Fiction
Kemilau Emas Gunung Botak [1]

22 Oct 2015



BAGIAN I

Perjalanan  yang cukup melelahkan.  Harapku, semoga ini bukan pertanda buruk. Berawal dari  pesawat  yang akan membawaku ke Ambon  delay selama  hampir dua jam. Ketika  tiba  di Pelabuhan Galala, kapal  cepat  tujuan Ambon,  Namlea, sudah  berangkat.  Rupanya,  kapal cepat  hanya satu kali melakukan pelayaran.

Ada dua pilihan sebenarnya. Naik kapal biasa dengan waktu tempuh  dua kali lipat  lebih lama atau bermalam di Ambon menunggu kapal cepat esok hari. Naik kapal cepat waktu yang ditempuh hanya empat jam, sedangkan naik kapal biasa membutuhkan waktu hampir sembilan jam.

Matahari menyemburatkan warna  Jingga. Pertanda  hari menjelang senja. Aku harus membuat keputusan. Saat ini  hampir pukul enam sore. Loket dibuka   pukul sepuluh. Berarti aku harus menunggu sekitar empat jam.  Sementara di loket pembelian tiket  terlihat   antrean  panjang penumpang. Tiket  kapal biasa hanya bisa dipesan pada saat  keberangkatan.

Sebenarnya, aku tak perlu tergesa-gesa. Aku bisa datang ke Pulau Buru setelah puas menikmati liburan di Ambon. Masa cutiku pun masih lama.  Tugasku kali ini bukan tugas wajib, melainkan  hanya  pengisi  waktu cuti.

“Aku memberimu tawaran menarik.  Liputan investigasi  penambangan emas liar di daerah Gunung Botak, Desa Wanamasit, Pulau Buru,” ucap Alex, redakturku.
 “Besok aku sudah mulai cuti,” kataku,  menegaskan.
 “Aku tahu. Anggap saja ini untuk mengisi waktu cutimu itu,” katanya, dengan nada tenang.
“Aku akan liburan,” kataku, menolak tawarannya.
Sebenarnya, aku belum tahu hendak  ke mana mengisi  waktu cutiku  itu, selain menonton film.
 “Aku tahu kau  belum punya rencana untuk mengisi waktu cutimu, selain menonton film,  jadi aku menawarimu tugas itu,”  ucap Alex,  penuh keyakinan.
    Aku terdiam. Alex  selalu tahu apa yang ada dalam  pikiranku. Dan tebakannya selalu benar. Ia menyebut dirinya memiliki indra keenam. Kurasa bukan semata-mata karena kemampuan yang ia karang-karang itu, melainkan karena kami  telah berteman cukup lama. Aku memanggilnya  dengan panggilan Abang. Alex adalah  kakak kelasku  saat kuliah, tiga tingkat di atasku. Ia sudah bekerja sebagai wartawan lepas  sejak di bangku kuliah. Setelah lulus, ia tetap aktif di kampus membantu mengelola majalah kampus. Kariernya di dunia jurnalistik cukup cemerlang. Kini, ia diangkat menjadi redaktur di media tempatku bekerja.

    Alex mengambil  undangan pernikahan  berwarna biru muda  dari dalam tasnya. Memandangnya  sekilas, lalu berganti menatapku cukup lama. Aku mengerti arti tatapannya  yang tak biasa itu. Kucoba bersikap   biasa aja.
“Aku dititipi ini,” katanya,  sambil mendorong undangan itu padaku.
Namaku tertulis lengkap. Tentu saja, aku juga akan mendapat undangan biru muda itu.  Semua orang di kantor  mendapatkan undangan.
“Terima kasih,” kataku singkat.
Tanpa melihatnya lagi, kumasukkan undangan itu ke dalam tas. Alex menaikkan alisnya. Matanya  kembali  memandangku. Tatapannya membuatku merasa canggung. Sudah hampir setahun aku tidak berhadapan seperti ini. Kecuali untuk urusan pekerjaan. Itu pun sebisa mungkin tidak  berlama-lama. Hari ini, aku terpaksa datang menemuinya  di Kedai Kopi Gayo  langganan kami. Ia mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Meski sudah kutegaskan bahwa aku akan cuti. Alex  tetap  memaksaku untuk datang.
Suasana mendadak hening.
“Jadi karena ini Abang menugaskanku ke Ambon?” tanyaku, memecah keheningan.
“Aku baik-baik saja, terima kasih atas perhatian Abang,” lanjutku lagi.
“Laras, ini tidak ada hubungannya dengan….”
Alex menghentikan ucapannya.
“Dengan pernikahan Niko,” ucapku. melanjutkan ucapannya yang  tak sampai hati ia ucapkan.

