Aku menatap sofa merah tua di sudut ruangan putih ini. Aku masih ingat betapa ia menyayangi sofa itu, dan betapa ia bisa tenang sambil terpejam melemaskan seluruh badannya di atas bantalan lembut itu. Bahkan, aku masih bisa menggambar dengan jelas geraian rambut cokelat tuanya yang ia lampirkan dengan lemah lembut di bagian kepala sofa itu. Tiap pulang sekolah, atau tiap aku baru pulang dari kegiatan ekstrakurikuler, aku sering melihat ia berdiam diri di sana dan wajahnya terlihat tenteram.
Jika ia sudah merasa cukup, ia akan bangkit dari sofa, lalu menyapa dan memeluk tubuhku yang bau matahari. Namun, bau matahari yang panas itu mampu diredam oleh kehangatan tubuhnya. Aku sering menduduki sofa itu kala merindukannya, tiap ia pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, misalnya. Harum tubuh dan wangi parfumnya sudah melekat tak mau lepas dari permukaan beludru sofa merah tua yang sudah lekat dengan aroma tubuhnya, dan tak akan pernah bisa dihilangkan.
Teringat tiap langkah yang aku lalui bersamanya, juga tiap waktu yang ia selalu sediakan untukku. Walaupun terkadang jauh, aku bisa merasa ia selalu bersamaku, walau hanya mendengar suaranya lewat telepon atau pesan-pesan singkat di layanan messenger. Jika aku sedang resah karena segala masalah yang menimpa, ia selalu bisa menenangkanku dengan berbagai caranya berkomunikasi.
Ia mampu membuatku diam merasa bersalah karena telah membentaknya dan menganggapnya egois, hanya dengan mengucapkan tiap kata yang aku yakin tak pernah diucap orang lain padaku, atau pada kepunyaan mereka. Ia bukan orang yang otoriter, aku pun mengenal dan memahami makna demokrasi bukan dari sistem negara ini melainkan lewat didikan yang ia terapkan padaku. Ia tidak pernah ragu untuk mendengar dan sungguh merupakan pantangan baginya untuk menilaiku berdasarkan predikat yang aku miliki. Ia telah menerapkan segala nilai yang aku makin syukuri telah peroleh ketika usiaku beranjak dewasa.
*
Siang ini, aku kembali mengenang sosoknya. Aku minum teh dari cangkir kesayangannya, aku merelaksasi segala kepenatan dengan melakukan apa yang dulu ia lakukan di sofa merah tua itu, dan aku menghitung segala langkah yang dulu biasa kupijakkan dari kamarku menuju kamarnya kala aku ketakutan di tengah malam. Kutekan berulang-ulang tuts piano yang sudah ia kenalkan padaku sejak aku masih belum bisa membaca aksara apa pun di dunia ini.
Aku memaksanya hadir di hariku, tentu saja karena aku belum bisa mengganti sosok ia dengan siapa pun untuk membuatku tenang. Hari ini, terpaksa aku harus sanggup menghirup udara yang masih menyelimuti rumah ini. Rumah yang telah menjadi saksi mati aku tumbuh menjadi manusia seperti sekarang. Memang, beberapa tahun telah ia lewati untuk menjadi saksi mati pertumbuhanku menjadi manusia, karena aku harus rela untuk keluar dari sini dan berpisah dengannya demi belajar tentang dunia dan hidupku secara nyata.
Langkahku terhenti di satu sisi dinding. Permukaan datar itu berisi gambar-gambar aku dan dia, penuh dengan senyum, bahkan tak sedikit yang berisi pose tolol kami berdua. Masing-masing gambar menunjukkan perubahan wajahku dari masa ke masa. Saat aku masih balita, saat aku menjadi anak-anak, remaja, hingga yang terakhir memampang wajahku tiga tahun yang lalu. Tentu saja dalam tiga tahun banyak yang telah berubah dari penampilanku, tapi foto itu paling mendekati gambaran sosok aku yang sekarang. Otomatis, segala perkataan yang pernah ia ujar kepadaku sepanjang masa itu kembali terngiang di kepalaku.
*
“Ingatlah, Sayang. Aku memiliki tugas, yaitu melihatmu sebagai anugerah yang harus kubesarkan dan kudidik,” katanya, saat aku hendak pergi dari rumah ini. “Namun, itu bukanlah hasil akhir, itu semua hanya bekal yang mau tidak mau akan kau bawa seumur hidup,” ia menambahkan. Usiaku 18 tahun waktu itu dan hendak melanglang buana demi memperoleh pendidikan, yang juga telah mendapat restu darinya.
