbia. Ia melambaikan tangan memberi tahu keberadaannya.
Rupanya Nenek tahu aku sedang mencarinya. Saat bangun tidur tadi, aku tak menjumpai Nenek di rumah. Kemudian kucari ke dapur dan sekeliling rumah. Ternyata ia berada di sini. Nenek sedang memetik daun kayu putih dari ranting yang kemarin ia bawa. Kuhampiri Nenek dan duduk di sampingnya.
“Laras, mau pi di mana?” tanya Nenek.
“Laras akan pergi ke kantor desa dan menemui teman di Gunung Botak, Nek,” jawabku.
Aku sudah menyusun agenda kegiatanku selama di Gunung Botak dan kutargetkan tiga hari tugas investigasi ini selesai. Kemarin awal permulaan yang baik. Aku sudah mendapatkan banyak informasi dan fakta–fakta yang ada. Hari ini aku akan mewawancarai kepala desa terkait penambangan emas liar di Gunung Botak. Setelah itu, kembali ke Gunung Botak melakukan investigasi lanjutan dan menemui Pak Hari. Kemarin aku belum sempat berpamitan dan mengucapkan terima kasih padanya.
“Laras ada pung tamang di sini?”
“Teman seperjalanan sewaktu di kapal, Nek. Namanya Pak Hari dari Madiun,” jawabku.
“Madiun?” tanyanya setengah terkejut.
Aku menjawab dengan menganggukkan kepala. Kemudian Nenek mengajukan beberapa pertanyaan tentang Pak Hari. Kujawab dengan menceritakan kisah hidup Pak Hari. Nenek sepertinya tertarik dengan kisah Pak Hari. Ia menyimak ceritaku dengan mimik serius, terlebih ketika aku menceritakan tentang tanda luka di tubuh Pak Hari.
“Dia ada di Gunung Botak?” tanya Nenek menegaskan.
“Ya, Nek. Pak Hari bersama rombongannya ada di Gunung Botak.”
Wajah Nenek mendadak berubah muram.
“Kenapa, Nek?” tanyaku, heran dengan perubahan sikapnya.
“Ah, seng apa-apa,” jawabnya dengan suara gugup.
“Apa Nenek punya saudara di Jawa?“ tanyaku lagi.
“Seng ada, Laras,” jawabnya, kali ini suaranya kembali tenang, meski wajahnya tetap muram.
Kemudian Nenek mengajakku masuk ke dalam ruangan. Ternyata ini adalah tempat penyulingan minyak kayu putih. Terlihat tungku api yang dinyalakan oleh kayu bakar. Di atasnya terdapat drum kayu berukuran besar. Di sampingnya berdiri sebuah drum besar dengan ukuran yang sama.
Nenek jongkok di samping tungku. Tangannya sibuk memasukkan kayu bakar ke dalam tungku. Aku ikut-ikutan jongkok di sampingnya.
“Api tungku harus terus manyala. Makan jam bisa sampe besok. Dolo, Katong seng sabarang bisa lia orang bikin minyak kayu putih,” ucap Nenek.
“Dolo, ada sapuluh orang yang karja, sekarang su tinggal ampat. Dong karja bakuganti,” lanjutnya, sambil tangannya menunjuk kepada keempat pekerjanya. Dua pekerja memasukkan daun kayu putih ke dalam drum di atas tungku. Dua pekerja lainnya menjaga api tungku dan mempersiapkan kayu bakar.
“Ke mana mereka, Nek?” tanyaku.
“Dong seng mau karja di tampa bikin minyak kayu putih lai, cari mas lebih basar dapat uang,” jawab Nenek, kali ini dengan nada kesal.
Aku kembali melihat perubahan pada wajah Nenek. Wajah yang sama yang kulihat semalam. Ia berjalan ke arah pintu. Aku mengikutinya. Pandangan Nenek lurus ke depan. Ternyata tempat ini berseberangan dengan Gunung Botak. Hanya dipisahkan oleh sungai kecil. Kemarin aku melewati sungai itu. Aku bisa dengan jelas melihat pemandangan Gunung Botak dari tempat ini. Tenda yang bertebaran dan orang–orang yang berlalu-lalang.
Ini untuk kedua kalinya aku melihat wajah Nenek muram tiap berbicara tentang tambang emas di Gunung Botak. Tapi seperti biasa, Nenek seolah tak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Nenek mengalihkan pembicaraan dengan memintaku menemaninya ke warung untuk berbelanja. Ia harus memasak untuk para pekerja.