Aku merasa ia mengasihaniku. Seperti orang–orang di kantor sejak kabar pernikahan  itu beredar. Apa yang dikatakan Alex tentang rencana cutiku adalah benar. Aku memang belum punya rencana apa pun untuk mengisi waktu cuti   satu minggu ini. Yang pasti, aku tidak ingin berada  di Jakarta pada hari pernikahan Niko.

Aku tidak ingin membahasnya, meski bila jujur kukatakan bahwa ini semua berhubungan. Alex tentu saja mengetahui bagaimana kisah cinta kami bermula dan berakhir, karena  Niko adalah sahabat Alex. Ia  yang memperkenalkan Niko padaku. Kami  bekerja di media yang sama. Niko di bagian desain grafis. Kami sering nongkrong  bertiga di tempat ini. Kebersamaan itu kini sudah tidak ada lagi. Persahabatanku dengan Alex  berakhir, seiring dengan berakhirnya hubunganku dengan Niko.

Tanpa sengaja aku melihat foto-foto mesra Niko bersama perempuan lain. Setelah kudesak akhirnya Niko mengakui bahwa  perempuan dalam foto itu adalah tunangannya yang sedang bersekolah di luar negeri. Aku kecewa mendapati kenyataan itu. Niko tak pernah sungguh–sungguh mencintaiku dan hanya menjadikanku sebagai pelarian. Mengakhiri hubungan menjadi jalan yang kupilih, karena Niko tak bisa membuat keputusan. Dan Minggu depan mereka akan menikah.

Aku  makin kecewa  saat mengetahui ternyata Alex sudah lama tahu bahwa Niko telah bertunangan, dan ia dengan sengaja tidak memberi tahu. Sebagai seorang sahabat, seharusnya ia memberi tahuku. Seandainya ia memberi tahu, mungkin aku tak akan membiarkan  diriku  jatuh cinta sedalam ini pada Niko.

“Seharusnya aku  memang memberi tahumu, Laras, tapi aku tak sampai hati,” katanya,  memberikan alasan sekaligus membela diri.
Sejak itulah semuanya berubah. Baik hubungan persahabatan maupun pekerjaan.
“Aku  tahu ini kesalahanku…,” ucap  Alex.
Kalimat yang tidak asing lagi  kudengar.
“Aku tak mau mendengar lagi tentang hal itu,” potongku, dengan nada tegas.
“Untuk kesekian kalinya aku minta maaf, Laras. Kau boleh marah padaku, tapi  jangan melampiaskan pada pekerjaan. Aku melihat penurunan prestasi kerjamu. Bahkan,  setahun ini kau sama sekali tak menulis liputan investigasi. Aku tak pernah mendengar  ide-ide  cemerlangmu lagi yang  membuat kita semua terkesima,” katanya lagi, penuh penekanan.
Sudah hampir satu tahun. Aku sadari itu.  Aku   hanya  menulis  berita wajib. Memenuhi kewajibanku untuk mengirim berita  tiap hari.  Terkadang bila sedang malas melakukan liputan,  aku meminta berita ke sesama wartawan. Tinggal mengubah sedikit kalimat  saja. Sering  kali aku mengabaikan informasi dari   informan di wilayah hanya karena aku malas pergi.

Alex benar, selama hampir satu tahun ini, aku tak pernah menulis  liputan investigasi yang sebelumnya merupakan tantangan bagiku. Tiap wartawan ditugaskan untuk menulis liputan investigasi. Tema  yang paling menarik itulah yang akan diizinkan untuk melakukan investigasi. Kolom investigasi itu dimuat   tiap hari Jumat. Tiap bulan aku menargetkan bisa mengisi kolom dua halaman itu. Aku mencoba mengingat-ingat investigasi terakhir yang kulakukan.  Pembalakan liar  kawasan hutan  lindung di wilayah Puncak. Sudah lama sekali. Tulisan itu  mendapatkan penghargaan liputan jurnalistik di bidang lingkungan.
“Aku tahu itu semua terjadi seiring dengan berakhirnya  hubunganmu dengan Niko. Kalau ada yang disalahkan atas itu semua, salahkanlah aku, Laras. Jangan kau hancurkan kariermu,“ katanya,  bersungguh–sungguh.

Kualihkan pandangan pada secangkir kopi di hadapanku. Ia yang memesan kopi ini ketika aku datang.  Americano coffee, kopi  hitam tanpa ampas  kesukaanku. Ia juga yang memilih tempat duduk di sudut kedai kopi ini. Tempat yang biasa kami tempati. Aku merindukan kebersamaan seperti ini dengannya. Jauh sebelum mengenal Niko, aku  sering melewatkan waktu bersama Alex di tempat ini sambil berdiskusi.

