Tampil perdana dalam film Catatan Harian Si Boy (2010), Tara Basro (24) langsung mencuri perhatian. Parasnya yang jelita berpadu apik dengan kemampuan akting yang fresh. Meski baru pertama kali berakting, ia tampak luwes mengimbangi performa lawan mainnya, mulai dari Ario Bayu hingga Didi Petet. Dengan bakat akting yang mengalir alami, tak salah bila dirinya kini makin diincar sutradara papan atas.
Dunia modeling memang menjadi pintu pembuka bagi Tara sebelum akhirnya bisa terjun ke film. Namun, saat harus memilih di antara kedua bidang itu, Tara mengaku yakin dan mantap ingin serius berakting. “Dunia akting sudah seperti napas saya. Dengan berakting, saya merasa lebih peduli dengan alam pikiran orang lain,” ujar wanita kelahiran Jakarta, 11 Juni 1990, ini.
Sebagai pendatang baru, Tara bekerja keras dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Apalagi ketika ia harus bersanding dengan pemain-pemain lain yang lebih senior. Seperti di film terbarunya, Pendekar Tongkat Emas, ia belajar wu shu dari nol, mengingat ia tak memiliki background ilmu bela diri. Selama tujuh bulan ia berguru pada atlet profesional dan koreografer film action yang langsung didatangkan dari Hong Kong.
“Saya belajar mati-matian. Badan lecet dan memar pun tak jadi masalah, asalkan saya bisa menjiwai peran dengan baik,” ungkap Tara, yang dalam film ini memerankan tokoh Gerhana bersama Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Slamet Rahardjo, dan Christine Hakim.
Bukannya merasa minder, penggemar musik R&B ini malah bersyukur bisa menyerap ilmu dan belajar banyak dari para seniornya. “Saya mendapat banyak pelajaran dari Ibu Christine Hakim. Energinya luar biasa. Saat berada satu frame dengan beliau, saya seperti kesetrum ikut merasakan emosi dan penjiwaan beliau. Saya jadi tertantang bisa berakting makin baik lagi,” tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini, mantap.
Membintangi film terbaru garapan sutradara Ifa Isfansyah ini, Tara mengaku antusias. Menurutnya, film ini spesial karena didukung dengan plot dan penceritaan yang menarik, yakni tentang padepokan perguruan bela diri di sebuah negeri antah berantah. Terlebih lagi, dalam film yang proses syutingnya berlangsung di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ini Tara memerankan tokoh antagonis.
“Karena baru pertama, saya merasa agak canggung, terutama ketika harus berakting adu fisik dengan Eva Celia, sahabat saya sendiri. Maklum, di luar kegiatan syuting, kami sangat dekat, dan hal itu terbawa ketika kami harus berantem. Saat harus memukul Eva, saya jadi enggak tega,” katanya, tertawa.
Seperti banyak orang yang memulai karier profesional di usia muda, Tara sempat berada di persimpangan karier dan sekolah. Tapi, saat ini rupanya Tara tidak mau menjalani keduanya setengah-setengah. Demi bisa fokus berkarier di dunia yang telah membesarkan namanya ini, ia bahkan rela meninggalkan bangku kuliah untuk sementara waktu. “Inilah kesempatan saya untuk berkarya, mumpung masih muda. Kalau mencari ilmu pengetahuan, kan bisa di mana saja, tidak harus di sekolah,” tegasnya.
Saat ini hanya dunia film yang membuat dirinya merasa paling nyaman. Proses penjiwaan peran di tiap film, menurut Tara, telah mendewasakan cara berpikir dalam dirinya. “Bagi saya, film adalah medium yang tepat untuk mengekspresikan diri, sesuai karakter saya. Dengan memainkan berbagai macam karakter, saya jadi merasa manusia yang lebih dewasa dan bijaksana,” terang wanita yang gemar membaca buku psikologi ini.
RIZKA AZIZAH