<<<<<<<<<<<<
Bagian 3
Kisah sebelumnya:
Rika hidup di perantauan dengan prihatin. Ketika sedang menyusun skripsi, Uzi, adiknya, menyusul dari Berastagi ke Lampung untuk kuliah D-1. Suka-duka mereka hadapi berdua. Hingga ketika Rika akhirnya diwisuda yang dihadiri kedua orang tuanya, justru Uzi terkena penyakit aneh hingga meninggal dunia. Keluarga yang berduka ini pun membawa jenazah Uzi kembali ke Berastagi.
Malam itu aku tidur di samping peti Uzi. Mencoba tidur sebenarnya karena rumah kami juga ramai sekali, dan ternyata ada jam-jam tertentu mayat harus ditangisi kembali dan diberi senandung. Saat Bibi dan Mamak kembali bersenandung, aku cuma memandangi mereka tanpa tahu harus mengucapkan atau melagukan apa.
Ungkapan senandung mereka adalah berisi pesan-pesan dan rasa kehilangan yang mendalam. Mulutku ingin, tapi aku tak tahu cara melagukannya. Aku hanya duduk dan memandangi mereka hingga acara menangis itu berhenti. Di saat itulah aku baru menyadari sesuatu. Aku tak melihat Kakek di rumah kami.
Kakek yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah kami. Ke mana beliau? Kenapa tak datang mengucapkan salam untuk Uzi? Sekian lama aku tak menengok mereka, apakah dendam itu masih ada? Kepalaku sibuk berpikir dan bertanya-tanya.
Kulihat ke seberang peti. Bapak sedang menunduk sambil memijit keningnya. Dia tak menangis, tapi aku tahu kepalanya sesak oleh sesuatu. Dan pasti salah satunya ketidakhadiran Kakek. Seperti aku membutuhkan Bapak saat ini, pasti Bapak pun membutuhkan Kakek. Pasti. Sedewasa apa pun kita, kita masih butuh orang tua untuk tempat menangis dan mengadu. Dan Bapak tak punya itu.
Aku tak berani berbicara karena memang seumur hidup jarang sekali kami berbicara berdua. Barangkali Uzi bisa mengajaknya bicara saat ini.
Heh, anak kecil, bangun, dong.
Tapi Uzi diam saja, melipat tangan dalam peti dengan rosario di tangannya. Tangannya yang cokelat mulai keriput dan pucat. Dia sudah dua hari menjadi mayat.
Lepaskan saja rosario itu, kan Tuhan jahat.
Dia tak menjawab, buktinya rosario itu tetap di sana.
Di pipinya terdapat beberapa bulatan hitam karena bekas suntikan formalin. Kata perawat yang menangani mayatnya, porsi formalinnya harus dilebihkan karena sesampai di rumah masih akan ada upacara adat yang menunggunya.
Besok upacara adat akan dilakukan seharian.
Dalam hati aku masih berpikir kalau barangkali orang-orang ini mempertimbangkan agar Uzi bisa lebih lama di rumah. Mungkin semingguan. Tadi di pesawat aku bertanya pada Mamak. “Besok Adek dimakamkan, ya?” Mamak mengangguk.
“Memangnya enggak boleh lebih lama lagi, ya?”
Mamak tak menanggapi pertanyaanku yang tolol itu. “Mak, memang Adek harus dimakamkan besok, ya?” kataku lagi, mencoba menego. Mungkin karena otakku yang sudah kosong.
Mamak hanya membentak dan aku tak bertanya lagi. Aku hanya diam dan memegangi ujung penutup kepalaku. Aku ingin melepasnya karena kepalaku gatal, tapi kata Mamak enggak boleh. Kain penutup kepala itu tanda kita sedang berduka.
Aku berduka, kok, meskipun tanpa penutup kepala, bantahku, tapi cuma dalam hati.
HP-ku bergetar lagi. Dari tadi ponselku memang tak pernah diam karena banyak sekali pesan masuk dari teman-teman Uzi. Aku melirik, dari Jenita, teman sekampus Uzi. Dengan malas aku membuka.
“Kak, udah hubungi Albert? Tiba-tiba aku teringat ceritanya dua hari yang lalu. Dia janjian sama Albert buat ketemu kalau pulang ke Medan.”
Aku baru ingat, aku belum mencari anak itu sama sekali.
Heh, anak kecil nyusahin saja kamu.
