Fiction
Di Jantung Borneo [4]

25 Jul 2014


Kisah sebelumnya:
Jepp, seorang pemuda Dayak sungai, hidup di pelosok Sungai Tengah, Kalimantan, bersama ibunya yang dipanggil Umak. Namun, atas dorongan Niah, gadis yang ia cintai, Jepp pergi mengglondong, menebang kayu di tengah hutan. Ketika berada di jantung hutan, Jepp menyadari betapa keras hidup di hutan. APalagi ketika ia tahu bahwa ia menjadi pembalak liar.

<<<<< Cerita Sebelumnya

 “BANG, meski abang tidak mengijinkan, aku tetap hendak pergi juga Bang.” Ucapku perlahan namun tegas tatkala aku mengambil gaji mingguanku. Merah padam wajah Bang Resok. Sejenak saja. Lantas dengan sekuat emosinya yang ditahan, Bang Resok mengizinkan aku pergi. Dengan satu syarat. Aku tetap harus melunasi hutang-hutangku padanya. Jika tidak, Bang Resok tahu kemana akan mengejarku. Aku hanya mengiyakan, teringat ucapan Rasin saat berpisah. Kakaknya terbelit hutang lantaran mengglondong. Inilah rupanya, hal yang sama yang kemudian menimpaku.
Kusandang semua perbekalan yang dahulu kubawa saat pertama kali kemari. Tak banyak bertambah. Hanya sekedar sepotong baju yang kubeli di Pangkalan Bun. Uang yang tersisa dari minum-minum. Mesin gergajiku yang belum lunas, diambil kembali oleh Bang Resok. Setoran uang mesin yang telah masuk, dipotongkan untuk hutang-hutangku.
Ah, janganlah menganggap minum-minum itu buruk. Jangan buru-buru mencap. Bagi kami, di suku Dayak kami, entah di suku yang lain, para anak muda sudah terbiasa dengan minuman keras. Arak atau tuak, dan kini bir di kota. Semakin kami mabuk, maka itulah puncaknya. Ritual kami, ritual persahabatan. Entah sejak kapan bermula.  
Sore itu juga aku segera mencari Bang Yanto, pemilik speedboat yang berjanji mempekerjakanku. Menjelang malam aku baru sampai di Pangkalan Bun. Dengan petunjuk dari Bang yanto, aku menemukan rumahnya di kampung Mendawai.
Rumah Bang Yanto tidak seperti rumah panggung kami walaupun sama-sama berdiri tersangga kayu. Panggungnya rendah saja hanya sekedar memenuhi aturan adat. Namun lantai kayunya, wahai berkilat sekali. Benar-benar dirawat dengan baik.
Bang Yanto menyambutku dan mengajak makan malam bersama dengan keluarganya. Sebuah keluarga yang ramai dengan banyak anak dan kerabat dalam satu rumah.
Di rumah Bang Yanto pula, aku kagum dengan berbagai peralatan  elektronik yang serba canggih. Ada televisi, kipas angin, telepon, serta masih banyak lagi alat-alat yang asing bagiku. Di rumah panggung kami di komunitas Dayak Sungai, semuanya masih sangat sederhana. Kalaupun ada peralatan yang berbau modern, kami tidak terlalu menyukainya. Semilir angin sudah cukup untuk menghapus keringat. Dan menyibukkan raga di sungai dan sabah, membuat kami tidak punya waktu untuk berleha-leha, bersantai seperti kebanyakan orang-orang kota. Seharian yang penat, membuat malam adalah kekasih yang kami rindu untuk membuang letih.