Kusadari sesungguhnya Alex tak benar-benar salah. Alex hanyalah pelampiasan dari rasa marah atas  apa yang dilakukan  Niko padaku. Perasaan ego membuatku tak ingin mengakui itu semua. Kalimat  permintaan maaf tadi, entah mengapa membuatku  merasa bersalah padanya atas sikapku selama ini.

“Aku tak bisa memaksamu. Selamat  cuti,” kata Alex, dengan wajah datar.  
Ia meminum kopinya dan  beranjak dari  tempat duduk.
“Baiklah, aku menerima tawaran Abang,” ucapku akhirnya.
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa kusadari.  Alex mengurungkan niatnya untuk  pergi. Ia menyalamiku dan wajahnya berubah semringah.
“Terima kasih, Laras,” katanya, sambil  menjabat erat tanganku.
Aku  hanya terdiam, seolah  tak percaya dengan ucapanku sendiri dan terlambat untuk menariknya kembali.
“Ini bukan liputan wajib. Kau tidak perlu tergesa-gesa. Bila perlu, kau bisa menambah waktu cutimu. Aku tidak memberimu deadline, tapi tetap investigasi itu harus  kau selesaikan,” lanjutnya lagi.
Kalimat terakhir yang diucapkan Alex hanyalah  sebuah rayuan saja. Aku hafal betul dengan kebiasaannya itu. Bila sedang menjalani tugas investigasi seperti ini, ia  selalu meminta laporan  kemajuan. Sekadar memastikan bahwa tugas itu sudah dilaksanakan. Dan ia tahu, aku tak bisa bersikap santai bila tugas belum selesai.

***************************************
Kerlip lampu di daratan  perlahan–lahan mulai  tak terlihat.  Dalam  gelap malam, ombak terlihat tenang. Perjalanan yang cukup panjang untuk kulalui seorang diri. Perjalanan ke  Pulau Buru akan ditempuh selama hampir sembilan  jam. Sekarang pukul sepuluh malam. Diperkirakan menjelang subuh aku akan sampai di Pelabuhan Namlea.

Advertisement
Selain penumpang,  kapal juga  riuh oleh para penjaja makanan dan minuman. Sebagian besar penumpang  berasal dari Pulau Jawa. Mereka  datang  dengan  membawa  peralatan  berupa wajan, linggis, dan sekop. Mereka adalah  penambang emas tradisional  yang akan  menuju  penambangan emas di Gunung Botak.

Aku mulai mencari tempat  duduk. Cukup sulit  ternyata. Hampir semuanya  penuh baik di dek satu maupun dua. Di dekat tangga dek satu, seorang bapak berbaik hati  memberiku tempat duduk dengan berbagi tikar sewaan. Sikapnya yang ramah membuatku bisa langsung akrab. Ia bernama  Haryono, biasa dipanggil Pak Hari, berasal dari Madiun. Di usia  yang sudah mencapai enam puluh tahun, ia masih terlihat segar. Badannya pun masih terlihat tegap.  Ia hendak menambang emas di Gunung Botak bersama rombongannya.
 