Aku mencari-cari nomor Albert di HP-nya. Untung Uzi enggak memakai nama aneh-aneh. Kukirimkan sebuah pesan, berharap dia bisa datang untuk terakhir kalinya. Setelah itu, kuletakkan ponsel di sampingku.
Sudah, dia datang atau enggak bukan urusanku, ya!
Uzi tak bicara, pasti dia menjawab dalam hati. Dan aku memilih tidur, barangkali kami bisa ngobrol dalam mimpi.
***
Dan sampai siang ternyata Kakek tak kunjung datang. Upacara adat masih berlangsung. Albert juga tak kunjung membalas pesanku. Kenapa, sih, lelaki-lelaki ini menyusahkan sekali. Aku mengusir lalat yang hinggap di pipi Uzi. Sebelah matanya tampak memicing.
“Katanya, kalau seseorang meninggal dan matanya sedikit terbuka, berarti dia masih punya permintaan,” kata sepupuku, berbisik.
“Masa?”
Dia mengangguk mantap.
“Albert kali, ya?”
Aku meraih HP dan mengirim pesan lagi. Berharap kali ini dibalas karena waktu pemakaman tinggal beberapa jam lagi.
“Telepon saja,” kata sepupuku. Aku menepuk jidatku dan mengambil tempat yang agak sepi. Di sana beberapa kali kuhubungi Albert, namun dia tak mengangkat. Dan aku tak tahu alamatnya sama sekali.
Aku sudah berusaha, tapi Albert-mu banyak tingkah, Zi.
Aku sedang mencoba menghubungi lagi ketika kudengar suara ribut-ribut dari jalan. Ada Kakek di sana dan beberapa paman dan bibi yang menjemputnya. Kenapa Kakek harus dijemput segala, bukankah dia bisa datang sendiri?
Kulihat di sampingnya ada seorang perempuan gemuk yang menggandeng tangannya. Ah, kurasa tak pantas pasangan setua itu bergandengan tangan terlebih dalam acara seperti ini.
Apakah itu nenek tiriku yang sering dibicarakan Mamak di telepon?
Seminggu setelah Nenek meninggal, Kakek langsung menikah lagi dengan seorang perempuan muda dan gendut. Tidak cantik menurutku kalau ini nenek baruku. Aku belum pernah bertemu. Aku cuma mendengar cerita kalau ketika menikah kakekku minta pemberkatan di gereja paling besar di kota ini dan ada perarakan ke gereja. Itu yang paling lucu menurut cerita Mamak, karena saat perarakan, deretan cucu Kakek sangat panjang ke belakang. Itulah awal mula pertengkarannya dengan Bapak.
Tapi, masa dalam acara begini pun mereka masih harus bermusuhan. Kuharap tidak ada pertengkaran di depan peti Uzi. HP-ku bergetar. Ada pesan dari Albert.
“Maaf Kak baru balas, aku sedang berada di luar kota. Mungkin besok aku bisa datang. Maaf Kak.”
Denger itu, Zi. Vidi Aldiano kamu.
Mamak memanggilku dan berbisik sesuatu. “Kakak kalau disuruh dekat-dekat Nenek jangan mau, ya, dia itu punya jin.”
Aku menggaruk-garuk kepalaku, tak mengerti. Sementara dari jauh Bibi memanggilku. Aku mendekat dengan takut-takut. Mamak pun tak mungkin melarangku karena ada sekian banyak orang di sini.
“Kakak, ke sini,” Bibi memanggilku kesekian kalinya. Tak jauh dari tempat kami duduk kulihat Bapak menangis histeris.
Bapak mencengkeram baju Kakek. “Bapak, lihat ini, anakku mati Pak, lihat!”
Dan Kakek tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Bapak, lihat cucumu yang paling kecil, sudah pergi!”
Kakek menangis. Aku kembali melihat wajah Bibi dan nenek baruku.
“Kakak, ini nenek kita!”
Perempuan itu langsung memelukku tanpa basa-basi. Pelukannya kencang sekali. Aku merasakan tubuhku melayang dan aku ambruk.
***
Saat terbangun aku berada di samping peti mati dengan Mamak menangis di sampingku. Aku tak tahu berapa lama aku pingsan.
“Kan sudah Mamak bilang jangan dekat-dekat perempuan iblis itu,” katanya di telingaku.
Aku tak paham. Sepupuku membantuku duduk, aku menoleh ke sekeliling. Aku tak lagi menemukan Kakek.
“Kakek di mana?” kataku.