                ****
PAGI belum benar-benar lengkap menyajikan lukisan panorama keemasannya tatkala Bang Yanto beranjak dari rumahnya. Seusai dia beribadah, dia mengajak aku untuk memeriksa pekerjaannya. Pertama, dia mendatangi tempat dimana orang suruhannya mengurus udang-udang tangkapan yang harus dipilah dan dikirim dengan pesawat pertama menuju Semarang.
“Satu tempat ini, paling banyak isinya tiga ekor saja. Berat satu kilo. Konsumen di Semarang meminta jenis nomor satu. Nah, kalau yang kecil-kecil ini, dijual saja ke pekan. Mereka tidak mau terima.” Bang Yanto memberi tahu sepintas saat dia mengawasi dua orang suruhannya yang siap mengangkut kotak-kotak busa berwarna putih dengan sepeda motor. Kotak styrofoam, kata Bang Yanto.
Selesai dengan urusannya, Bang Yanto mengajak aku menuju pangkalan speedboatnya di pelabuhan kecil yang rutenya menuju Sukamara. Hari itu aku hanya akan memperhatikan kerja Bang Yanto, lantas belajar sedikit-sedikit menyalakan mesin dong feng speedboat yang suaranya menggeram. Rasanya tidak akan terlalu sulit. Aku terbiasa melihat kerja para pengemudi speedboat sejak bersekolah di kota kecamatan dulu.  
Dan inilah yang kemudian aku jalani, menjadi sopir speedboat! Pekerjaan ini terasa jauh lebih ringan daripada menjadi pengglondong dan penengkong. Aku juga mulai merasakan peradaban kota. Malam hari, aku melepas lelah dengan mencari penjual makanan yang banyak bertebaran di sudut-sudut kota. Aku paling suka makan mi di sebuah rumah makan yang dikelola orang Jawa. Mi Nyata Rasa. Setiap malam, begitu banyak orang yang mengantre sang juru masak menghidangkan mi. Kabarnya, si penjual mi bahkan sampai memboyong kerabatnya di Jawa untuk dibawa ke Pangkalan Bun lantaran usahanya begitu pesat. Dan ia memperistri wanita pribumi yang jauh lebih tua dari usianya.  
Kebebasanku dari hutan lembab yang tiada berpengharapan di Tanjung Puting, ternyata belum cukup kuat mengusir perasaan yang mengganjal. Aku masih berhutang pada Bang Resok. Tapi aku tidak mau mencarinya. Biarlah nanti dia yang menemukanku. Uang sisa setoran ke Bang Yanto, hanya sedikit kusimpan. Sebagian besar habis untuk biaya aku makan sehari-hari.
Aku tidak mau terlalu menyusahkan Bang Yanto dengan ikut makan di rumahnya. Sudah harus cukup tahu diri dengan diberi tempat menginap. Namun terkadang satu dua kali, aku menerima ajakannya untuk makan bersama. Istrinya pandai memasak. Setiap kali makan, bermacam hidangan memenuhi lampit yang digelar di sisi dapur yang lapang. Sayur umbut rotan, masak merah ikan lais, baung atau ikan-ikan lainnya, sayur asam dan aneka wadai, sungguh memuaskan perut.
“Kalau hendak mencari istri, cari saja orang mendawai. Pandai memasak! Soal penampilan, tinggal didandani saja. Tak banyak menuntut.” Ujar Bang Yanto suatu ketika. Aku hanya tersenyum hambar sembari membayangkan wajah Niah. Dia juga pintar memasak, meski hanya masakan khas suku kami.
 Aduhai, sungguh ingin benar aku pulang ke rumah saat ini mengingat Umak yang selalu sabar terhadapku. Harapan Umak, pun harapanku untuk melihat dunia luar, ternyata tak seelok yang kami pikirkan dahulu. Tapi mungkin inilah yang diinginkan Umak supaya aku merasakan onak dalam hidup, tak melulu merasakan kenyamanan yang seringkali melenakan rasa syukur terhadap Sang Pencipta.
Mimpi dan harapan untuk melihat dunia, bagiku mulai terkikis oleh penat letih selama pengembaraan. Menjadi pengglondong dan penengkong, lantas mengemudikan speedboat, adakah hal lain lagi yang bisa kukerjakan? Lewat tayangan televisi yang biasa kutonton di rumah Bang Yanto, aku menyaksikan betapa luas bumi ini terjejak oleh manusia. Begitu banyak peradaban dan hal-hal baru yang kusaksikan lewat tabung kaca ajaib itu. Tetapi, tak ada yang melebihi keinginanku saat ini. Pulang.
Perlahan, aku menguatkan tekad untuk menyisihkan penghasilan dari sisa setoran. Kukurangi jatah makanku menjadi dua kali saja sehari. Tentu saja, awalnya sangat menyiksa. Kebiasaan kami adalah makan dengan porsi yang cukup banyak, dan kini aku  mencoba membeli nasi bungkus di warung Jawa yang harganya lebih murah. Sekali makan tandas, tak ada nasi penambah. Oi ini lebih baik ketimbang di dalam hutan dulu. Tiap hari hanya makan berlauk ikan asin.
Aku pun tak lagi pergi minum ke lapak-lapak tuak. Demikian perih kurasakan hidup sendiri dalam keadaan serba kekurangan.
Terkadang aku bertandang ke sebuah losmen milik orang Mendawai di Pangkalan Bun yang karyawannya adalah remaja-remaja suku Dayak. Mereka anak-anak suku Dayak di pedalaman yang ingin bersekolah di kota dan bekerja bersih-bersih di losmen dengan imbalan dapat menumpang hidup di situ.
Duhai sedikit terobati juga berkawan dengan mereka. Seringkali kami tak bercakap, hanya sekedar duduk-duduk. Melamun di depan losmen memikirkan masa depan kami masing-masing. Remaja suku Dayak memang tak banyak cakap. Namun dalam diam, pikiran kami mengembara.