“Mbak mau ke mana?” tanyanya.
“Saya mau ke Desa Wanamasit, Pak,” jawabku.
“Sendirian?”  tanyanya penuh keheranan.
“Ya, Pak. Saya mau berkunjung ke rumah teman. Kebetulan saya sedang berada di Ambon,” lanjutku menjelaskan.
Aku sengaja  tak  mengatakan tujuanku yang sebenarnya.
 “Kalau begitu nanti sama–sama  rombongan Bapak. Desa Wanamasit dekat dengan Gunung Botak.
“Terima kasih, Pak, kebetulan teman saya tidak bisa menjemput,” ucapku mengarang–ngarang cerita.
“Pertama kali ke sini ?”
“Ya, Pak. Ini pertama kali saya ke sini.  Kalau Bapak sudah sering ke sini?”
“Ini  yang kedua kali. Dulu, Bapak  pernah datang ke Pulau Buru. Sekitar tahun 1970. Jadi rasanya  seperti mengenang peristiwa empat puluh  tahun lalu,” jawabnya, dengan suara lirih.
“Oh, Bapak pernah tinggal di sini?”  tanyaku.
“Bukan tinggal, tapi dipenjara,”  jawabnya, penuh penekanan.
“Mbak Laras pernah dengar tentang  tahanan politik di Pulau Buru?” tanyanya.
“Ya, Pak. Saya pernah mendengar tentang cerita itu.”
Pulau Buru memang memiliki sejarah tersendiri, di dalamnya  tersimpan kisah kelam bagi para tahanan  politik  di era tahun 1965.  Sekitar  sepuluh ribu  tahanan politik dibuang ke Pulau Buru. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah salah satunya.
“Nah, saya  ini  adalah salah satunya,” katanya  membuat pengakuan.
“Jadi Bapak pernah ditahan di Pulau Buru?” tanyaku, menegaskan.
“Ya  Mbak, selama hampir lima tahun. Sampai sekarang Bapak tidak tahu apa salah Bapak. Waktu itu umur Bapak sembilan belas  tahun. Bapak  memang punya teman yang aktif di organisasi. Tetapi Bapak tidak ikut-ikutan. Tiba-tiba  saja  Bapak  diciduk. Berpindah–pindah penjara. Dari Salemba, Tangerang, Nusa Kambangan, sampai akhirnya sekitar tahun 1970, Bapak  dibawa ke Pulau Buru.”
“Bapak tidak protes?” tanyaku.
“Pada waktu itu Bapak memang tidak terima. Sempat melawan. Tetapi, setelah dipikir, hanya sia–sia saja melawan penguasa. Akhirnya Bapak  berusaha bersikap pasrah dan menerima. Kalau tidak, Bapak sudah mati. Teman Bapak meninggal karena tak kuat kena siksa. Sebelum meninggal,  dia berpesan supaya Bapak menikah dengan istrinya,” katanya panjang lebar.
“Bapak akhirnya menikah dengan istri teman Bapak itu?”
“Iya, Mbak.  Bapak sudah janji sama teman Bapak itu. Setelah dibebaskan, Bapak pulang ke madiun dan menikah dengan  istri teman Bapak itu. Sekarang Bapak sudah punya dua cucu, dari kedua anak Bapak yang semuanya perempuan,” jawabnya dengan tersenyum lebar.
Kemudian Pak Hari memperlihatkan bekas  luka menyerupai akar di lengan kanannya. Luka akibat pukulan benda tajam saat  mencoba melawan. Ia membuka sepatunya, dan memperlihatkan kelingking kaki kanannya yang  putus karena luka yang membusuk. Aku menjadi ngeri membayangkan itu semua. Pak Hari menyebut bekas luka itu sebagai saksi perjalanan hidupnya  sebagai tahanan di Pulau Buru.

********************************
Aku tak ingat kapan tepatnya terlelap.  Saat membuka mata, matahari telah  menyembul di balik awan ditemani angin pagi yang berembus lembut. Daratan sudah mulai terlihat dan kapal melaju perlahan menuju dermaga. Pak Hari memberi isyarat agar aku bersiap–siap. Kapal merapat ke dermaga Pelabuhan Namlea.  Jembatan apron mulai diturunkan. Aku berjalan  ke luar kapal bersama rombongan Pak Hari. Ditambah denganku dan Pak Hari, rombongan berjumlah  enam orang. Pak Hari paling tua di antara mereka. Anggota rombongan lainnya  berusia  sekitar  tiga puluh tahun.

Kami sarapan di sebuah warung. Selera makanku hilang, meski  dari semalam perutku belum diisi. Sinyal  yang hadir bila tubuhku mulai  kelelahan. Tapi, kupaksakan untuk  tetap sarapan. Rencananya setelah turun dari kapal, aku akan langsung mencari penginapan dan beristirahat. Baru keesokan harinya memulai investigasi di Gunung Botak.
Namun, pertemuan dengan Pak Hari membuatku mengurungkan rencana itu.  Kurasa akan lebih mudah masuk ke  tempat itu dan mendapatkan informasi bersama Pak Hari ketimbang aku  masuk sendiri. Pak Hari tidak  keberatan ketika aku meminta izin untuk ikut bersama rombongannya. Kukatakan padanya bahwa temanku  sedang bekerja dan baru kembali nanti sore.

Seorang  remaja menawarkan angkutan umum kepada Pak Hari. Setelah terlibat tawar-menawar, kami  naik angkutan umum itu. Pak Hari mempersilakanku duduk di depan, sedangkan ia dan rombongan duduk di belakang. Sepanjang perjalanan  terlihat bukit-bukit gundul dirimbuni pohon minyak kayu putih yang tampak  mengering dan seperti tak terurus. Warna hitam pada batang pohon kayu putih dan merah pada daun- daunnya menyajikan pemandangan yang eksotis.