“Dia sudah pulang bersama istrinya,” kata Abang.
“Kok, cepat?”
Mamak memberi kode agar aku jangan bertanya lagi. Aku diam dan memandangi lagi peti mati di hadapanku. Sesekali kubuka HP-ku, namun tak ada lagi pesan dari Albert. Terserahlah.
Jam lima sore upacara adat selesai. Ada pemberitahuan bahwa peti akan ditutup. Sebelum peti ditutup, Mamak dan Bapak memasukkan uang di bawah bantal Uzi.
“Buat jajan,” kata Bapak.
Semua barang kesayangannya juga turut serta. Sepatu high heels, buku pelajaran, tas, bahkan kamus juga buku-buku pembahasan soal.
Ya, barangkali dia akan belajar menghadapi ujian masuk ke kampus negeri di sana. Terkadang dalam keadaan berduka, apa pun bisa kau lakukan dan semuanya benar. Semuanya sah.
Bahkan Esa memasukkan mainan kesayangannya. Kalau-kalau Bibi Uda merindukanku, begitu katanya.
Aku mendesah. Pasti begitu.
Setelah kami semua menciuminya, peti ditutup dan dipaku di pinggirnya sehingga siapa pun tak bisa lagi membuka. Hanya Tuhan yang akan membukanya di sana.
Paku saja yang kuat biar Tuhan kepayahan membukanya. Beri Tuhan pekerjaan lain agar dia tak cuma bisa menyusahkan manusia. Beri dia kesibukan lain agar dia punya kegiatan selain mengambil nyawa orang yang sedang sibuk-sibuknya belajar keras, meski dalam kemiskinan. Beri dia sesuatu untuk dipikirkan selain bagaimana caranya membuat manusia menangis dan kemudian merengek.
Setelah peti ditutup dan diberi paku yang banyak di sekelilingnya, beberapa orang mulai mengangkat peti itu dan kami berjalan beriringan di belakangnya sambil menyanyikan lagu-lagu gereja. Aku menyanyikan dengan asal, selain capek juga membosankan. Sepanjang jalan Esa berteriak tak henti.
“Bibi Uda melihatku dan dia bilang aku ganteng. Bibi Uda melihatku dan dia bilang aku ganteng,”
Mamaknya menutup mulutnya. Anak itu hanya diam sebentar, kemudian mulai ribut lagi.
“Bibi Uda bilang aku tampan.”
Semua orang saling berpandangan, berarti Esa melihat roh Uzi. Mungkin saja dia sedang berada di sampingnya dan mengajak ngobrol keponakan kesayangannya itu.
***
Doa-doa dilantunkan sebelum peti itu ditutup dengan bata lalu disemen. Aku tak mengucapkan doa dengan serius. Mulutku mengucapkannya dengan asal saja. Kalau memang Tuhan itu ada, pasti Uzi masuk surga, kok. Tuhan pasti kesulitan menemukan alasan untuk menolak adikku di tempat yang katanya paling indah itu. Kalaupun dia masih punya alasan, itu pasti alasan yang dicari-cari. Dia kan Tuhan, mesti pintar bikin skenario.
Setelah doa-doa panjang dilantunkan, peti dimasukkan dan beberapa tukang langsung menyusun bata dan kemudian melapisinya dengan semen. Aku menatap ke langit yang mulai gelap.
Ini adalah malam pertama Uzi di tempat ini. Tempat yang dipenuhi banyak makam. Alasan Mamak memilih makam ini adalah karena tempatnya ramai. Bapak sempat mengatakan bagaimana kalau makamnya dibuat di samping ladang saja biar gampang mengunjunginya. Tapi, kata Mamak, kalau di dekat sawah nanti dia enggak punya teman.
Sekali lagi, orang berduka tak pernah salah.
Mungkin betul, di sini dia akan bertemu banyak arwah lain. Termasuk arwah paman dan bibi-bibiku.
Ketika kami pulang, Esa kembali melambai. Aku menepuk jidatku.
“Berhentilah bermain-main kalian,” gerutuku.
Tapi, dua orang itu tetap saling melambai. Terlihat dari gerakan tangan Esa yang tak berhenti sampai kami menghilang di tikungan jalan.
“Bibik Uda, kok, enggak ikut pulang?”
“Dia mau tinggal sama Tuhan,” kata Mamak singkat.
Esa mengangguk. Mamak berpikir kalau jawabannya adalah jawaban yang mampu membuat bocah kecil itu diam, ternyata Mamak akan menyesali jawaban itu kemudian.