Advertisement
SETAHUN sudah kugenapkan masa hidupku di luar kampung halaman. Aku betul-betul tak lagi menyimpan mimpi akan dunia luar. Namun itu bukan berarti aku tak punya impian. Bagaimanapun juga, hidup tanpa mimpi, serupa hidup dalam kematian. Hanya jasad yang bergerak dalam rutinitas, tanpa semangat, tanpa harapan, tanpa target. Aku bukan seperti itu. Aku hanya tak ingin lagi menghabiskan usiaku menanggung mimpi yang tergadai oleh egoisme, harga diri. Tempat terbaikku adalah di tanah kelahiranku. Mungkin orang-orang akan mengataiku pecundang, tak apa.
Kembali ke tanahku, kembali ke haribaan Umak, kembali ke air yang kuhirup saat menemu dunia untuk pertama kali, adalah mimpiku saat ini. Melanjutkan hidup bersahaja dengan alam, menemukan arti sesungguhnya tentang kehidupan itu sendiri, bukanlah hal bodoh sebagaimana dulu aku memandang. Pencarian akan keduniaan, selalu saja berujung pada ketidakpuasan. Aku ingin menghindar dari hasrat perasaan dan keinginan seperti itu. Aku ingin hidup sebagaimana aku hidup seharusnya.
“Tak baiklah memang kalau kau mengulur-ulur waktu. Jika harus kau sampaikan apa adanya, lakukan saja. Jangan berpikir terlalu dalam. Tak ada gunanya kau tahan-tahan, sementara di kampung sana keluarga dan kekasihmu menahan sebah menanti berita darimu.” Sembari membersihkan speedboat, mengecat ulang, Bang Yanto memberikan pendapatnya saat aku menguraikan semua masalahku.
“Tetapi aku akan pulang sebagai pecundang, Bang.”
“Itu lebih baik.” Bang Yanto bangkit berdiri dan membereskan peralatan. Hari sudah senja, speedboat sudah selesai dibersihkan dan dicat. Esok lusa, speedboat itu sudah nampak baru lagi. “Mengaku kalah bukan berarti lemah. Justru, butuh kekuatan besar untuk melakukannya. Sebab engkau harus menekan harga dirimu. Tapi jika kau lakukan demi kebaikan, paling-paling mereka hanya syok sejenak, sesudahnya, mereka tak akan menyalahkan atas apa yang telah terjadi.” Bang Yanto menepuk pundakku. Tepukannya keras, nampaknya Bang Yanto berusaha menguatkanku.
Aku hanya diam. Baiklah, hanya perlu satu orang saja yang memberikan dukungan. Itu sudah lebih dari cukup sebagai motivasi penghilang keraguanku. Sebuah alasan pembenaran.