“Selama ini anak telah terdogma untuk mematuhi peraturan orang tua mereka,” ujarnya, saat aku usai beradu pendapat dengannya di satu waktu. “Namun, orang tua lupa bahwa akan ada masanya saat anak-anak mereka tidak bisa lagi sepaham dengan mereka. Orang tua sering kali lupa bahwa anak, jika saatnya tiba, berhak untuk hidup dengan pikiran mereka sendiri.” Usiaku masih belia dan tengah merayap dari remaja menuju dewasa muda.
“Kamu, anakku, bukanlah beban,” katanya tegas, lalu menambahkan, “kamu, anakku, tidak memiliki utang apa pun terhadap orang tuamu, karena kamu, anakku, tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Kami, orang tuamu, yang telah berkehendak untuk memilikimu atas hubungan suami-istri yang kami lakukan.” Ujarannya itu muncul ketika aku sedang pulang ke rumah di masa kuliah semester akhir dan sedang bingung menentukan tujuan kerja selepas aku menjadi seorang sarjana.
Waktu itu aku sedang meminta pertimbangannya tentang apa yang sebaiknya aku lakukan. Alasan utama aku melakukan itu adalah karena takut apa yang aku kehendaki tidak akan sesuai dengan kehendaknya.
“Nilai bukanlah yang tercantum di angka pada rapormu, Sayang,” tegasnya dengan lembut, ketika aku menangis akibat gagal meraih peringkat satu di kelas. Ia menghela napas, lalu melanjutkan petuahnya, “Kau boleh bangga ketika memperoleh angka tertinggi di kelas, tapi nanti, kelak, kau akan sadar bahwa kualitasmu tidak melulu bergantung pada angka. Ingatlah Sayang, proses belajar bukan berarti hanya membaca buku pelajaran ketika kau akan menghadapi ujian esok hari. Kualitasmu sebagai seorang manusia tidak bisa dihargai dengan angka atau nilai yang memiliki batas 10 atau 100, atau A, atau berapa pun tingginya. Semua manusia, tidak sepantasnya dinilai semutlak itu.”
Bangku kelas 2 SMP sedang kududuki kala itu. Ia tidak pernah marah seperti orang tua teman-temanku yang lainnya ketika anaknya mengalami kegagalan akademis di sekolah. Kadang-kadang aku malah heran dibuatnya. “Dengar, tidak ada gunanya jika kamu ingin menjadi juara kelas karena takut Ibu memarahimu ketika gagal. Karena, ketika kamu gagal, Ibu akan selalu ada untuk memotivasimu,” katanya lagi, sambil mengecup lembut keningku yang basah oleh peluh sehabis menangis hingga lelah.
Aku masih ingat benar fase yang pernah kulalui sebagai anak SMA yang merasa tahu segalanya. Momen itu adalah tahapan paling labil yang bisa seorang manusia lalui, dan aku pun merasa paling tahu tentang diriku pada waktu itu. Perdebatan dengan dia pun tak terelakkan lagi. “Bagaimanapun kamu di luar sana, semua orang akan menilaimu,” ucapnya, sambil membuatkan secangkir teh untukku di suatu sore. “Tanpa kau sadari, semua penilaian selalu melibatkan rumah asalmu, karena rumah, karena keluarga, adalah yang paling menentukan derajat intelektualmu ke hadapan rimba kehidupan, Anakku,” tambahnya, menutupi deras hujan yang memagari rumah kami.
Pernah juga aku kelepasan membentaknya hanya karena alasan sepele: ia bertanya mengapa aku tampak uring-uringan dan aku yang baru putus dari cinta monyetku pun kesal oleh pertanyaannya yang kuanggap sebagai sinyal ‘terlalu ingin tahu’ itu. Dengan sorot mata tajam, ia langsung berujar tegas, “Selama ini, dunia telah membuat pola dan ikon bagaimana orang tua yang ideal. Penilaian itu lalu akan membuat anak menjadi subjek yang selalu disalahkan jika terjadi perselisihan dengan orang tua mereka,” katanya. “Tapi, percayalah, Nak, orang tua adalah manusia yang seharusnya menjadi sahabat anak mereka. Kami bukan presiden yang berada dalam tataran hierarki paling tinggi hingga semua yang di bawah mereka harus menurut tanpa kompromi. Orang tua seharusnya menjadi sahabat yang paling bisa kau percaya, karena kami hanya manusia yang harus mencoba mengerti,” lanjutnya, lalu jalan berbalik meninggalkanku yang terdiam di pojokan ruang keluarga.