***
Kami baru selesai makan malam ketika hujan turun. Beberapa tetangga pulang sebentar untuk mandi dan berjanji akan kembali lagi untuk menginap di rumah. Sudah biasa di sini kalau ada keluarga yang berduka maka tetangga lain akan menemani hingga tiga malam berturut-turut.
Mamak sedang rebahan di depan televisi. Namun, begitu mendengar suara guntur dia langsung duduk tegak. Sedangkan aku sibuk memegang gelas jamu yang disodorkan Bibi karena semenjak sore perutku mulas, mungkin karena masuk angin juga.
Dari aromanya saja jamu itu sudah tak enak, apalagi rasanya. Tapi, Bibi terus memandangiku. Saat aku bersiap-siap untuk minum jamu itu, Mamak tiba-tiba duduk dan berteriak keras karena mendengar suara guntur di langit. Kupandangi wajahnya dan jamu itu urung kuminum. Aku meletakkan kembali di lantai. Di luar dugaanku, Mamak tiba-tiba menangis lagi.
“Hujan, kedinginan pasti Adek di sana.” Katanya, terisak.
“Enggak pula, cuma badannya yang ada di makam, bukan rohnya,” kata Bapak santai.
“Iya, tapi tetap saja dia kedinginan, kesepian,” Mamak membantah.
Perempuan tak pernah mau salah.
“Ya, kalau dia kedinginan paling pulang ke rumah, tidur di kamar,” kata Bapak tertawa kecil, seolah-olah Uzi itu cuma pergi ibadah ke gereja dan dia enggak bisa pulang karena hujan.
“Selimutnya belum dikeluarin,” kata Mamak, lalu pergi ke lemari dan mengambil selimut kesayangan Uzi. Selimut itu diletakkannya di kamar. Tak lupa ia mengganti sarung bantal dan guling.
“Iting*, itu selimut buat siapa?”
“Buat Bibi Uda,” jawab Mamak pendek.
“Bibik Uda yang sudah sama Tuhan?” katanya lagi. Mamak pasti mati kutu menjawabnya, buktinya ia tak menjawab, hanya pura-pura sibuk dengan sarung bantal.
Aku dan Bapak hanya berpandangan. Mamak rupanya serius dengan gurauan itu.
Setelah itu dia kembali duduk di depan teve dan menyelimuti tubuhnya.
“Hujan cepatlah kau berhenti, kasihan anakku,” katanya menggerutu.
Bapak tak lagi menjawab, ia hanya sibuk dengan rokoknya. Aku kembali mengambil gelas berisi jamu.
“Bibi tengah, itu apa?”
Keponakanku satu itu tak bisa diam. “Jamu. Pahit,” kataku.
“Biar apa?”
“Biar sehat.”
“Kok, Iting enggak minum biar sehat?”
“Gimana kalau kau saja yang minum.”
Aku menyodorkan jamu dan memasang mimik pahit dan tak enak. Dia ikut merengut dan menjauhiku, lari ke pangkuan Bapak.
“Bulang*, aku mau dikasih jamu,” katanya mengadu.
Huh, tukang mengadu, persis Uzi.
“Makanya tidur, biar enggak dikasih jamu,” kata Bapak.
Dia mengambil bantal di kamar dan tidur di samping Mamak. Mereka berdua saling berpandangan, kemudian berpelukan dengan mesra sebelum akhirnya terlelap. Bapak masih saja merokok sambil memijit keningnya dengan jari jempol, matanya terpejam. Mungkinkah dia masih memikirkan Kakek?
Ah, sudahlah. Besok saja dipikirkan. Kutenggak sampai habis jamu itu. Pahitnya menempel di pangkal lidah.
***
Keesokan paginya datang seorang lelaki muda di depan rumah kami. Lelaki muda yang sedikit mirip Vidi Aldiano.
Harus kuakui, Zi.
Tapi, lelaki muda mirip Vidi Aldiano itu datang bersama dua orang perempuan yang salah satunya kucurigai sebagai pacarnya.
“Ayo, masuk,” kataku mempersilakan mereka.
Sengaja tak kukasih tahu Mamak kalau ini Albert, bisa-bisa mengamuk dia.
“Kenapa kemarin enggak datang?” kataku. Dia tak tahu kalau Uzi merindukannya siang malam, bahkan sebelum mati pun masih mencari-cari.
