Fiction
Dongeng Kunang-Kunang [4]

1 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Petugas itu mengangguk. “Maaf, kami terpaksa harus meminta Nona melakukan identifikasi ini, karena anggota keluarga korban yang lain masih di bawah umur sehingga tidak memenuhi syarat untuk melakukannya.”

Aku tidak mengerti apa maksud kalimat itu. Anggota keluarga korban masih di bawah umur? Apa maksudnya? Ayahku adalah korban musibah itu. Aku anak tunggal dan tahun ini genap 25 tahun usiaku. Itu adalah ukuran umur dewasa.

Jadi, apa maksud petugas kepolisian itu?

Tapi, tak ada kesempatan mempertanyakan hal itu. Langkah kami telah tiba di tujuan. Sebuah tempat yang hening, dengan suasana senyap yang tak nyaman. Dengan udara dingin yang menebar miris.

Pintu terbuka. Gemuruh di benakku menghebat, dadaku berde­bar dengan dentuman yang sedemikian rupa. Ada dua tubuh berselubung selimut di ruangan itu. Salah satunya akan dibuka untukku.

“Ayah,” panggilku, refleks. Begitu saja tercetus suara itu.

Perlahan petugas membuka selubung selimut. Ayahku terbaring dengan tenang. Matanya menutup, bibir mengatup. Wajah pucat, nyaris memutih, wajah yang bersih, tidak ada luka berarti, hanya beberapa memar di dahi. Lalu kulihat tetes darah itu, merembes dari hidung dan liang telinga.

“Luka dalam,” petugas menjelaskan. “Agaknya benturan keras mengenai beberapa organ vital. Beliau meninggal di perjalanan, sebelum petugas medis sempat memberikan pertolongan.”

Ayahku.

Gerangan apa yang terjadi sehingga musibah ini menyergap? Ayah adalah seseorang yang selalu bersikap hati-hati, dalam hal apa pun juga, juga ketika mengendarai kendaraan. Selama ini tidak pernah ditimbulkannya goresan apa pun pada mobil yang dikemudikannya. Jadi, bagaimana mungkin terjadi hal separah ini padanya?

Kucari jemari Ayah, kugenggam erat. Dingin jemari itu, tiada kehangatan, meski samar. Tiada jiwa yang bersemayam di sana.

“Ayah, aku datang,” bisikku perlahan. Ayah bergeming, tak hirau pada bisikanku.

Ayah tidak pernah melakukan hal serupa itu padaku. Selalu disimaknya aku dengan seksama. Semua ceritaku, keluhan dan luapan gembiraku. Semua yang ada padaku senantiasa mendapatkan perhatiannya. Tidak ada yang terabaikan satu pun.

Tetapi kini, diabaikannya diriku. Tak didengarnya panggilanku, tidak dibalasnya sentuhanku, tidak disambutnya kedatanganku. Ke manakah perginya semua itu darimu, Ayah?

Ayah tidak menjawab, tetap bergeming dalam kebekuannya. Kuraih saputangan dan kuseka tetes darah di hidung dan telinga. Warna merah bebercak di helaian kain itu.

Seberapa dalam lukamu, Ayah, sehingga mengalir darah itu daripadamu? Pasti keras benturan itu menghantammu, sehingga membentuk luka yang sedemikian rupa. Pasti sakit ketika itu, kesakitan yang tak akan terjelaskan.

Tatap mataku mengabur, genangan air hangat memenuhi kelopak mataku. Aku menangis. Tak mampu kubendung segala kepedihan di dalam diriku. Kepedihan yang utuh penuh, oleh sebuah kehilangan yang sempurna.

Pernah kumiliki sebuah kehilangan, ketika Bunda tiada kembali pada kami. Kehilangan yang rapi tersimpan di dalam diriku, tanpa pernah memudar. Sekarang Ayah meninggalkanku, pergi menuju pada sesuatu. Tanpa pamit apalagi meminta persetujuanku. Kepergian yang melekatkan rasa ditinggalkan yang pedih memenuhi dinding-dinding benakku.

Dan, terlengkapilah kehilangan itu di dalam diriku. Sepasang kehilangan yang sempurna.

Pernahkah melihat sesuatu yang rapuh meretak, lalu berkeping hancur? Umpamakanlah ada sesu­atu yang terbuat dari keramik, entah vas, piring, mangkuk atau gelas. Sebuah benturan menyentuh keramik rapuh itu, mengguratkan retak pada beberapa sudutnya. Namun, keramik itu bertahan, meski menyimpan retak itu di dalam dirinya sebagai jejak peristiwa yang tak terhapus, retak yang bertahan dan tersimpan rapi dalam ingatan. Lalu sebuah benturan lain datang, mengentak sedemikian rupa dalam gerak yang tak terdeteksi, apalagi menyisakan waktu untuk mengelak, apalagi menangkis. Sebuah gerak yang sempurna, tidak hanya sekadar memudarkan retak, melainkan menggenapinya, menyusupkannya sebagai keping yang berserakan. Maka, sempurnalah kehancuran itu. Tiada lagi retak, sekaligus tiada lagi wujud keramik itu. Kehancuran yang sempurna.