DENGAN ongkos yang diberikan oleh Bang Yanto sebagai sumbangan, aku menjalankan langkahku, lambat namun pasti, kembali pada  kehidupanku dahulu. Istri Bang Yanto pun berbaik hati dengan membawakan begitu banyak buah tangan. Dua kardus kutenteng, isinya macam-macam dan di dalam ranselku, ada dua setel baju baru. Satu untuk Umak, dan satunya lagi untuk Niah. Keduanya bermodel sama, hanya warnanya yang berbeda. Raut cerah dua perempuan itu, terus membayang dalam benakku, kian melecut langkahku untuk menyegera pulang.
Bus travel, dan akhirnya kelotok! Hamparan sabah-sabah yang teramat kukenal menyambut kedatanganku. Aku menghirup udara kuat-kuat. Bau kampung. Bau yang sangat menyegarkan, bau kerinduan. Kucari layang punai di pucuk-pucuk pohon pauh. Ah belum senja benar, mereka belum kembali.
“Umak! Umak!” Aku bergegas menaiki tangga lamin. Tak banyak berubah, hanya satu tahun. Ya, benar-benar tak banyak berubah. Hanya bertambah kusam. Wajar saja, tak ada yang melap tangga-tangga rumah, menggosok lantai-lantai kayu. Dulu aku yang melakukannya. Apakah Niah tak melakukannya?
Tak kudapati Umak di dalam rumah. Aku turun setelah meletakkan barang-barang bawaanku. Biasanya Umak berada di kebun belakang membelah kayu, atau menyiang-nyiangi kebun. Benar saja, kulihat sosok perempuan renta yang tengah duduk di bonggol kayu bekas tebangan pohon. Pandangannya nanar menatap ke arah berlawanan. Ia belum menyadari kedatanganku.
Pelan-pelan aku menghampiri Umak.
“Umak…” ucapku perlahan. Wajah Umak menegang, menoleh ke arah suara. Umak tercekat mendapati aku yang telah berjongkok di sampingnya.
“Jep? Benar kau, Jep?” Umak menatapku lekat, antara percaya dan tidak. Ketika pikirannya telah betul-betul menguasai tubuh tuanya, Umak langsung memegang pundakku, mengguncang-guncangkan. Keras, sekeras dia mampu melakukannya. Aku tersenyum liris dengan dada yang sesak. Betapa aku telah membuat perempuan tua ini tersedu, sedu yang ditahannya berbulan-bulan dalam secuil pengharapan.

MIMPI itu memang benar-benar telah terpenggal. Kenyataan pahit  terpampang lewat perut Niah yang membesar. Sepanjang pembicaraan kami, Niah selalu menundukkan wajahnya. Riak-riak kecil sesekali hadir lewat aliran air dari perigi matanya. Aku menghela nafas berkali-kali. Kugenggamkan kedua tanganku erat, sesekali kupukulkan pada batang pohon. Rasin memegangi pundakku, berusaha menahankan emosiku.
“Sudah, sudah tak perlu lagi kau sesalkan, Jep. Jangan kau marahi Niah. Tak bersalah juga dia kawin. Kau telah melewati batas waktu yang kau janjikan untuknya.”
“Ya, aku tahu! Aku memang lalai, hanya tak menyangka saja. Betul-betul begitu mudah melupakan seluruh untaian waktu kebersamaan kami. Setidaknya, kawinlah dengan engkau, Rasin.” Sekeras hati aku coba melantakkan rindu dendamku. Oi, punai-punai mulai kembali ke sarangnya. Mungkin hanya mereka yang tak pernah benar-benar menyadari ada dan tidaknya diriku.
“Niah tak ingin menghancurkan persahabatan kita, Jep. Aku sendiri kecewa dia tak memilihku. Namun satu hal yang kuhargai darinya, Niah mengorbankan dirinya untukmu, juga untukku, meski dia tak ingin melakukannya.”
Aku membalikkan badan setelah melepas pukulan sekali lagi ke batang pohon. Kupandangi Niah. Ini akan jadi terakhir kalinya kulihat sosok kekasihku itu. Aku tak akan merintanginya lagi. Kubebaskan dia dari belenggu janjiku karena dia memang telah terlalu terdera oleh belenggu itu. Kusalahkan diriku sendiri yang tak menepati janji.
Kami bertiga diam dalam sepi, dalam pikiran kami masing-masing. Diam hingga senja benar-benar luruh dan Niah berbalik pergi. Tinggal kami berdua, aku dan Rasin. Tak ada yang menang dan tak ada yang kalah di antara kami. Sama-sama seri.
Kutepuk bahu Rasin dan mengajaknya naik ke rumahku. Satu setel baju yang kubeli untuk Niah, akan kuberikan pada Rasin. Umak telah menolak satu setel lainnya, justru menyuruhku menyimpannya. Pada saatnya nanti, aku dan Rasin akan mengadakan ritual pernikahan secara bersamaan dengan baju mempelai perempuan yang sama.  Mungkin inilah hal terbaik yang harus kujaga selamanya di sini. Kerabat dan sahabat.(TAMAT)(f)

*******
Irine Rakhmawati
Pemenang II Sayembara Menulis Cerber 2014





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?