“Aku yang pegang HP-nya Albert, Kak,” kata perempuan berambut lurus sebahu yang tadi mengenalkan diri sebagai Deby.
“Kamu enggak ngasih tahu Albert?” tanyaku curiga.
Gadis itu diam. Suasana di antara kami sedikit tegang. Untung Esa datang mengantar minum. Dia membawa satu gelas teh hangat dengan sangat hati-hati seperti membawa telur. Aku menerimanya sambil tertawa.
“Kok, satu saja, tigalah, Bang.”
Tapi, dia malah pergi ke luar karena di tangannya ada uang lima ribuan. Pasti jajan.
“Gimana kalau kita ke makam Uzi sekarang, Kak?” kata Albert takut-takut, sambil melirik gadis di sampingnya.
“Baiklah,” kataku. Kemudian aku beranjak mengambil payung dan jaket di belakang. Setelah itu kami berempat berjalan beriringan menuju makam.
“Memangnya Uzi cerita apa saja mengenai Albert, Kak?” kata Deby lagi. Sedangkan Albert hanya diam, bahkan tak berani bertanya kenapa Uzi meninggal mendadak.
“Dia hanya cerita kalau Albert itu sahabatnya,” kataku berbohong. Dan perempuan itu memang tampak tak percaya.
Di depan makam, kami lebih banyak diam. Albert juga tak kunjung bicara kalau tak kutegur. Dia sibuk memainkan bunga tabur di makam Uzi.
Aku mengusap dinding makam yang basah.
“Ayolah Bert, katakan sesuatu.”
Albert mengangkat kepalanya perlahan dan mendekati salib kayu. Ia mengusap-usap salib itu.
“Ini aku, Zi. Maaf terlambat. Sekarang kamu sudah boleh pergi dengan tenang. Maaf kalau aku ada salah. Lepasin semuanya, ya, biar kami di sini juga tenang setelah ditinggal kamu,”
Dia menggaruk-garuk kepalanya dan menatapku. “Udah, Kak.”
Aku mendekap tangan di dada. “Itu, Vidi Aldiano udah datang, Dek. Janji Kakak sudah ditepati, ya.”
Pagi itu kami tutup dengan doa, maksudku teman-teman Albert. Aku tak mau berdoa. Malas amat. Biar Tuhan tahu, sadar kalau dia sudah jahat. Tuhan harus diberi pelajaran, itu prinsip yang kupunya beberapa hari ini.
Uzi pasti tak suka aku begini, biar saja. Siapa tahu dengan begitu dia punya niat untuk kembali dengan alasan membuat kakaknya bertobat.
***
Roh Perantara
Kesehatan Mamak ambruk dan kami harus membawanya ke rumah sakit. Padahal, saat ini rumah sakit adalah tempat yang mengerikan bagi kami. Memasuki pelatarannya saja sudah membuat mual, melihat dokter tambah pusing, apalagi harus masuk ke kamar-kamarnya. Namun, semuanya harus dilakukan karena Mamak harus dirawat sampai beberapa hari.
Aku duduk di pinggiran ranjang memandangi wajah Mamak yang pucat. Padahal, sudah kuniatkan untuk sebisa mungkin absen dari rumah sakit selama setahun ke depan.
Saat-saat beginilah aku kembali berpikir kalau akan lebih baik Uzi yang di sini. Aku yang menggantikan posisinya di sana. Menurutku, Uzi itu anak yang lebih berguna dan menyenangkan. Tidak pembangkang sepertiku.
Diam-diam aku menangis di kamar mandi dan kupanggili namanya. Kupanggili namanya dengan suara tertahan, takut kedengaran Mamak.
Aku tak tahu kalau setelah hari itu dia selalu datang sebab kukatakan kau tak boleh pergi, kau harusnya di sini.
“Kakak jangan menangis lagi, kan sudah janji sama Mamak,” kudengar suara Mamak dari luar. Dasar ibu-ibu, tahu saja kalau anaknya lagi nangis. Padahal, kan aku menangis nyaris tanpa suara.
Aku keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mengusap air mataku dan mengguyur wajahku dengan air.
“Kan sekarang sudah di rumah, masa enggak boleh nangis juga?”
***
Malam itu kami ke rumah seorang sahabat Mamak yang biasa menjadi perantara tempat datangnya roh keluarga yang ingin menyampaikan sesuatu.