Kami berhenti di sebuah warung di pinggir jalan besar. Nenek membeli sayuran, telur, dan beras. Perempuan penjaga warung menghitung belanjaan Nenek. Aku cukup terkejut dengan hasil penghitungan belanjaan itu. Harga satu liter beras dua puluh ribu. Satu ikat kecil bayam empat ribu. Seperempat telur sembilan ribu.
“Mahal sakali?” tanya Nenek dengan nada keras kepada penjaga warung.
Nada keras Nenek menarik perhatian orang-orang yang sedang berbelanja. Mereka memperhatikan Nenek dengan tatapan aneh.
“Harga bensin mahal, lagi pula barangnya susah, Nek,” ucap penjaga warung.
“Ini gara–gara ose samua sibuk cari mas, sawah seng pernah urus,” gerutu Nenek.
Penjaga warung tak menjawab. Ia seolah tak ingin berdebat dengan Nenek.
Dimasukkannya belanjaan Nenek ke dalam kantong plastik. Lalu kembali melayani pembeli yang mengantre. Penjaga warung terlihat sedikit kewalahan. Para pembeli sebagian besar adalah pendatang yang sedang menambang emas di Gunung Botak.
Tiba-tiba seorang perempuan datang. Ia membuka dompetnya yang tebal. Terlihal tumpukan uang seratus ribuan. Perempuan yang hampir seusia denganku itu mengenakan perhiasan emas di lengan, jari dan lehernya.
Nenek memandang perempuan itu dengan wajah sinis. Perempuan muda itu tak menyadari. Ia sibuk mengambil lembaran uang dari dompetnya dengan perasaan tenang. Seolah sengaja ingin memperlihatkan isi dompetnya. Ia menyerahkan sejumlah uang seratus ribuan kepada pemilik warung.
“Tiga karung beras, antar Nenek pung rumah,” perintah perempuan itu kepada penjaga warung, dengan suara angkuh.
Mata Nenek mendelik.
“Ose bikin apa, Mina?” tanya Nenek dengan suara bergetar pada perempuan bernama Mina itu.
“Beta belikan Nenek beras,” jawab Mina, setengah meledek.
“Beta masih bisa beli sandiri,” kata Nenek dengan suara keras.
“Ose pi sudah. Beta seng butuh ose pung uang,” bentak Nenek lagi.
Direbutnya uang dari penjaga warung, lalu dilemparkan kepada Mina. Nenek dan Mina terlibat perang mulut. Nenek menyebut Mina sebagai pencuri. Mina menyebut Nenek sebagai orang yang serakah. Suara Mina tak kalah keras dari Nenek.
Orang–orang lebih memilih menyingkir ketimbang memisahkan mereka. Sepertinya mereka sudah biasa dengan keributan seperti ini. Sebuah mobil jeep berhenti. Seorang laki–laki bertopi putih turun dari mobil. Ia menenangkan Mina, lalu membawanya ke mobil. Aku seperti mengenalnya, tapi tak ingat di mana.
Nenek membuka dompetnya dan menyerahkan uang pada penjaga warung, lalu mengajakku pergi. Kejadian tadi menjadi bahan tontonan orang–orang yang berbelanja di warung. Bahkan beberapa orang yang sedang melintas di jalan ikut menonton. Nenek seolah tak peduli.
Saat mobil jeep itu melintas di depan kami, lelaki itu memandang ke arah kami sekilas.
“Siapa lelaki itu, Nek?” tanyaku penasaran.
“Dia tu Ramli, Mina pung paitua,” jawab Nenek dengan nada kesal.
Aku mencoba mengingat nama itu. Ya, aku pernah melihatnya saat masuk ke Gunung Botak kemarin. Betul, dia adalah Ramli.
“Ramli penjaga di Gunung Botak,“ ucapku berkomentar.
“Laras su bakudapa Ramli?” tanya Nenek penuh rasa keheranan.
“Kemarin, Laras melihat Ramli di Gunung Botak.”
“Dia su jadi penguasa di sana,” ucap Nenek dengan nada sinis.
Aku pernah mendengar cerita itu dari Pak Hari. Nenek sepertinya cukup mengenal Ramli.
“Ah, mas su bikin orang jadi jahat,” desah Nenek.
