Karena beken sebagai tempat kopi darat Orari, akhirnya warung yang awalnya tidak bernama ini dikenal sebagai Lontong Orari. Di usia yang mendekati hampir 2 dekade, pelanggan membeludak hingga tak sebatas komunitas radio. Bahkan di tangan generasi kedua, ruang santap diperluas. Yang dipertahankan adalah gaya makan lesehan menggunakan lampit (tikar khas Kalimantan).
Bentuk lontong di rumah makan Orari ini unik, segitiga besar dengan panjang yang hampir sama dengan diameter piring. “Sekali masak lontong bisa menghabiskan waktu lebih dari 5 jam agar teksturnya padat dan kenyal,” tambah pelayan.
Seporsinya 2 lontong dan sayur nangka yang jadi kunci kenikmatan. Kepulan asap gulainya menerbitkan selera. Gurihnya berkat komposisi santan, kemiri, dan sedikit penggunaan kunyit. Untuk lauk pelengkap, pilih antara haruan, telur, atau ayam yang semuanya dimasak dalam bumbu habang. (f)