Kami dapati beliau sedang tidur berselimut tebal di depan televisi. Mendapati kami datang, dia tersenyum dan berkata, “Sudah kuduga!”
Aku tak paham maksudnya, tapi kuikuti saja Mamak duduk di sampingnya.
“Dari kemarin badanku sudah tak enak dan itu pertanda ada seseorang yang ingin bicara dengan keluarganya. Tapi, sampai tadi malam aku tak tahu siapa.”
Mamak mendengarkan dengan serius seraya meletakkan sebungkus rokok di depannya.
“Memang terkadang suka begitu, ada roh yang datang, tapi mereka tak mengatakan mau bertemu siapa. Kadang-kadang sampai harus kukatakan hadirlah dalam mimpi dan katakan sesuatu.”
Dia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Dan barusan aku mimpi Uzi,” katanya, lega.
Mamak bukan orang yang tak percaya Tuhan, tapi dia juga tak bisa melepaskan diri dari hal-hal macam begini. Kalau Bapak memang sama sekali tak mau berurusan dengan hal macam begini, walau akhir-akhir ini dia juga makhluk yang murtad karena hilang kepercayaan sama Tuhan.
Awalnya aku juga tak percaya dengan Bibi Tambar. Tapi, setelah melihat kesungguhan ucapannya, aku mulai percaya kalau roh manusia itu benar-benar ada di sekeliling kita dan sesekali ingin mengungkapkan sesuatu yang belum sempat disampaikan semasa hidup.
Apa kira-kira yang akan dikatakan Uzi. Yang pasti bukan masalah Albert karena masalah itu sudah beres.
Kami menunggu dengan hati berdebar-debar.
Bibi Tambar mengambil rokok yang kami bawa dan kemudian menyalakannya. Sebelum mengisapnya, dia berpesan, “Nanti kalau Uzi sudah masuk ke tubuhku kalian bicaralah sesuka kalian. Waktunya enggak banyak, dan saat itu aku enggak akan tahu apa-apa, jadi lakukanlah sesuka kalian.”
Mamak mengangguk dan entah kenapa aku merasa sedikit seram. Walaupun itu roh adikmu sendiri, kau pasti bisa merasakan ketakutan juga. Percayalah.
Rokok itu diisap, diembuskan, diisap, diembuskan hingga ketiga kali baru kemudian dia mengulet panjang dan suaranya tiba-tiba berubah. Tubuhku kaku. Ini pertama kalinya aku merasakan. Sungguh.
“Mamak, ini Adek, Mak… kangen kali aku sama kalian.” kata suara itu. Bibi Tambar merentangkan tangan, Mamak langsung memeluknya. Aku masih bingung ketika tangan itu ikut merengkuhku.
“Jangan nangis lagi kalian, berjanjilah.”
Aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“Bapak sering nangis sembunyi-sembunyi, Mamak juga. Bapak nangis di depan komputer, Mamak nangis di kamar, Kakak nangis di kamar mandi.”
Kok, dia bisa tahu, kalau ini bukan roh Uzi.
“Kau bahagia enggak di sana?” kata Mamak lagi.
“Bahagia, ada banyak kawan, ada Nenek, Paman dan Bibi. Mereka suka ngasih uang jajan.”
Aku tersenyum, meskipun ini terdengar aneh. Tapi, kalau yang berbicara itu roh adikmu, kau tak punya alasan untuk membantah. Serius.
“Sudah, ya, jangan lagi nangis, aku harus pergi. Waktuku tak banyak. Kakak jangan lupa ambil jaket hitamku yang di Lampung. Pakai itu kalau Kakak lagi kangen samaku.”
Iya, jaket itu masih tertinggal di kamar kos bersama barang-barang yang belum sempat dibereskan.
“Berjanjilah, jangan lagi mau tinggal di sana, tempat itu amat mengerikan. Sungguh. Tempat kos kita amat mengerikan.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Sudah, ya. Aku harus pergi, baik-baik kalian. Jangan menangis lagi,”
Bibi Tambar mengulet sekali lagi, lantas diam. Sekejap kemudian dia mengangkat kepala dan tersenyum, tampaknya itu bukan lagi Uzi.
“Gimana, sudah ngomong kalian?”
Benar kan, suaranya sudah berbeda lagi. Kami sudah berjanji tak akan menangis lagi. Sesekali masih kami ingkari, tapi aku tahu hatiku sudah benar-benar ikhlas. Tuhan bisa memanggil kapan pun kita mau. Berkemaslah! (Tamat)