Akulah keramik itu.

Kepergian Bunda dan Ayah adalah kehilangan dan kehancuran yang sempurna bagiku.

Butir air menetes dari mataku. Mutiara air mata. Setiap orang akan selalu menyimpan mutiara air mata terindah untuk seseorang yang dikasihinya. Tidak pernah kusangka bahwa begitu dini harus kupersembahkan mutiara air mata terindah kepada orang-orang yang kukasihi.
“Maaf, Nona,” kata petugas kepolisian, menyela kesedihanku. Pelan suara itu, dengan nada memohon yang sangat hati-hati. “Masih ada seorang lagi yang harus diidentifikasi.”

Aku tersentak kaget, menoleh seketika pada polisi itu. Seorang lagi? Siapa pula? Hanya Ayah, milikku seorang di dunia ini.

Advertisement
Petugas kepolisian menjawab pertanyaanku dengan mengarahkan pandang pada sesuatu berselimut yang terbaring di sebelah ayahku. Seorang petugas membuka tabir selimut, menampakkan sosok jenazah seseorang. Wanita paruh baya. Ada banyak luka di tubuhnya. Tidak kukenali.

“Bukannya dia ibu Nona?”

Aku menggeleng. “Tidak. Ibuku meninggal 20 tahun yang lalu.”

Petugas kepolisian mengeluarkan sesuatu. Sebuah tas. Dua buah dompet, model dompet laki-laki dan satunya perempuan. Beberapa kartu tanda pengenal, dan sepasang cincin emas sederhana.

“Ini cincin kawin.”

Aku tercengang. Kuteliti sepasang cincin itu dengan segera. Benar, pada cincin yang lebih kecil tergrafir nama ayahku.

“Mengapa begini? Ini tidak mungkin,” desisku.

“Mereka juga tinggal pada rumah yang sama. Ada seseorang di sana, tapi masih di bawah umur untuk melakukan identifikasi. Beruntung kami menemukan kartu nama korban beralamat perusahaan sehingga kami bisa melacak Anda.”

“Tidak mungkin. Aku anak tunggal, kami hidup berdua. Tidak mungkin ayahku melakukan sesuatu yang tidak kutahu.”

“Tetapi …”

“Berada pada mobil yang sama, tidak berarti ada hubungan khusus, apalagi suami-istri. Pun andai mereka memiliki cincin yang mirip, ini tuduhan yang gegabah.”

“Hmm, mereka….”

“Wanita itu sungguh bukan anggota keluarga kami. Aku tidak bisa melakukan identifikasi untuknya. Maaf,” tukasku tegas.  “Anda harus segera menemukan orang lain untuk melakukannya.”

Petugas polisi itu sesaat menghela napas.

“Baiklah, kami akan melakukan penelusuran lebih lanjut,” katanya dengan kesabaran penuh. “Mungkin Anda bisa membantu?”

“Entahlah,” aku ragu.

“Ada baiknya Nona menyertai kami mengunjungi rumah tempat tinggal korban selama ini.”

Aku mengangguk setuju. Itu rumah ayahku tentu. Kuingat Ayah pernah bercerita bahwa dia menyewa sebuah rumah untuk tinggal selama masa kunjungan di kota ini. Kota ini begitu kecil sehingga hotel yang ada memiliki fasilitas sangat terbatas. Tidak banyak alternatif penginapan. Maka, kulangkahkan kaki mengikuti langkah petugas itu.

Rumah Ayah.

Sederhana rumah itu, dengan luas bangunan yang mungil. Ada kebun dengan berbagai jenis pohon mengitari rumah ini. Berpagar tanaman dengan daun yang rimbun, dan memunculkan kuntum-kuntum kecil bunga berwarna merah jambu. Berpintu pagar kayu yang rendah, tak terkunci dan menghamparkan jalan setapak berupa tumpukan batu kali.

Aku tahu, sebagian dari diri Ayah ada di dalam rumah ini. Setiap sudut rumah pastilah merekam jejak kenangan yang ditinggalkannya. Jejak kenangan yang tak kukenali. Jejak kenangan tanpa melibatkan aku di dalamnya.

Di sisi lain mengalir sebuah perasaan yang asing. Perasaan tidak mengenal, tidak akrab, semacam rasa tidak terlibat. Aku tidak pernah tahu tentang rumah ini. Tidak ada gerak kenangan yang kumiliki darinya. Pun rumah ini juga tidak menyimpan jejakku di dalam segala sejarahnya, meski selintas.

Polisi itu mengetuk pintu.


Penulis: Sanie B. Kuncoro




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?