Lima tahun silam, aku memutuskan untuk menikah. Malam-malam panjang mewarnai hari-hariku bersamanya. Sesi obrolan saling bertukar pikiran pun tak terelakkan dan aku masih ingat benar petuahnya kepadaku. “Ketika kamu menjadi orang tua kelak, ingatlah, jangan pernah berpikir bahwa anak lebih pintar dari orang tua membuatmu memaklumi kekurangan intelektualmu di depan anak-anak,” katanya, seraya membetulkan poniku. Ia menambahkan, “Tidak ada alasan manusia untuk berhenti belajar, termasuk belajar memahami anak-anakmu. Dengan kebijaksanaan dan kepintaranmu, Ibu yakin kau akan jadi orang tua yang sangat disayangi anak-anakmu. Karena nilai adalah yang bisa kau bagi dengan mereka. Nilaimu, sebagai orang tua mereka.”
Ketika rambut putih mulai memenuhi kepalanya yang selama ini diselimuti batang-batang rambut hitam lebat, ia tak pernah henti membekaliku dengan kata-kata bijaknya. “Jangan pernah kau hakimi anakmu dan jangan pernah kau sakiti mereka hanya karena kekesalanmu terhadap hidup yang makin lama makin membebani,” tuturnya, sembari mengelus-elus perutku yang makin membesar. “Anak bukan matras yang bisa kau jadikan pelampiasan emosimu, Sayang,” ujar sosok yang makin tua itu sembari duduk rapat di sebelahku. Kala itu aku sedang mengandung buah cintaku dengan suami, empat bulan usia janinku.
Hari berganti dan ia terus menua, namun ia tak pernah absen di hari-hari pentingku. Sedih rasanya melihat sosok tempat aku selama ini berlindung makin renta dan senja. “Anakku, ketika suatu waktu anakmu kecewa terhadapmu, jangan kau usir mereka,” kata perempuan cantik itu kepadaku. “Karena bisa jadi kau memang telah membuat mereka kecewa dan sakit hati. Cegahlah itu, Sayang. Ingatlah, kita bisa kecewa terhadap orang lain dan memutuskan hidup tanpa mereka. Tapi, ketika kita kecewa terhadap orang tua kita sendiri, oh, anakku, tidak ada yang lebih menyakitkan untuk merasakan itu. Dengarlah Ibu, Sayang, jangan pernah kau buat anakmu kecewa, bagaimanapun caranya kau mencegah dan mengatasi itu,” lanjutnya, sambil menimang bayi perempuanku yang mungil tepat setelah aku melahirkan.
*
Oh, Ibu, sungguh aku merindukan sosokmu. Saat ini aku sedang merasakan betapa beratnya kehidupan yang memaksaku untuk terus bergelut dan terus mengenyahkan perkara yang makin memelihara angkara. Sosokmu, satu dan tunggal sebagai ibu, telah berhasil membuatku merasa lebih dari cukup dibandingkan mereka yang memiliki sepasang orang tua, ibu dan ayah. Dirimu, Ibu, yang mampu membuatku tak pernah menyesal, walau tak pernah tahu siapa ayahku, dan tak pernah menganggap kita hidup dalam kekurangan. Aku membutuhkan nasihat dan ujaran lain darimu yang bisa menenangkan aku saat ini.
Kuseka air mata yang membasahi blazer hitamku. Bagian penopang lengan sofa merah tua ini tak henti aku elus sambil berusaha mencari-cari wangi tubuhmu yang mungkin masih tersisa di seluruh lipatan dan sela-sela sofa kesayanganmu ini. Aku mengesahkan isakan pedihku karena kehilanganmu begitu cepat. Kehilanganmu dengan sangat di saat aku masih membutuhkanmu, di saat aku tahu bahwa memang semua perkataanmu benar, bahwa hanya kau yang bisa aku percaya. Aku membutuhkanmu, Ibu, walau aku telah menjadi ibu, yang makin takut jika nantinya aku melupakan segala nilai darimu yang hari ini masih bisa kuingat. Segala perkataan indah dan nilai bijaksana yang selama ini selalu kau dongengkan di telinga dan merasuki sukmaku berlarian bolak-balik di laci memoriku yang terdalam mengenai sosokmu.
Berselang beberapa menit, aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Tak sanggup lagi aku melayangkan pandang ke seluruh rumah ini, rumahmu, rumah kita, saksi matiku yang harus rela ikut mati sejalan dengan kepergianmu yang telah ditutup oleh tanah basah pagi tadi. Segala ingatanku tentang sosok ibu dan masa kecil yang terlukis di sisi-sisi dinding rumah ini bisa membuatku makin terjepit oleh pusara kedukaan yang meraung makin lepas kendali. Tak lama kudapati diriku sudah berdiri di balik pintu utama rumah ini dan pedih yang mendalam masih menjalari dadaku hingga sesak. Kini akhirnya aku menyadari bahwa aku hanyalah sesosok manusia yang diizinkan menjalani giliranmu dahulu, sebagai seorang ibu.
Kania Raras