Tanpa menghabiskan banyak waktu, femina mampir ke Warung Nasi Kamylia. Tempat makan ini jauh dari kesan mewah seperti rumah makan di kota-kota besar lainnya. Ruangannya hanya berbentuk memanjang ke belakang (± 6 meter). Dinding dan lantainya masih menggunakan kayu ulin, jenis yang banyak ditemui di Kalimantan dengan kelebihan semakin kokoh bila terkena air.
“Itiknya sudah habis, tadi ada tamu yang borong untuk oleh-oleh, jadi saya sedang masak lagi,” tutur pelayan. Biasanya nasi itik yang akan dibawa pulang, dibungkus dengan daun pisang. Dalam sebungkusnya, nasi dan lauk bisa dipisah atau dicampur sesuai pesanan.
Habang versi lainnya ditambahkan terasi agar lebih gurih atau ada juga yang ditambahkan arang bakar panas kala proses pemasakan untuk memberikan aroma smokey pada masakan. Tekniknya mengingatkan dengan cara menikmati Kopi Jos di Yogyakarta. Karena porsi kecil haruan, femina juga menyantap lauk Masak Habang Itik yang kebetulan sudah matang.
Puas dengan masak habang, roda mobil tak lantas bergegas ke Banjarmasin. Dari Warung Sate Rama di sebelah Warung Nasi Kamyla, tampak kepulan asap bakaran satai. Inilah tempat Satai Gambut yang terkenal. Lucunya, orang lebih akrab dengan nama warung satai gambut daripada nama aslinya. Jadi jangan heran kalau banyak orang yang tidak tahu saat Anda menyebutkan nama Warung Sate Rama.
Pilihannya Satai Itik dan Satai Ayam. Selesai dipanggang di atas bara api, satai dilumuri bumbu kacang tanah yang digerus kasar. Manisnya bumbu kacang datang dari campuran kecap dan gula aren. Tekstur satai itiknya padat, empuk, dan tingkat kematangannya pas. Persinggahan pelancong setiba atau sebelum meninggalkan Banjarmasin.(f)