“Maksud Nenek, dulu Ramli orang yang baik?” tanyaku.
“Ya. Dolo dia anak bae. Tapi sejak kenal mas, dia berubah,” ucap Nenek, seolah tengah menyesali sesuatu.”
Tiba-tiba Nenek menghentikan langkahnya.
“Sabantar Laras,” ucap Nenek, memintaku berhenti berjalan.
“Ada apa, Nek?” tanyaku dengan perasaan bingung.
Ia tak menjawab. Matanya terpejam. Beberapa saat kemudian matanya terbuka. Lalu menggelengkan kepala, sambil mendesah.
“Ada mau tanah longsor di Gunung Botak,” jawab Nenek, dengan suara lirih.
“Longsor?” tanyaku tak percaya.
“Ya, beta bisa rasa itu,” ucap Nenek dengan wajah serius.
“Hati-hati kalau Laras mau pi di sana,” pesan nenek, seperti sebuah peringatan.
Aku menjawab dengan anggukan kepala dan tak berani bertanya lagi, meski perasaan bingung menyergapku. Kemuramannya saat bercerita tentang emas di Gunung Botak, pertengkaran dengan Mina dan terakhir ramalannya tentang longsor yang akan terjadi di Gunung Botak, membuat Nenek makin terlihat misterius. Ketertarikanku terhadap sosok Nenek Ruth mendadak muncul. Dari sikapnya, firasatku mengatakan ia mengetahui banyak perihal penemuan emas di Gunung Botak.
Sebelum pergi, Nenek kembali memberiku pesan. Kali ini dua pesan sekaligus. Pertama, aku harus berhati-hati selama berada di sana, dan usahakan secepatnya kembali ke rumah. Sekali lagi ia mengatakan akan terjadi longsor di Gunung Botak. Kedua, aku harus menjauh bila bertemu Mina. Menurut Nenek, Mina adalah seorang pembohong.
Aku menghubungi Martinus untuk menemaniku hari ini. Tapi ia hanya bisa mengantarku sampai Kantor Desa Wanamasit saja, karena akan menambang emas di Gunung Botak bersama teman-temannya. Aku memintanya menjemput di rumah Nenek. Ia terkejut mengetahui aku tinggal di rumah nenek. Kemudian kujelaskan bagaimana aku bisa berada di rumah Nenek. Martinus cukup dekat dengan Nenek. Ketika datang tadi, ia langsung menuju dapur menemui Nenek dan meminta makan.
“Martinus, kau sudah lama kenal Nenek?” tanyaku, sambil berboncengan.
“Nenek sudah ada sejak aku lahir,” jawabnya bergurau.
“Aku serius dengan pertanyaanku.”
“Aku juga serius, Kakak. Nenek sudah terkenal sejak dulu.”
“Oh, ya? Terkenal karena apa?”
“Terkenal karena jaga Gunung Botak. Semua orang di desa ini kenal Nenek.”
“Jaga Gunung Botak?”
“Ya, tapi itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.”
“Kenapa?”
Martinus tak menjawab pertanyaanku. Ia menghentikan motornya di depan kantor Desa Wanamasit.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” kataku, mencoba menahannya.
“Nanti aku sambung ceritanya. Aku sudah terlambat, Kak,” katanya dengan nada tergesa-gesa.
“Jangan katakan pada Nenek kalau aku pergi ke Gunung Botak,” pesannya sebelum pergi.
“Bukankah Nenek tadi sudah berpesan padamu untuk tidak pergi ke Gunung Botak?” tanyaku mengingatkan.
Saat menjemputku di rumah Nenek tadi, Nenek sudah berpesan pada Martinus agar tidak pergi ke Gunung Botak. Dengan jawaban meyakinkan Martinus mengatakan bahwa ia tak akan pergi ke Gunung Botak.
“Kakak, aku perlu uang untuk ke Jakarta,” katanya memberi alasan.
“Untuk apa kau pergi di Jakarta?”
“Aku mau bekerja di Jakarta.”
“Kau akan bekerja apa?” tanyaku tak yakin, mengingat ia baru berusia sekitar lima belas tahun.
“Aku belum tahu, Kakak, tapi di Jakarta banyak teman dan saudara,” ucapnya dengan wajah optimistis.
“Kakak, aku harus pergi,” katanya berpamitan dengan tergesa-gesa.
Motor Martinus melaju kencang meninggalkanku.
Dwi Ratnawati