“Pohon kayu putih  itu akan subur lagi. Lapisan kulit pohon yang hitam akan mengelupas berganti dengan yang baru. Setelah itu, daun-daunnya  akan kembali tumbuh,” ucap Pak Hari menjelaskan.
“Wah, Bapak  sangat hafal dengan daerah ini,” pujiku.
“Bapak pernah bekerja di tempat penyulingan minyak kayu putih setelah keluar dari penjara,”  ucapnya.
“Dulu,  Buru itu masih  hutan. Kami membabat hutan selama hampir tiga bulan. Kemudian  bercocok tanam dan makan dari hasil  panen.  Buru memiliki tanah yang  sangat subur. Tiap panen selalu melimpah ruah, dan bisa menghidupi seluruh tahanan.  Bapak  ditempatkan di Desa Savana. Ada sebagian  teman–teman yang menetap di sini,” kenang Pak Hari.
“Bapak mau pergi ke Savanajaya?” tanya remaja itu, sepertinya ia sudah tahu tempat  yang dimaksud oleh Pak Hari.
“Ah, tidak. Kita langsung saja ke lokasi,” jawab Pak Hari.
Remaja itu meminta nomor ponselnya dicatat, siapa tahu kami mau menyewa   kendaraan atau ojek motor.  Ia bernama Martinus. Selain menjadi sopir angkutan, ia juga menjadi tukang  ojek motor. Aku ikut mencatat  nomor ponsel Martinus, kalau-kalau membutuhkan bantuannya.
Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika kami tiba di areal Gunung Botak, tapi matahari terasa begitu menyengat. Gunung Botak terlihat begitu sesak oleh ratusan orang yang berlalu-lalang.  Tenda–tenda biru terbuat dari terpal bertebaran. Orang-orang  berlalu-lalang sambil  memikul karung-karung berisi tanah yang diduga mengandung  emas.  
Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan berkulit gelap  menghentikan langkah kami. Ia mengenakan topi  putih  yang dipakai hampir menutupi wajahnya. Pak Hari dengan santun menyapa laki-laki itu. Mereka terlibat perbincangan serius. Pak Hari menjelaskan bahwa orang-orangnya telah datang lebih dulu ke lokasi. Kami diminta menunggu. Mereka akan mengecek  terlebih dahulu kebenaran  ucapan Pak Hari.

“Kalau berhadapan dengan orang seperti itu, kita tidak boleh ngotot. Bagaimanapun, mereka lebih berkuasa. Karena mereka adalah penduduk setempat dan kita pendatang. Apa keinginan mereka, kita ikuti saja. Asal tidak berlebihan,” jelas Pak Hari dengan  santai.
“Siapa laki-laki Itu, Pak?” tanyaku penuh selidik.
“Namanya Ramli. Dia penguasa tempat ini. Siapa saja yang hendak masuk harus izin dan membayar sejumlah  uang.  Anggota Bapak sudah memberi uang saat masuk ke lokasi  pertama kali,” jawab Pak  Hari dengan nada ringan.
“Bapak sepertinya sudah pengalaman bekerja di tempat seperti ini.”
“Ya, hampir sepuluh tahun ini. Bapak  berkeliling ke  Sumatra, Jambi, Jawa Timur dan Jawa Barat. Dulunya ikut-ikut teman. Sekarang Bapak sudah  punya tim sendiri. Biasanya Bapak kirim orang ke lokasi. Kalau hasilnya bagus, baru Bapak dan anggota lainnya akan datang menyusul.”
“Bagaimana dengan emas di Gunung Botak ini, Pak?” pancingku.
“Bagus, sangat bagus hasilnya. Daerah ini kaya akan kandungan emas. Menurut anggota Bapak, hanya menggali kurang dari tiga meter saja urat emas sudah bisa terlihat,” jawabnya dengan mata berbinar-binar.
Ramli datang  dan mempersilakan kami masuk. Topi yang ia kenakan membuatku tak dapat dengan jelas melihat wajahnya. Kami berjalan menanjak memasuki areal berbukit itu. Gunung Botak adalah sebuah areal  perbukitan yang cukup luas dikelilingi rimbun pepohonan. 

Aku mencium bau tak sedap saat melintasi jajaran tenda terpal itu. Bau  pesing yang menyengat. Bau yang kurasa bersumber dari botol  plastik bekas mineral yang bertebaran hampir  di sepanjang tenda.

Di sebuah tenda kami berhenti.   Beberapa orang menyambut Pak Hari. Di dalam tenda yang tak terlalu luas itu, terdapat lubang galian dengan lubang diameter sekitar hampir satu meter. Aku melongok  ke  dalam lubang yang kedalamannya diperkirakan mencapai lebih dari  lima meter. Pak Hari  tampak sibuk mendengarkan laporan anak buahnya.  Aku




***********
Dwi Ratnawati





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?